Anggota DPRD NTT Diduga Gelapkan Mobil

berbagi di:
ilustrasi penggelapan mobil

 
Anggota DPRD Provinsi NTT dari Fraksi PKB, Novianto Pati Lende, dilaporkan ke Polda NTT Sabtu (29/7) oleh LBH Universitas Karyadarma mewakili korban Daniel Umbu Dandar atas kasus penggelapan mobil Toyota Fortuner milik Daniel.

Novianto dinilai tidak memiliki niat baik untuk melakukan melunasi sisa pembayaran cicilan dari harga mobil yang disepakati yaitu Rp 300 juta sejak tahun 2015 lalu. Novianto hanya tercatat pernah sekali menyicil yaitu sebesar Rp 50 juta.
Juru Bicara Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Universitas Karyadarma Amos Lafu yang didampingi Ketua LBH Obed Djami dalam jumpa pers, Minggu (29/7) petang, mengisahkan peristiwa jual beli ini bermula ketika Daniel Umbu Dandar ingin menjual mobil Toyota Fortunernya seharga Rp 300 juta pada Desember 2015.
Novianto Pati Lende yang adalah menantu dari Daniel Umbu Dandar kemudian datang dan menawarkan diri untuk membeli mobil tersebut.
Harga yang disepakati senilai Rp 300 juta dengan sistem pembayaran secara cicilan. Cicilan pembayaran pertama oleh Novianto terjadi tanggal 15 Desember 2015 sebesar Rp 50 juta.
“Kesepakatan pembelian tersebut hanya secara lisan karena melihat masih ada hubungan kekerabatan antara Novianto dan Daniel (sebagai menantu dan mertua),” ungkap Amos Lafu.

Pada bulan Januari 2016, Novianto menghubungi Daniel untuk meminta BPKB untuk keperluan balik nama kepengurusan mengganti plat nomor kendaraan. Mobil tersebut sudah berada pada tangan ketiga (dibeli Novianto) sementara tangan pertama (pemilik kendaraan) adalah warga Makassar bernama Haji Muhammad Amir TK. “Dalam perjalanan, setelah memberikan BPKB, ternyata klien saya mendengar di mana-mana Novianto mengatakan ini mobilnya,” kata Amos.
Selanjutnya, kliennya Daniel melihat tidak ada itikad baik dari Novianto untuk melakukan pembayaran lanjutan. “Sampai setahun lebih ini pelaku tidak bisa dihubungi untuk melakukan pembayaran,” kata Amos.
Karena sulit dihubungi, Daniel mengutus adiknya untuk datang ke Kupang mengambil kembali mobil serta mengembalikan uang yang telah diberikan Novianto saat cicilan pertama. Akhirnya Novianto bertemu dengan adik Daniel dan membawa kembali mobil tersebut ke Sumba Barat.
Namun ketika sudah tiba di Pelabuhan, Noviano menelpon Polisi KP3 Laut Tenau untuk menahan mobil tersebut.
“KP3L kemudian menelpon Polres Bau Bau untuk menahan mobil untuk kepentingan penyelidikan dan sudah tiga kali klien saya datang dari Sumba Barat untuk menyelesaikan persoalan ini,” jelas Amos.
Ia menambahkan, mobil kliennya sudah ditahan sejak Maret 2017 lalu. Namun tidak ada tanda-tanda akan diserahkan oleh polisi. “Namanya penyitaan harus ada konfirmasi dari pengadilan tinggi. Tapi polisi tidak mau mengeluarkan mobil tersebut dengan alasan nanti kedua belah pihak saling mengklaim bahwa itu miliknya,” tambahnya.
Oleh karena itu, LBH akan mempertimbangkan segala aspek hukum untuk melakukan pra peradilan kepada Kapolres Kupang.

Sementara Noviyanto Umbu Pati Lende ketika dikonfirmasi VN mengatakan sebenarnya surat-surat kendaraan mobil diberikan sendiri oleh Daniel untuk mengurus balik nama dan administrasi lain dan bukan karena diminta oleh dirinya.

Selain itu, saat mobil diambil oleh adik Daniel, ia mengaku tidak berada di rumahnya karena sedang reses di Sumba. “Itu mereka curi mobilnya. Saya sedang reses di Sumba. Mereka datang dengan modus mau pinjam mobil untuk ambil atribut partai di PAN, tapi nyatanya mobil itu dibawa ke pelabuhan,” kata Noviyanto.

Menjawab VN terkait proses hukum yang telah ditempuh mertuanya, ia menyatakan siap apabila dipanggil penyidik karena ia pernah memberikan keterangan ketika mobil tersebut diamankan oleh Polres Kupang di Bau-Bau.

“Saya siap saja. Tetapi apabila dia (Daniel) tempuh proses hukum, bisa-bisa dia juga dapat ditetapkan sebaga tersangka karena mencuri mobil di rumah saya dengan modus seperti itu,” jelasnya

Novianto menguraikan mobil tersebut bisa ditahan Polres Kupang karena ketika dibawa ke pelabuhan, adik Daniel tidak bisa menujukkan surat-surat kendaraan yang diminta petugas di pelabuhan.

“Mereka tidak bisa tunjuk surat-surat karena itu ada di saya dan mereka sebut-sebut nama saya sehingga pihak kepolisian telepon saya dan saya juga minta untuk mobil itu diamankan di polres saja,” kata Novianto.
Terkait pelunasan cicilan pembayaran mobil, ia berencana akan melunasi pada akhir bulan April. Namun namun tanggal 13 April, mobil dicuri oleh adik Daniel. Dia juga tidak keberatan diselesaikan dengan jalan damai. Namun dengan syarat, uang cicilan pertama yang ia bayar harus dikembalikan. (mg-14/M-1)