5.773 kasus HIV di NTT, Wagub Minta KPA Bekerja Lebih Cepat

berbagi di:
Wakil Gubernur NTT Josef A Nae Soi (tengah) menyampaikan pandapat saat Rapat Koordinasi (Rakor) Enam Bulanan KPA Provinsi NTT di Ruang Rapat Gubernur, Gedung Sasando, Selasa (6/11). Tampak hadir pula Sekretaris KPA NTT dr Husen Pancratius (kiri) dan Karo Kesra Setda Provinsi NTT Bartol Badar.

Wakil Gubernur NTT Josef A Nae Soi (tengah) menyampaikan pandapat saat Rapat Koordinasi (Rakor) Enam Bulanan KPA Provinsi NTT di Ruang Rapat Gubernur, Gedung Sasando, Selasa (6/11). Tampak hadir pula Sekretaris KPA NTT dr Husen Pancratius (kiri) dan Karo Kesra Setda Provinsi NTT Bartol Badar.

 

 

Sampai dengan Juni 2018 tercatat 5.773 kasus HIV/AIDS di seluruh NTT. Kategori terinveksi virus HIV ada 2.769 orang dan yang mengidap AIDS 3.004 orang. Sementara yang meninggal karena kasus ini sejumlah 1.326 orang.

Berdasarkan data itu, Wakil Gubernur (Wagub) NTT Josef A Nae Soi (JNS) meminta Komisi Penanggulan AIDS (KPA) Provinsi dan Kabupaten/Kota se-NTT untuk bekerja lebih cepat dalam mencegah dan mengatasi HIV/AIDS. Kerja sama lintas sektoral harus terus diupayakan dalam menyelamatkan generasi muda dari virus mematikan ini. Apalagi, saat ini ada 5.773 kasus HIV di seluruh NTT.

“Kasus HIV/AIDS di Indonesia sudah sangat tinggi. Provinsi NTT sendiri sudah masuk kategori lampu merah. Penyebarannya cukup merata di seluruh Kabupaten/Kota dan sebagian besar terjadi pada orang usia produktif, ” jelas
Wagub JNS saat memberikan arahan dan membuka kegiatan Rapat Koordinasi (Rakor) Enam Bulanan KPA Provinsi NTT di Ruang Rapat Gubernur, Gedung Sasando, Selasa (6/11).

Menurut JNS, data penderita HIV/AIDS di NTT sudah sangat mengkhawatirkan. Sampai dengan Juni 2018, ada 5.773 kasus di seluruh NTT. Kategori terinveksi Virus HIV ada 2.769 orang dan yang mengidap AIDS 3.004 orang. Yang meninggal karena kasus ini sejumlah 1.326 orang.

“Dalam visi NTT Bangkit Menuju Sejahtera, saya meminta kita semua bekerja lebih cepat dalam menanggulangi masalah kemanusiaan ini. Penting dapatkan data secara rinci, ‘by adress dan by name’ dari pengidap agar dapat diobati. Juga untuk tindakan pencegahan,” harap Ketua Harian KPA NTT ini.

Dalam rapat perdana bersama bersama jajaran KPA Provinsi dan Kabupaten/Kota serta mitra, JNS menekankan tiga dimensi dalam penanggulangan HIV/AIDS. Dalam dimensi idealis, penyakit ini berbahaya serta tidak baik dari segi agama dan etika. Namun dalam dimensi realis, prilaku menyimpang tetap terjadi dan cenderung meningkat.

“Dalam dimensi fleksibilitas atau penanganan, kita perlu cari langkah-langkah konkret. Dimensi ideal digabungkan dengan realistis sehingga bisa capai apa yang kita harapkan,” jelas JNS.

Lebih lanjut, Wagub mengungkapkan perlu upaya responsif secara bersama. HIV/AIDS bukan hanya jadi urusan sektor kesehatan tetapi harus lintas sektoral.

“Ke depan, saya harapkan kita selalu berkomunikasi dengan pemuka agama. Supaya mereka juga bisa berikan konseling, penjelasan dan bimbingan kepada masyarakat. Begitupun dengan tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan perempuan yang memiliki pengaruh atau konsen dengan generasi muda, ” harap Wagub.

Sementara itu, Imelda Manurung, Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Undana mengungkapakan, dari penelitiannya tentang HIV/AIDS di NTT sejak 2015 ditemukan peran pemuka agama sangat penting dalam pencegahan dan penanganan masalah ini. Juga pentingnya peran keluarga dalam pencegahan prilaku seks sesama lelaki atau gay.

“Dalam penelitian saya lainnya tentang prilaku seks di kalangan remaja khususnya anak SMA di Kalabahi dan Kota Kupang, ditemukan sebagian besar remaja sudah melakukan hubungan seksual. Bukan saja pegang tangan atau ciuman. Faktor utama yang dorong mereka berbuat hal ini adalah media sosial,” jelas Imelda.

Selanjutnya, salah satu peserta yang adalah ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) mengharapkan agar mereka diberi ruang dan waktu yang lebih luas untuk berkiprah.

“Kami berharap dengan kepemimpinan bapak berdua, teman-teman saya khususnya yang masih muda dapat diberi kesempatan besar untuk bekerja. Karena kami tidak berbahaya, “harap peserta ODHA tersebut.

Tampak hadir pada kesempatan tersebut Sekretaris KPA NTT, dr Husen Pancratius, Kepala Biro Kesra NTT, Kepala Biro Humas NTT, perwakilan KPA Kabupaten/Kota se-NTT, Badan Narkotika Nasioanal (BNN) NTT, RSUD WZ Johanes, RS Bhayangkara, RS Wirasakti, LSM yang bergerak di bidang HIV/AIDS, komunitas pegiat HIV/AIDS,Mahasiswa FKM undana serta undangan lainnya. (*/cal/C-1)