Editorial: Keteladanan Pancasila

berbagi di:
leho-lego pancasila

Pancasila jangan hanya lantang dalam pidato-pidato, bukan pula hanya dimasukkan dalam kurikulum sekolah, tetapi butuh keteladanan, terutama dari para elite dan pemimpin.

 

Ada bagian yang memudar di tengah pancaran terang bangsa ini. Ada yang meredup di antara sinar cahaya yang selama ini membungkus negeri. Amat disayangkan, sesuatu yang memudar dan meredup itu justru merupakan bagian vital dari fondasi kebangsaan, yakni luruhnya karakter dan budi pekerti anak bangsa.

Sangat mudah kita menyebutkan contoh konkret lunturnya karakter bangsa itu di era kekinian. Meningkatnya radikalisme, intoleransi, penyebaran berita bohong (hoaks), demagogi kebencian SARA, kian redupnya integritas dan kesantunan, maraknya korupsi, termasuk pula aksi-aksi kejahatan yang kian bengis belakangan ini, semua menjadi tontonan gratis yang sungguh memilukan.

Padahal, kita punya Pancasila, sebuah ideologi yang telah menjadi kemufakatan bersama sejak negara ini didirikan, sebagai landasan, falsafah, serta nilai dalam kehidupan berbangsa. Suka atau tidak suka, negara ini berdiri dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai perekat. Sejarah membuktikan bahwa melalui Pancasila-lah bangsa yang majemuk dan multikultur ini bisa direkatkan hingga kini.

Namun, barangkali, harus diakui juga bahwa nilai-nilai tersebut tak selalu mampu diterjemahkan dalam narasi dan konsep praktis. Akibatnya, tak perlu heran bila perilaku penyimpangan nilai kian banyak terjadi karena Pancasila tidak dapat terimplementasikan dengan sebenar-benarnya.

Kerisauan itu jugalah yang tampaknya mendasari ide Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menghidupkan kembali mata pelajaran pendidikan moral Pancasila (PMP) di sekolah formal. Mereka mengklaim sedang menyiapkan materi PMP yang lebih eksplisit dan lebih ‘bunyi’.

Tidak ada yang salah dengan rencana Kemendikbud tersebut, bahkan perlu kita dukung selama niat baiknya untuk terus membumikan nilai-nilai Pancasila. Tentu saja, mesti diimbangi modifikasi metode pembelajaran yang kekinian dan dapat diterima anak-anak di generasi pascamilenial ini. Jangan malah balik lagi ke zaman pengajaran PMP era Orde Baru.

Namun, harus kita ingat pula bahwa upaya menggaungkan nilai-nilai luhur Pancasila itu dan kemudian mengimplementasikannya dalam kehidupan bernegara dan berbangsa tak cukup hanya dengan cara-cara formal. Sejatinya, bangsa ini juga membutuhkan keteladanan, contoh yang nyata dari para pemimpin dan elite.

Alangkah naifnya ketika anak-anak di sekolah diberikan pelajaran dan ilmu budi pekerti ala Pancasila, tetapi di luar sana para pemimpin, elite, dan orangtua justru terus mempertontonkan perilaku menyimpang dari nilai-nilai Pancasila.

Karena itu, langkah besar harus dimulai dengan memperkuat pilar kebangsaan, yakni Pancasila harus mampu dihadirkan secara nyata di tengah-tengah masyarakat. Pancasila jangan hanya lantang dalam pidato-pidato, bukan pula hanya dimasukkan dalam kurikulum sekolah, tetapi butuh keteladanan, terutama dari para elite dan pemimpin.