Dukung Pariwisata NTT, Angkasa Pura Investasi Rp 400 M

berbagi di:
foto-hal-01-gubernur-ntt-viktor-bungtilu-laiskodat-menyampaikan-sambutan-saat-acara-talk-show-yang-di-selenggarakan-oleh-angkasa-pura-airports-di-hotel-astonselasa11-12-nahor-fatbanu

Direktur Utama (Dirut) Angkasa Pura 1 (AP1), Faik Fahmi (berdiri) memberikan sambutan pada acara Collaborative Destination Development di Pallacio Ballroom Aston Hotel Kupang, Selasa (11/12). Foto: Nahor Fatbanu/VN

 

 

Direktur Utama (Dirut) Angkasa Pura 1 (AP1), Faik Fahmi menyatakan, pihaknya sudah memproses investasi senilai Rp 400 miliar untuk peningkatan kapasitas Bandara El Tari Kupang. Pengembangan kapasitas dan rekonstruksi bandara ini dilakukan untuk mendukung pengembangan sektor pariwisata yang sedang digalakkan Pemprov NTT.

“Ini langkah nyata dan bentuk kewajiban Angkasa Pura mendukung tekad Gubernur NTT mengembangkan pariwisata. Banyak hal juga yang bisa dikaji untuk kelanjutannya nanti bersama stakeholder,” ucap Faik Fahmi dalam acara Collaborative Destination Development di Pallacio Ballroom Aston Hotel Kupang, Selasa (11/12).

Hadir dalam acara ini, Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL), Dadang Rizki Ratman (Deputi Kementerian Pariwisata), Abdullah Azwar Anas (Bupati Banyumas), Ketua DPRD NTT Anwar Pua Geno, Kadis Pariwisata NTT, Marius Ardu Jelamu, serta tamu undangan lainnya.

Kapasitasi Bandara El Tari dilakukan untuk seluruh bagian mulai dari bagian airside, parkiran kendaraan hingga terminal. Airside atau apron akan diperluas menjadi 108.664 meter persegi dari sebelumnya yaitu 4.252 meter persegi dengan daya tampung dari 12 pesawat menjadi 18 pesawat. Parkir kendaraan yang luas sebelumnya 11.000 meter persegi akan menjadi 18 ribu meter persegi, dan luas terminal dari 7.420 meter persegi menjadi 15.420 meter persegi.
Arsitektur Gaya Lokal
Faik Fahmi berjanji akan mengangkat kearifan lokal sebagai gaya arsitektur bandara. Proyek rekonstruksi bandara ditargetkan rampung pada Juni 2019 nanti.

AP1, kata dia, juga ikut memacu peningkatan jumlah kunjungan wisatawan tahun depan serta menyiapkan bandara internasional di Rote Ndao. AP 1 siap menggandeng stakeholder untuk memacu kunjungan wisatawan ke NTT agar jumlahnya lebih signifikan lagi. Sebab, menurut data lalu lintas penerbangan yang dimiliki Angkasa Pura 1, hanya 9 persen turis dari jumlah 2 juta kunjungan di Bandara El Tari.

“Data lalu lintas pesawat yang dimiliki Angkasa Pura 1 mencatat ada 2 juta kunjungan, baik masuk maupun keluar. Namun, segmen turisnya cuma 9 persen. Sangat disayangkan mengingat NTT mempunyai banyak destinasi berkelas dunia,” bebernya.

Strategi lain yang akan diterapkan untuk memancing wisman ke NTT adalah penetapannya free landing fee bagi penerbangan internasional. Sementara proses peningkatan kapasitas bandara dilakukan, Angkasa Pura 1 akan gencar mendorong maskapai dalam rute intra-domestik agar terjadi konektivitas antara destinasi wisata di pulau-pulau di NTT dan penerbangan dari luar negeri langsung ke NTT.

“Bandara bisa jadi stimulus ekonomi di wilayah sekitarnya dan yang terpenting adalah kolaborasi dengan berbagai pihak untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan di NTT,” pungkasnya.

 

Ring of Beauty
Gubernur VBL menyambut baik rencana AP1 tersebut dan berharap semuanya bisa terlaksana dengan baik. VBL juga menyinggung soal langkah serius untuk mewujudkan ring of beauty dengan bantuan Angkasa Pura dan PT ASDP.

“NTT ini provinsi dengan jumlah bandara terbanyak. Ada 15 bandara. Tidak cuma bandara, ada 45 pelabuhan atau dermaga di NTT tapi saya lihat konektivitas antardestinasi wisata belum maskimal. Orang (turis) yang dari Alor mau
Lembata harus transit ke Kupang dulu. Nah, ini ‘kan aneh, padahal Alor dan Lembata itu jaraknya sangat dekat dibanding Kupang-Lembata. Saya harap ada konektivitas antarpulau-pulau yang menjadi destinasi wisata. Ring of beauty sebagai efisiensi perjalanan wisata bagi turis,” jelasnya.

VBL menegaskan, sebanyak apapun event pariwisata namun jika tak didukung aksesibilitas maka tentunya tidak akan optimal. “Tidak cukup dengan atraksi saja. NTT yang punya banyak pantai, air terjun, dan lain-lain tapi kalau tidak didukung dengan aksesibilitas yakni infrastruktur dan transportasi, maka sampai kapan pun tidak akan ada perbedaan. Ada five esential sebagai kunci pariwisata dan yang utama adalah atraksi dan aksesibilitas,” ucapnya.

Dadang Rizki Ratman selaku Deputi Kementerian Pariwisata, menyatakan sepakat dengan Gubernur VBL soal aksesibilitas ke destinasi.

Menurut Dadang, pariwisata ke depannya adalah sumber penambah devisa bagi daerah dan tentu hal tersebut perlu ditanggapi serius dengan pemenuhan akses dan infrastruktur. Untuk itu, di samping mengapresiasi dukungan yang diberikan oleh AP1, ia berharap AP1 dapat bersinergi dalam kolaborasi dengan Pemprov untuk mewujudkan hal tersebut.

“Memang atraksi saja tidak cukup. Seperti yang dikatakan Pak Viktor, itu bagian dari imajinasi semata bila tidak ada ekspektasi untuk perwujudannya. Jadi akses, infrastruktur, dan boleh saya tambahkan juga yakni informasi yang menghubungkan semua pariwisata dan pengolahan pariwisata di NTT,” tambahnya.

Kepada pihak Angkasa Pura 1, Dadang mematok target kunjungan wisatawan sebanyak 1 juta di NTT tahun depan dan ia harapkan ekspetasi tersebut dapat diwujudkan.

“Saya targetkan 1 juta kunjungan wisatawan mancanegara ke NTT bila program Angkasa Pura 1 seperti itu. Ini ekspektasi dan motivasi yang semoga diwujudkan,” tutupnya.

Collaborative Destination Development 2018 yang diselenggarakan Angkasa Pura 1 ini mengangkat tema “Explore The Amazing Destination at East Nusa Tenggara“. Acara tersebut dipandu Andi F Noya sebagai moderatornya. Jurnalis senior sekaligus presenter acara Kick Andy ini membuat suasana menjadi lebih ringan, meski yang dibahas adalah topik serius. (mg-06/S-1)