Editorial: Hukuman Mati bagi Teroris

berbagi di:
terorisme

Kita sudah berulang kali diberi pelajaran mahal bagaimana aksi teror dikomandoi para terpidana. Karena itu, seiring dengan kita terus mendebat efektivitas hukuman mati, sebesar itu pula kewajiban kita dalam menuntut program deradikalisasi yang efektif.

 
Terdakwa lima kasus terorisme, Aman Abdurrahman, dituntut hukuman mati. Barangkali banyak orang mensyukuri tuntutan itu dan berharap hakim kelak menghukum mati Aman. Akan tetapi, perdebatan uzur tentang hukuman mati mencuat lagi.

Kita bisa menimbang kepantasan hukuman itu dari sederet teori dan penelitian terkini. Namun, ada kalanya yang menampar kita ialah hal paling sederhana, seperti senyuman terdakwa. Itulah yang ada di persidangan Arman, baru-baru ini.

Seperti biasanya, Aman yang didakwa sebagai aktor intelektual bom Gereja Samarinda (2016), bom Thamrin (2016), dan bom Kampung Melayu (2017), serta dua penembakan polisi di Medan dan Bima (2017), menebar senyum di persidangan.

Bicara hukuman mati, ada pandangan yang menyebutkan bahwa vonis mati itu bagai pisau tumpul bagi kelompok-kelompok teroris itu. Bagi mereka, kematian malah jadi kebanggaan, bahkan jalan menebus kerinduan menghuni surga.

Karena itu, menghukum mati mereka seperti membuka jalan bagi mereka menggenapi kerinduan itu. Tidak mengherankan jika senyum pun tersungging di wajah mereka. Di sisi lain, bisa pula kita singkirkan soal kebahagiaan teroris itu.

Toh, ada nilai keadilan bagi korban dan masyarakat luas, serta tidak kalah penting pula, soal pertimbangan ketertiban umum. Malah jika kita perpanjang pertimbangan hukuman mati ke ajaran-ajaran agama, diskusi bisa makin pelik.

Hukuman mati dengan berbagai variannya tidaklah asing dalam ajaran agama-agama. Ajaran agama mengenalkan ‘nyawa dibayar nyawa’. Namun, di sisi lain, agama juga mengajarkan untuk berbelas kasih dan memaafkan.

Kemuliaan pemaafan tidak sedikit dicontohkan dengan begitu terpuji oleh umat beragama yang menjadi korban kelompok teroris ini yang mengatasnamakan agama tertentu. Begitu pun jika hukuman mati bukan pilihan, sebenarnya tidak pula permasalahan tuntas.

Pilihan hukuman seumur hidup sejatinya membawa pekerjaan rumah besar pada program deradikalisasi di dalam ataupun di luar tahanan. Hanya dengan cara itu, sel-sel teroris sesungguhnya dapat dimatikan.

Terlebih kita juga telah berulang kali diberi pelajaran mahal bagaimana aksi teror dibimbing dan dikomandoi oleh para terpidana. Oleh karena itu, seiring dengan kita terus mendebat efektivitas hukuman mati, sebesar itu pula kewajiban kita dalam menuntut program deradikalisasi yang efektif.