Bangun Indonesia, Jangan Hanya Andalkan Intelektualitas

berbagi di:

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar memberi arahan saat membuka Rakor Pembekalan Caleg PKB di aula Hotel Sylvia Maumere, Rabu (10/10). Foto: Yunus Atabara/VN

 

 

Yunus Atabara
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar menegaskan Indonesia tidak bisa dibangun hanya dengan mengandalkan intelektualitas modern semata. Indonesia harus juga dibangun dengan spiritualitas lewat kegiatan keagamaan.

“Nasionalis dan agamis harus seiring sejalan dalam membangun bangsa. Kalau hanya dibangun dengan modern sudah sejak lama. Di mana zaman Pak Suharto, sudah banyak yang memiliki gelar professor doktor. Tapi kita butuh spiritualitas dalam membangun bangsa,” kata politisi yang akrab disapa Cak Imin saat membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Pembekalan Calon Legislatif (Caleg) PKB tingkat kabupaten, provinsi dan Pusat se-daratan Flores, Lembata, Alor di aula Hotel Sylvia Maumere, Rabu (10/10).

Menurutnya, sejak pertama berdiri, PKB merupakan partai nasionalis dan agamis dalam membangun bangsa. Nasionalis, orang yang menganut paham nasionalisme yang lahir dari rasa cinta terhadap negaranya. Semangat nasionalis dapat mewujudkan rasa cintanya terhadap negara dalam mengabdikan diri. Sedangkan agamis adalah orang yang dalam kehidupannya benar-benar menegakkan ajaran agama yang dianutnya dengan orientasi pengabdian kepada Tuhan melalui ajaran agamanya masing-masing.

Cak Imin mengatakan bangsa Indonesia membutuhkan kaum nasionalis karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan majemuk, tidak didominasi kelompok, budaya atau agama tertentu.

“Sebagai bangsa yang majemuk harus memiliki kepentingan dan pemikiran yang berbeda-beda. Untuk itu, nasionalisme dibutuhkan sebagai alat pemersatu. Sedangkan agamis dibutuhkan dalam membentuk bangsa yang bermoral dan berkarakter karena moral adalah modal utama untuk menjadi bangsa yang besar,” ujarnya.

Perbedaban yang ada akan menjadi sebuah kekuatan besar untuk membangun bangsa agar tidak mudah pecah-belah.

“Kader PKB harus memiliki rasa nasionalisme dan agamis. Urusan negara dan agama adalah suatu hal yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya adalah sebuah kekuatan yang besar dalam membangun bangsa, karena agama apapun pasti mengajarkan untuk membangun bangsa dan negaranya,” katanya.

 

Target 70 Persen
Cak Imin mengatakan PKB optimis bisa meraih 70 persen suara dalam Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden (Pilpres). Target itu berdasarkan potensi dan kualitas para caleg PKB dari kabupaten/kota, provinsi maupun DPR RI.

“Lihat saja para pendiri PKB termasuk Gus Dur ga punya apa-apa. Ga punya pesawat, ga punya koran dangan punya TV, yang lain pada punya semuakan,” kata Cak Imin yang disambut tepuk tangan para kader dan Caleg PKB.

Sementara Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo menegaskan PKB sangat berjasa dalam memenangkan Paket ROMA dalam Pilkada 2018. Selama 2,5 tahun kebersamaan PKB dengan paket ROMA.

“Kemana-mana bersama PKB untuk mendapatkan 63 ribu suara. PKB memiliki semangat yang begitu besar dan membuahkan hasil dengan terpilihnya Paket ROMA menjadi Bupati danWakil Bupati Sikka 2018-2023. Oleh karena itu, Paket ROMA akan selalu bersama PKB dalam Pileg 2019 mendatang.

Kalau PKB Sikka targetkan setiap dapil ada kursi, maka ada 4 kursi karena di Sikka ada 4 Dapil. Tetapi saya berjanji bahwa PKB akan mendapatkan 7 kursi. Keyakinan itu karena 80 persen Caleg PKB sudah 2,5 tahun bersama masyarakat Sikka,” katanya.

Hadir dalam pembekalan caleg PKB antara lain Sekjen PKB M. Hanif Dakhiri, Ketua PKB NTT Yucun Lepa, Ketua PKB dan pengurus tingkat kabupaten se-daratan Flores, Lembata, dan Alor serta caleg kabupaten/kota, provinsi dan Pusat. (nus/R-4)