Bupati Disebut Legalkan Judi Berkedok Pasar Malam

berbagi di:
foto-hal-12-demo-nagekeo

Koordinator Lapangan (Korlap) FPPN Gusti Bebi berorasi saat demo penolakan judi berkedok pasar malam di halaman Kantor Bupati Nagekeo, Selasa (12/3).

 
Bernard Sapu

Bupati dan Wakil Bupati Nagekeo, Nusa Tenggara Timur disebut melegalkan judi berkedok pasar malam yang berlokasi di Lapangan Berdikari Danga, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.

Hal ini disampaikan oleh para pendemo dari Forum Pemuda Peduli Nagekeo (FPPN) yang menggelar orasi di halaman kantor Bupati Nagekeo, Selasa (12/3). Ironisnya banyak anak di bawah umur yang ikut bertaruh bola bergulir dan rolet ditemui arena tersebut.

Koordinator Lapangan FPPN Gusti Bebi dalam orasinya menyampaikan, ini merupakan keinginan Pemerintah Kabupaten Nagekeo di bawah kepemimpinan Bupati Johanes Don Bosco Do dan Wakil Bupati Marianus Waja untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Untuk meningkatkan PAD Bupati dan Wakil Bupati halalkan segala cara. Perjudian yang diharamkan akhirnya dihalalkan demi mendapatkan uang, serta menelantarkan putra dan putri daerah yang ingin bekerja sebagai tenaga harian lepas (THL) di Pemda Nagekeo,” ungkapnya.

Gusti menjelaskan, awalnya Pemkab Nagekeo melalui Kelompok Laskar Berdikari menyatakan pasar malam dibuka untuk masyarakat Nagekeo dapat berjualan kuliner tradisional yang berlokasi di dalam Lapangan Berdikari Danga. Ternyata tidak ada sama sekali para pedagang kuliner tradisional yang berjualan di dalam arena tersebut. Yang ada kegiatan perjudian saja.

“Lokasi Lapangan Berdikari Danga berada di pusat Ibu Kota Mbay, yang biasa digunakan untuk bermain dan berlatih sepakbola, namun lokasi ini sudah menjadi lokasi perjudian, dampaknya pasti sangat buruk dari segi sosial kehidupan masyarakat Nagekeo, pemimpin hanya mengorbankan masyarakat untuk kepentingan PAD dengan uang judi,” tegasnya.

Dalam orasinya ia mengatakan, Bupati Nagekeo Johanes Don Bosco Do saat melantik para kepala desa beberapa bulan lalu mengingatkan para kepala desa untuk jangan berjudi, sementara lokasi perjudian di lapangan berdikari Danga dengan Rujab hanya berjarak sekitar 200 meter. Tentunya Bupati sudah tahu, karena lokasi perjudian itu setiap malam dijaga oleh oleh para tim sukses bupati dan wakil bupati.

Aksi dari Forum Pemuda Peduli Nagekeo (FPPN) direspon secara baik oleh dua tokoh agama di Kabupaten Nagekeo. Pastor Paroki Stelamaris-Danga, Rm. Dominikus D Dowa, Pr membenarkan bahwa, pasar malam itu sebenarnya pasarnya masyarakat, yang gunanya menjual kuliner tradisional seperti jagung bakar, pisang goreng, ubi goreng, ikan bakar, dan pangan lokal lainya, bukan ajang untuk berjudi.

“Saya pernah masuk ke lokasi pasar malam itu, yang saya temui penjual jagung bakar hanya satu orang, tetapi tidak di dalam arena Lapangan Berdikari Danga, ternyata yang di dalam arena itu malah meja judi, dan banyak kalangan dewasa dan anak-anak pelajar yang bermain judi. Ini mau jadi apa daerah ini,” tuturnya.

Dominikus menambahkan, kondisi ini seharusnya pemerintah kabupaten sudah melakukan pencegahan dan jangan dibiarkan berlarut-larut. Pemerintah daerah, lanjutnya, sebetulnya sudah mengetahui, namun mereka sengaja tidak mau mengetahuinya. Bagaimana tidak, para pengunjung pasar malam ini khususnya di arena judi ini lebih banyak kalangan-kalangan itu-itu saja.

“Saya takut jangan sampai ada apa-apa dengan pasar malam itu, sebagai tokoh agama saya sudah sampaikan berulang kali di dalam gereja pada hari Minggu, namun apa artinya kami sebagai seorang imam yang berada di luar pemerintahan, tetapi hal ini telah merusak tatanan budaya serta norma-norma agama, saya berpikir semua agama mengajarkan demikian bahwa judi itu merusak,” imbuhnya.

Hal senada disampaikan Ketua MUI Kabupaten Nagekeo, H Yunus Mane Tima kepada VN ditempat terpisah. Dia meminta, kalau pasar malam itu hanya kamuflase untuk menutup kegiatan perjudian, sebaiknya ditutup saja.

“Bubarkan saja pasar malam yang berkedok judi tersebut, jangan merusak tatanan budaya dan norma agama di Nagekeo,” imbunya. (bro/S-1)