Akses Masuk SLB Negeri Perlu Ditingkatkan

berbagi di:
img20190215122258

 

 

Beverly Rambu

Akses masuk bagi siswa berkebutuhan khusus di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri perlu ditingkatkan. Karena itu, SLB Negeri perlu mendapatkan dukungan memadai dari Pemerintah Pusat dan daerah.
Hal itu disampaikan Pemimpin Umum Victory News Chris Mboeik saat menjadi narasumber dalam kegiatan literasi media bagi para guru dan pendidik di SLB Negeri Pembina Kupang, Jumat (15/2).

Menurutnya, banyak anak berkebutuhan khusus di Kupang dan NTT yang layak mendapatkan pendidikan terbaik di SLB Negeri sama halnya dengan siswa normal.

“Saya yakin banyak yang butuh hanya belum dapat akses masuk ke SLB negeri karena informasi, kurang edukasi karena banyak orangtua yang masih malu, atau fasilitas kita di SLB yang terbatas sehingga tidak bisa menampung banyak siswa,” ujarnya.

Ia mengatakan akses dan kualitas SLB Negeri yang baik mampu membantu masyarakat untuk menyekolahkan anak berkebutuhan khusus karena lebih terjangkau dibandingkan SLB swasta.

Chris mengakui, pantauan media di lapangan menggambarkan perhatian untuk SLB dan pengajar siswa disabilitas masih minim dibandingkan sekolah formal. Pendidikan inklusi selalu jadi wacana tapi dalam praktek banyak kebijakan yang belum terlaksana. Ada aturan namun implementasi di lapangan masih jauh dari.

Ia menilai, NTT juga membutuhkan sekolah khusus bagi para guru yang mengajar siswa berkebutuhan khusus agar ketrampilan dan kompetensi mereka bisa digunakan untuk mendidik para siswa SLB.

Chris tak lupa mengajak para guru SLB untuk memanfaatkan media sebagai wadah berbagi informasi, edukasi dan menyuarakan tantangan atau masalah yang dihadapi agar bisa diketahui publik dan pemerintah sehingga bisa mencerahkan masyarakat terutama soal masalah anak disabilitas dan pendidikan inklusi.

“Gunakan media untuk menyuarakan hal yang perlu diperhatikan untuk dukung SLB jadi lebih baik. Pemerintah terbatas tapi kalau persoalan tidak pernah diangkat, disuarakan maka akan hilang. Berani menyuarakan persoalan. Apalagi ini sekolah negeri, pemerintah punya tanggung jawab moral untuk perhatikan,” kata Chris.
Manajemen Satu Atap
Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) Negri Pembina Kupang Edi Wahon mengatakan SLB ini memiliki manajemen satu atap. SD dan SMP di Penfui. Sementara SMA di kompleks Dinas Pendidikan Provinsi NTT. Jumlah siswa seluruhnya 158 dengan 92 guru dan 22 tenaga pendidik untuk membina siswa tunanetra, tunagrahita, tunadaksa, tunarungu, dan autis.

Ia mengatakan salah satu tantangan yang dihadapi SLB yakni keterbatasan anggaran untuk meningkatkan kompetensi dan ketrampilan guru SLB Negeri yang rata-rata merupakan guru biasa tapi punya hati untuk melayani.

“Ada guru tunarungu mau kita ajukan ke provinsi tapi harus S1 dan tersertifikasi tapi belum ada kesempatan bagi mereka untuk lanjut karena biaya,” jelasnya.

Salah satu guru SLB Dani Abunome berharap media bisa membantu mempromosikan SLB kepada masyarakat dan membuka wawasan masyarakat bahwa anak berkebutuhan khusus juga butuh sekolah.

“Banyak masyarakat menganggap anak disabilitas adalah kutukan. Padahal keluarga yang dianugerahi anak berkebutuhan khusus karena Tuhan tahu mereka mampu,” ungkapnya.

Ia juga mengeluhkan anggaran untuk diklat guru mata pelajaran SLB dan diklat ketrampilan yang selalu ditolak padahal diklat dibutuhkan untuk meningkatkan kompetensi guru dan pelayanan kepada peserta didik.

“Di sini 90 persen guru punya pendidikan guru umum tapi karena panggilan kami mengajar di sini. Ini pelayanan, butuh hati dan perasaan untuk membina siswa. Kami butuh diklat supaya kami mampu melayani lebih baik,” ujarnya.
Guru lain, Yoel menambahkan kompetensi untuk SMP

60 persen ketrampilan 50 persen akademik, untuk SMA 70 persen ketrampilan 30 persen akademik. Namun, jam mengajar ketrampilan minim karena kompotensi ketrampilan guru terbatas dan tidak pernah ada diklat karena anggaran yang diajukan selalu tidak disetujui.

Selain itu ada asrama siswa yang dibangun sejak 2005 namun karena dana operasional tidak ada maka asrama macet hingga saat ini. Belum lagi kesejahteraan guru SLB masih belum diperhatikan.

“Awalnya kami dapat kesra sekarang tidak lagi,” ujarnya.

Ia berharap masalah-masalah ini bisa diangkat oleh media untuk diperhatikan publik dan pemerintah. (bev/R-2)