Editorial : Asian Games yang Mempersatukan

berbagi di:
Asean Games

Asian Games digelar setelah bangsa ini sukses melaksanakan pemilu lokal secara serentak di 171 daerah. Pilkada berlangsung damai. Perbedaan pilihan politik sudah dianggap biasa-biasa saja.

 
ASIAN Games 28 hari lagi digelar. Asian Games ke-18 yang berlangsung pada 18 Agustus hingga 2 September 2018 itu ialah kesempatan kedua Indonesia sebagai tuan rumah. Kesempatan pertama ialah 56 tahun lalu, yaitu Asian Games ke-4, pada 1963.

Menjadi tuan rumah Asian Games sesungguhnya kesempatan emas untuk mempromosikan Indonesia. Indonesia yang demokratis mestinya bukanlah ilusi. Asian Games digelar setelah bangsa ini sukses melaksanakan pemilu lokal secara serentak di 171 daerah. Pilkada berlangsung damai. Perbedaan pilihan politik sudah dianggap biasa-biasa saja.

Jauh lebih membanggakan lagi, Asian Games malah digelar di tahun politik. Penyelenggaraan Asian Games tidak membuyarkan fokus bangsa ini dalam menyongsong kali pertama pemilu legislatif dan pemilihan presiden dilakukan bersamaan. Asian Games digelar hanya delapan hari setelah penutupan pendaftaran pasangan calon presiden dan wakil presiden pada 10 Agustus.

Asian Games bisa menjadi forum untuk mempromosikan Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga dunia. Ini pula kesempatan yang baik untuk membuktikan bahwa ketika politik seolah-olah membelah, Asian Games justru menyatukan.

Harus tegas dikatakan bahwa penyelenggaraan Asian Games bukan tanggung jawab pemerintah semata. Itu menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa. Pun, kesuksesannya menjadi tanggung renteng seluruh anak bangsa.

Ukuran kesuksesan penyelenggaraan Asian Games hendaknya dipatok secara terukur. Setidaknya ada tiga ukuran yang dipakai. Pertama, sarana dan prasarana yang digunakan untuk bertanding mestinya sesuai dengan standar internasional.

Kedua, kesuksesan prestasi. Rakyat berharap, sangat berharap, banyak atlet Asian Games menjatuhkan air mata dari podium juara ketika menyaksikan bendera Merah Putih berkibar. Momentum itu bisa menjadi keharuan kolektif yang memperkaya modal sosial kita sebagai bangsa.

Ketiga, kesuksesan penyelenggaraan, termasuk upacara pembukaan dan penutupan. Karena itu, sudah sepatut dan selayaknya persiapan penyelenggaraan Asian Games dilakukan dengan sungguh-sungguh menyangkut faktor teknis dan nonteknis.

Faktor nonteknis yang dimaksud, misalnya, penyelenggaraan terbebas dari kabut asap kebakaran lahan dan hutan. Sejumlah titik api yang muncul di beberapa provinsi rawan, seperti Sumatra Selatan, Jambi, dan Riau, hendaknya diatasi sejak dini.

Seandainya seluruh persiapan dilakukan secara maksimal, terlebih lagi dengan capaian prestasi atlet Indonesia, niscaya kesuksesan itu akan menjadi buah bibir berkepanjangan masyarakat Asia, bahkan dunia. Bolehlah kita membusungkan dada sebagai bangsa.

Asian Games tidak boleh gagal karena menyangkut harga diri dan martabat bangsa sebagai tuan rumah. Menghadirkan rasa aman dan nyaman ialah tanggung jawab bersama. Ingat, kesuksesan dan kegagalan ialah dua keping dari satu mata uang yang akan diwartakan ke seluruh dunia.