ASN versus Kapitalis

berbagi di:
Barisan ASN Pemprov NTT yang menggunakan rompi oranye. Foto: Nahor Fatbanu/VN

ASN di NTT menggunakan rompi oranye karena tidak disiplin.

 

Jangan bilang ideologi Pancasila yang terbaik, jika masih bekerja di bawah standar. Jangan memakai seragam ASN, jika tidak disiplin. Disiplin adalah kunci kemajuan!
Suatu ketika sekelompok aktivis mahasiswa mengadakan sebuah seminar bertema: Melawan Kapitalisme. Dalam agenda, seminar dimulai pukul 16.00. Namun, seminar itu baru dimulai pukul 18.00.

Seorang profesor jebolan Jerman, salah satu pembicara, berada di lokasi seminar pada pukul 15.30. Dengan nada kesal, ia memulai pembicaraannya dengan pernyataan sinikal yang menggigit dan mendiamkan seluruh audiens.

Ia bilang begini “Lampu, AC, dan fasilitas lainnya dalam ruangan ini dinyalakan sejak pukul 15.30. Kita telah memboroskan energi selama dua jam lebih lama ketimbang kaum kapitalis, yang selalu bekerja dengan ukuran cermat. Melawan kapitalisme dengan ethos kerja model ini? Go to hell wahai kalian, kaum anti kapitalis!”

Kejadian itu pas dipantulkan pada etos kerja aparatur sipil negara (ASN) di negeri ini.

Ada kabar menarik datang dari Provinsi NTT. Pada apel perdana 2019, ratusan ASN di lingkup Pemprov NTT dikenai sanksi indisipliner. Mereka dikenakan rompi oranye bertuliskan “Saya Tidak Disiplin”. Ini bagus dan baru di NTT.

Ini menjadi semacam pemberian shock therapy dari Gubernur-Wagub, Viktor Bungtilu Laiskodat-Josef Nae Soi, untuk para ASN lingkup Pemprov NTT yang tidak disiplin. Namun, di balik itu bersemayam perintah keras dan serius, yakni perombakan ethos kerja.

Omongan profesor si pembicara dalam seminar di atas tepat adanya. Ia membandingkan betapa Jerman maju karena disiplin. Jepang menjadi macan Asia karena disiplin. Negara mini Singapura menjadi terkuat di ASEAN karena disiplin kerjanya.

Singkatnya, hanya bangsa disiplin berpeluang maju. Disiplin pangkal kemajuan. Demikian halnya gebrakan Pemprov NTT. Menuju kemajuan, kebangkitan dan kesejahteraan membutuhkan ethos kerja tinggi.

NTT butuh kedisiplinan. Kesan dan pesan pelayanan minimalis di tubuh birokrasi tak terbantahkan. Kerja setengah hati, asal-asalan dan “main-main”. Jangan nekat “melawan kapitalisme” jika tak mampu bekerja seperti kaum kapitalis, dimana waktu adalah uang, kesempatan adalah emas dan jaringan adalah kehidupan.

Jangan bilang ideologi Pancasila yang terbaik, jika masih bekerja di bawah standar. Jangan memakai seragam ASN, jika tidak disiplin. Disiplin adalah kunci kemajuan!