Bupati Mabar Minta Dinkes Serius Tangani DBD

berbagi di:
demam berdarah

 
Gerasimos Satria

Bupati Manggarai Barat (Mabar) Agustinus Ch Dula meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) untuk serius menangani masalah Demam Berdarah Dengue (DBD) yang menyerang masyarakat Kecamatan Komodo, Nusa Tenggara Timur sejak bulan September 2018 lalu. Pasalnya, hingga saat sebanyak tiga pasien telah meninggal dunia akibat diserang DBD.

Bupati Mabar Agustinus Ch Dula kepada wartawan, Minggu (2/12) sore mengatakan setelah ada korban jiwa akibat DBD, ia sudah memerintahkan dinas terkait untuk turun ke desa dan melakukan penangan DBD seperti fogging.

Terkait rusaknya alat foging milik Dinkes, Bupati Dula mengaku pihaknya melalui APBD Tahun Anggaran 2019 telah menganggarkan biaya untuk pengadaan alat fogging yang baru. Pemkab juga telah menyiapkan anggaran untuk pengadaan obat-obat DBD untuk disalurkan kepada seluruh Puskesmas di wilayah Mabar. Seharusnya kata dia, Dinkes Mabar tidak boleh memberikan alasan alat fogging rusak. Padahal untuk perbaikan alat fogging dapat dilakukan dengan mengunakan dana lainnya.

“Kita memang sedang darurat DBD, saya sudah minta pihak Dinkes untuk bersama petugas kesehatan yang berada di Puskesmas untuk turun ke tengah masyarakat untuk melakukan pembersihan lingkungan dan cara masing-masing agar DBD berkurang,” ujar Bupati Dula.

Warga Kelurahan Wae Kelambu, Srilus Ladur meminta Dinkes Mabar melakukan fogging. Apalagi hampir 60 warga yang terkena DBD adalah masyarakat Wae Kelambu dan satu orang meninggal dunia.

“DBD masih terjadi, salah satunya di Golo Koe. Dinkes Mabar harus segera melakukan fogging sebelum korban berjatuhan,” tegasnya.

Dia mengatakan, fogging tidak hanya dilakukan di satu wilayah tapi di seluruh wilayah Mabar. Terutama di wilayah pemukiman yang sudah terjadi kasus DBD seperti Wae Kelambu, Desa Gorontalo dan Batu Cermin. Tidak menutup kemungkinan kecamatan lainnya juga saat ini diserang DBD. Sehingga sangat dibutuhkan keseriusan Dinkes Mabar untuk turun ke pemukiman penduduk untuk menyelamatkan masyarakat dari serangan DBD.

Sebelumnya, Kepala Dinkes Kabupaten Mabar dr Imaculata Veronika Djelulut membenarkan terjadinya serangan DBD di Kabupaten Mabar. Dirinya telah mengerahkan anggotanya untuk menangani permasalahan tersebut.

Dia mengaku sedikitnya tiga orang yang meninggal dunia akibat serangan DBD. Sedangkan jumlah total kasus DBD hingga 25 November 2018, menyerang sebanyak 187 orang. Korban yang meninggal dunia pada bulan Oktober 2018 berusia 16 tahun. Sedangkan dua orang yang meninggal awal November berusia 7 bulan dan 3,9 tahun.

Dari 187 orang itu, kata dia, sebanyak 184 sudah dan sedang dirawat, ada yang sudah pulang ke rumahnya dan ada yang masih dirawat. Sedangkan 3 orang yang meninggal dunia. 187 kasus tersebut dengan rincian 20 kasus pada September, 42 kasus pada Oktober dan November sampai tanggal 25 terdapat 125 kasus atau mengalami peningkatan.

Kasus DBD paling banyak kata dr Imaculata terjadi di wilayah kerja Puskesmas Labuan Bajo yaitu 133 orang. Paling banyak kedua di wilayah kerja Puskesmas Terang Boleng, sebanyak 14 orang. Selanjutnya di wilayah kerja Puskesmas Benteng, Kecamatan Komodo sebanyak 13 orang.

“Kasus serangan DBD yang lainnya terjadi di wilayah kerja Puskesmas Rekas Kecamatan Mbeliling, sebanyak lima orang. Di Puskesmas Wae Nakeng Lembor satu orang dan Kuwus satu orang,” kata Imaculata.

Ia berpesan, masyarakat Labuan Bajo untuk membersihkan lingkungan sehingga penyebab DBD bisa dikurangi.