Bendungan Raknamo Rampung Lebih Cepat 15 Bulan

berbagi di:
palce

 

 

Mentri Koordinator Kemaritiman Luhut Panjaitan mengunjungi Bendungan Raknamo di Desa Raknamo, Kecamatan Amabi Oefeto Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, Senin (30/10) petang.

Luhut datang bersama Gubernur NTT Frans Lebu Raya untuk melihat perkembangan pembangunan bendungan. Sebelumnya tiba di Raknamo, Luhut bersama Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo melihat perkembagan produksi garam di Desa Bipolo, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang seluas 318 hektare.

Kepada wartawan, Luhut mengatakan pembangunan Bendungan Raknamo telah mencapai 98%.

“Dua persen lagi tinggal diresmikan presiden. Saya akan lapor kepada beliau,” katanya.

Dia mengatakan jadwal peresmian belum ditentukan karena masih disesuaikan dengan jadwal presiden.

Menurutnya pembangunan Bendungan Raknamo lebih cepat 15 bulan dari jadwal yang ditentukan semula yakni pada 2018. Bendungan Raknamo dibangun pada lahan seluas 245,39 hekare sejak 2015.

Air dari Bendungan Raknamo akan mengairi lahan pertanian seluas 841 hektaredan lahan potensial seluas 1.250 hektare. Bendungan ini juga menyediakan air baku masyarakat di wilayah itu mencapai 100 liter per detik dan pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) berkapasitas 0,22 Megawat.

“Ini membuktikan anak bangsa ini hebat, dan ini satu prestasi dari tim pembangunan bendungan Raknamo dan (Kementerian) PU Pera,” ujarnya.

Rakanamo menjadi bendungan pertama yang akan diresmikan Presiden Joko Widodo dari tujuh bendungan yang dibangun pemerintah di Nusa Tenggara Timur.

Menurut Luhut, pembangunan Bendungan Temef di perbatasan Kabupaten Timor Tengah Utara dan Timor Tengah Selatan juga dilakukan tahun ini. Bendungan Temef akan menampung air sebanyak 77 juta meter kubik, sedangkan bendungan Raknamo menampung 14 juta meter kubik air.

“Ini succes story yang diberikan oleh Presiden Joko Widodo,” kata Luhut.

Sementara itu di lokasi tambak garam Bipolo yang dikelola PT Garam, Luhut mengatakan pembebasan lahan untuk lokasi tambak garam tengah berlangsung.

Luhut minta pembangunan tambak garam di wilayah itu tidak boleh merugikan masyarakat setempat. Menurutnya selama ini penghasilan petani tanam padi sebesar Rp7 juta per tahun, namun jika menjadi petani garam, penghasilan petani meningkat sampai tiga kali lipat menjadi Rp30 juta per tahun. (OL-6)

 

Sumber: Media Indonesia