Bulog NTT Bantah Staf Oplos Beras

berbagi di:
beras-gudang-bulog

 

 

Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional (Divre) NTT membantah ada oknum pegawainya mengoplos (mencampur) beras premium dengan beras-beras lokal kemudian menjualnya dengan harga tinggi. Bila ada oknum atau pegawai melakukan hal itu, sudah pasti ditindak tegas.

Hal ini dikatakan Kepala Bulog Divre NTT Eko Pranoto yang menghubungi VN, Kamis (6/12). Dia mengatakan hal ini menanggapi rumor yang beredar bahwa ada oknum pegawai Bulog Divre NTT yang memanfaatkan kesempatan menjelang Natal dan Tahun Baru 2019 dengan mengoplos beras kemudian menjualnya dengan harga tinggi.

“Tidak ada staf yang oplos beras. Saya jamin kalau ada oknum yang melakukan hal itu, sudah pasti kami tindak tegas,” tandas Eko.

Bulog, kata dia, selain memiliki mekanisme pengawasan internal terhadap pengadaan beras yang didistribusi kepada masyarakat, juga ada pengawasan eksternal yang dilakukan tim dari Kementerian Perdagangan.

Masyarakat juga melakukan pengawasan dan jika menemukan ada beras yang dioplos dengan harga menyimpang bisa melaporkan kepada Bulog. Sebab, Bulog berfungsi sebagai stabilisator harga bila terjadi lonjakan harga kebutuhan pokok di masyarakat.

Untuk mengantisipasi melonjaknya harga menjelang Natal dan Tahun Baru, Eko mengatakan, pihaknya sedang menggelar operasi pasar di tiga pasar terbesar di Kota Kupang yakni Pasar Kasih Naikoten, Pasar Oeba, dan Pasar Oebobo. Operasi pasar juga dilakukan Bulog Sub Divre di masing-masing kabupaten.

Hingga awal Desember ini, Bulog NTT sudah menyalurkan 14.210 ton beras melalui operasi pasar (OP) di seluruh NTT. Penyaluran beras OP tidak dibatasi, dan ditargetkan sebanyak-banyaknya.
Disinggung soal ketersediaan beras di gudang Bulog NTT, Eko mengatakan, persediaan beras saat ini mencukupi kebutuhan hingga Maret 2019.

Sementara itu Kepada Bidang Pengadaan Bulog Divre NTT Alex Malelak juga membantah ada staf Bulog yang mengoplos beras kemudian menjualnya dengan harga tinggi.

Menurutnya, Bulog tidak mengenal istilah oplos. Yang dilakukan Bulog yakni mixing (campur) beras tetapi hanya untuk beras yang kualitasnya sama, seperti beras medium dengan medium, kemudian dijual dengan harga beras medium juga. Mixing ini dizinkan Polri melalui Satgas Pangan Nasional

“Tapi kalau beras medium dimixing (oplos) dengan beras premium kemudian dijual dengan harga premium, itu tidak boleh. ,” katanya.
Karena itu, lanjut dia, bila ada masyarakat yang menemukan kasus seperti ini bisa melaporkan kepada pihaknya.
Serap Komoditi Lokal
Alex mengatakan, Bulog Divre NTT juga menyerap beberapa komoditi lokal sepetrti beras dan bawang merah. Hingga saat ini pengadaan beras lokal sebanyak 1.500 ton dari sejumlah wilayah yakni Labuan Bajo, Ruteng, Bajawa, Ende, Maumere, Waingapu, Waikabubak, Kupang dan Atambua.

Sementara bawang merah lokal yang diserap Bulog sebanyak 5.400 kg (5,4 ton) berasal dari Malaka, Rote, Semau, Soe, dan Lembata.

Selain itu Bulog juga memiliki Program Rumah Pangan Kita (RPK) yang beranggota sudah mencapai 1.200 orang yang tersebar di seluruh NTT. Ini merupakan program binaan Bulog yang bertujuan menciptakan stabilisasi harga komoditi di pasar. (rif)