Bangun NTT dari Desa

berbagi di:

Julie Laiskodat saat mengunjungi masyarakat di Desa Momol. Foto : Gerasimos Satria/VN

 

Gerasimos Satria

Ketua TP PKK Nusa Tenggara Timur, Julie Sutrisno Laiskodat mendorong masyarakat di Desa Momol, Kecamatan Ndoso, Kabupaten Manggarai Barat untuk aktif menata desa demi kesejahteraan masyarakat. Apalagi desa Momol merupakan desa yang memiliki potensial lahan pertanian.

Dorongan itu disampaikan Julie Sutrisno Laiskodat saat bertemu masyarakat adat Watu Motang, Desa Momol, Selasa (20/11) di Rumah Adat Watu Motang.

Julie berterima kasih kepada masyarakat Desa Momol yang telah mempercayakan Viktor Bungtilu Laiskodat dan Josef Nae Soi untuk memimpin NTT Lima tahun mendatang. Viktor Laiskodat juga telah melewati jalur menuju Ndoso pada bulan April 2018 lalu. Sehingga menjadi tanggungjawab Gubernur NTT yang baru untuk membangun wilayah Ndoso.

Julie yang menjabat sebagai Bunda NasDem itu menjelaskan dirinya sengaja turun ke desa-desa untuk melihat dan merasakan secara langsung apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Desa Momol menurutnya memiliki keunggulan untuk lahan tanaman komoditi pertanian seperti cengkeh, jagung dan kopi.

Namun, komoditi pertanian yang dimiliki oleh masyarakat Momol tersebut belum mampu mensejahterakan masyarakat.

“Petani belum mampu mengelola komlditi pertanian yang ada. Kopi yang dimiliki oleh masyarakat belum menghasilkan kualitas yang baik. Padahal kopi Manggarai sudah terkenal,” kata Julie.

Julie berjanji akan menurunkan tenaga ahli untuk melatih masyarakat membudidayakan komoditi pertanian. Tujua agar hasil komoditi pertanian masyarakat di desa mampu memperbaiki ekonomi masyarakat sehingga masyarakat sejahtera.

“Saya turun ke desa karena untuk mengecek secara langsung apa yang dibutuhkan oleh masyarakat desa. Serta apa yang menjadi keluhan masyarakat,” ujarnya.

Dia menambahkan kebutuhan masyarakat di kota ada di tangan masyarakat desa. Jika masyarakat desa tidak menjual tanaman holtikultura atau hasil bumi lainnya kepada masyarakat di kota maka masyarakat kota tidak dapat bergerak.

Sehingga masyarakat kota harus benar-benar menghargai dan memberi dorongan kepada masyarakat desa untuk terus mengoptimalkan potensi yang ada di desa.

Tokoh masyarakat Watu Motang, Agustinus Ganggus menitipkan pesan kepada Gubernur NTT untuk memperhatikan fasilitas SMA Negeri II Ndoso. Sekolah yang berlokasi di Desa Momol tersebut berdiri sejak tahun 2012 lalu namun hanya memiliki dua ruangan kelas. Padahal jumlah rombongan belajar sebanyak empat kelas.

Menurutnya, karema keterbatasan ruangan kelas, para siswa terpaksa mengunakan Kapela Stasi Ndoso untuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).

“Kami menitip pesan kepada Ibu Julie Sutrisno untuk memperhatikan fasilitas SMA II Ndoso di Desa Momol. Sangat disayangan sekolah SMA II Ndoso, ruangan kelas tidak ada, guru PNS hanya dua orang,” ungkap Agustinus.

Masyarakat Watu Motang lainnya, Bergias Weong menyampaikan Desa Momol adalah daerah yang memiliki potensi komoditi cengkeh. Petani mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai pendidikan dari menanam cengkeh. Namun akses transportasi menuju Labuan Bajo sulit.

Dia mengatakan jalur Golowelu,Kecamatan Kuwus menuju Labuan Bajo merupakan jalan provinsi. Jalan sepanjang ratusan kilometer tersebut rata-rata buruk dan memperihatinkan. Sehingga masyarakat lebih memilih melewati Kabupaten Manggarai jika hendak menuju Labuan Bajo.

Guru SMA Negeri II Ndoso ,Gordianus Hanggu juga menyampaikan kondisi SMA Negeri II Ndoso sangat memperihatinkan. Ruangan guru dan perpusatakaan tidak ada. Selain itu guru komite berjumlah 10 orang, sehingga membebani orangtua murid untuk membiayai gaji guru komite.

“Kami menitip pesan kepada Gubernur NTT untuk sampaikan kepada Kepala Dinas Pendidikan Propinsi NTT untuk memperhatikan fasilitas SMA Negeri II Ndoso,” harap Gordianus (bev/ol)