Ditemukan Dua Amfibi Baru

berbagi di:
amfibi

 

 

Biodiversitas Indonesia yang menyisir kawasan hutan Pegunungan Meratus di Provinsi Kalimantan Selatan pada ketinggian 70-170 meter di atas permukaan laut (mdpl) menemukan dua jenis amfibi dan satu jenis reptil baru. Peneliti muda dari Pusat Stu­di dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin (Biodiversitas In­donesia-ULM) Zainudin, Kamis (19/10), mengatakan amfibi dan reptil tersebut ditemukan dalam proyek bernama Meratus Herpetofauna Project List. Namun, Zainudin yang ju­ga koordinator tim peneliti belum berani memastikan terma­suk spesies apa amfibi dan reptil yang ditemukannya ter­sebut. Sebabnya, individu yang dijumpai tidak dapat dikoleksi.

Selain itu, individu tersebut merupakan individu muda sehingga sulit diidenti­fikasi. “Kami belum bisa memastikan termasuk jenis Cyrtodactylus mana individu yang berhasil kami temukan ini. Apakah individu yang sudah pernah dikaji sebelumnya atau jenis baru,” ujarnya. Ia menjelaskan, identifikasi spesies harus dilakukan pada semua tingkatan usia, yakni yang muda (juvenile) dan individu dewasa. Barulah hasil identifikasi menyeluruh itu dipakai untuk mengetahui spesiesnya. Bahkan, dalam proses identifikasi, kebanyakan menggunakan uji genetik.

Penanggung jawab Tim Observasi dari Biodiversitas Indonesia Ferry F Hoesain menambahkan, yang menarik dari daftar baru hewan melata dalam lisnya, ialah penemuan jenis baru cecak jari lengkung. Kelompok cecak dari marga Cyrtodactylus tersebut sebelumnya tidak pernah terdata pada wilayah riset mereka. Cyrtodactylus, ujarnya, ialah sejenis cecak yang hidup di wilayah hutan. Sebagai satwa arboreal, cecak ini sangat bergantung pada hutan. Sayangnya, kerusakan hutan telah menghilangkan sebagian besar habitat mereka. Apalagi, belum banyak orang yang peduli terhadap keberadaan satwa itu. Padahal cecak tersebut memiliki corak dan warna yang menarik dan eksotis untuk diamati.

230 spesies
Cyrtodactylus merupakan kelompok cecak yang paling banyak ragamnya, yakni sekitar 230 spesies. Cyrtodactylus juga menjadi marga terbesar dalam suku Gekkonidae. Namanya berasal dari bentuk ruas ujung jari-jarinya yang melengkung. Berdasarkan hasil pendokumentasian, jenis cecak jari lengkung mempunyai kemi­ripan dengan tiga spesies, yaitu Cyrtodactylus consobrinus, cyrtodactylus baluensis, dan cyrtodactylus malayanus. Terlebih lagi coraknya sangat mirip saat tahap juvenile.

Perubahan corak dan warna cecak dari muda ke dewasa serta tidak didapatkannya spe­simen menyebabkan identifikasi lebih lanjut tidak dapat dilakukan. Di seluruh Kalimantan seti­daknya terdapat 30 jenis cecak dari dua famili, yaitu Eublepharidae dan Gekkonidae (cicak sesungguhnya). Dalam famili Gekkonidae, sampai 2006 setidaknya tercatat ada 29 jenis dari 9 marga yang dapat diidentifikasi. Marga cecak jari lengkung merupakan salah satunya. Cecak pada dasarnya dapat dijumpai pada berbagai habitat, motif, dan bentuknya beragam. (Ant/H-2)

Sumber: Media Indonesia