Anggaran Renovasi Lanjutan Stadion Oepoi Bertambah

berbagi di:
foto-hal-01-proyek-mangkrak-stadion-opepoi-220618

Kondisi Stadion Oepoi Kupang saat ini ditumbuhi rumput liar. Kondisi itu sangat memprihatinkan dan tidak bisa digunakan, termasuk perhelatan Piala Gubernur mendatang. Foto diabadikan, kemarin. Foto: Ryan Tapehen/VN

 

Ryan Tapehen

Pelaksana tugas Dinas Pemuda dan olahraga Mikael Fernandez, Jumat (29/6) mengatakan bahwa untuk pekerjaan lanjutan rehab Stadion Oepoi disinyalir bakal bertambah. Namun ia belum bisa mengungkapkan berapa nilai kontrak untuk pekerjaan lanjutan tersebut sebab masih di dalami oleh tim ahli.

Sampai saat ini pihaknya berupaya agar anggaran itu masuk dalam anggaran perubahan tahun 2018.

Dia mengakui untuk menambah anggaran itu sangat berhati-hati karena stadion tersebut saat ini sedang bermasalah. Apalagi diringa hanya pelaksana tugas.

“Pak Sekda sementara bentuk tim peneliti kontrak. kemarin kita sudah rapat dan kemungkinan kita sudah bisa dapat nilai akhirnya,” ungkapnya.

Mikael yang juga kini menjabat Asisten I Setda Provinsi NTT itu menilai itu proyek mangkrak dan ada beberapa item pekerjaan tambahan lagi sehingga nanti kalau jadi bisa lansung digunakan.
untuk itu, pihaknya terus berkoordinasi lintas OPD untuk meminimalisir kesalahan dalam pemghitungan dan penyususunan perencanaan pekerjaan lanjutan.

Apabila nilai akhir kontrak sudah didapat dan disetujui sekda, maka mereka akan segera mengajukan ke komisi V yang menangani pembahasan stadion ini untuk dibahas.

Soal lampu di stadion, kata dia, tidak mungkin dengan biaya Rp 1,6 miliar tidak bisa mencukupi karena ia mebandingkan dengan Stadion Marilonga Ende saja pekerjaan lampu mencapai Rp 7 miliar. “Lampu kok Rp 1,6 miliar ini
kita mau kerja apa. Pekerjaan lampu itu harus komplit mulai dari generator hingga instalasi dan bola lampu yang tentunya membutuhkan biaya lebih banyak,” cetusnya.

Sebelumnya, anggota komisi V DRPD NTT Anwar Hajral mengatakan, usulan anggaran untuk pekerjaan lanjutan rehab Stadion Oepoi oleh Dispora sudah pernah dijukan tapi ditolak oleh DPRD. “Sudah pernah diusulkan tapi tolak karena juga masih menunggu hasil audit internal pemerintah,” ungkapya.

Saat ditanya alasan mendasarnya, dia mengakui, usulan tersebut ditolak oleh DPRD karena mereka menilai anggaran 2017 yang dianggarkan untuk pekerjaan tersebut mubazir.
Apalagi proyek tersebut merupakan proyek usulan DPRD dan mereka sendiri juga turun lansung mengawasi pekerjaan tersebut, maka dengan menolak itu juga Dewan beranggapan bahwa pemerintah tidak mampu menyelesaikan pekerjaan itu.

Lebih lanjut saat ditanya apa pekerjaan rehab lanjutan itu akan masuk di anggaran perubahan atau anggran murni 2019 nanti, ia mengatakan, bahwa bisa jadi tidak bisa masuk di anggaran perubahan.

“Sampai sekarang belum ada laporan dari pemerintah terkait hasil audit internal. jadi belum ada info,” tukasnya. (mg-14/C-1)