Editorial: Komodo is a Master Piece!

berbagi di:
** Advance for story Indonesia Dragons vs. Humans by Irwan Firdaus **  A Komodo dragon basks in the sun as villagers watch at a beach on Komodo island, Indonesia, Thursday, April 30, 2009. Attacks on humans by Komodo dragons _ said to number at around 2,500 in the wild _ are rare, but seem to have increased in recent years. Komodo dragons have a fearsome reputation worldwide because their shark-like teeth and poisonous saliva can kill a person within days of a bite. (AP Photo/Dita Alangkara)

Barang ajaib harus dijaga dengan aturan main yang ketat. “Show time” diatur secara baik, rapi dan teratur. Singkatnya, Komodo ada di etalase mahal. Mahal karena tayangannya adalah miraculous and classical master piece of nature.

 
EMAS itu mahal karena sedikit. Berlian pun sama. Karenanya, mereka diburu. Bahkan bisa menimbulkan konflik. Konflik ekonomi, plus politik. Tak hanya politik domestik. Tetapi, juga politik global.

Tambang emas Freeport-Papua demikian adanya. Taruhan konflik itu sangat mahal. Bahkan hingga ke level disintegrasi atau separasi negara. Konflik berkepanjangan Papua tidak pernah steril dari faktor itu.

Itu soal emas. Lalu, apa, mengapa dan bagaimana soal Komodo? Dunia sepakat, ia masuk kategori ajaib. Bukan sekadar mahal, tetapi ajaib. Jika ajaib, maka ia mestinya lebih mahal. Emas tak semua orang bisa miliki. Sebab, ia terbatas. Komodo ajaib. Namun, ia bisa punah. Punah karena perubahan ekosistem oleh sentuhan tangan-tangan manusia. Baik yang melestarikan, pun menghancurkan.

Perubahan tak terelakkan. Olehnya, harus punya strategi menghadang kepunahan dan pemusnahan. Persis itu “nyawa dan jantung” bahasa kiasan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat. Yang menjadi trending topic adalah “Manusia boleh mati, tetapi, Komodo tidak boleh!”. Tutur kiasan itu adalah ekspresi kemauan keras Pemprov menjaga kelestarian Komodo dan habitatnya. Termasuk pelestarian keajaibannya. Komodo tidak dibikin seperti pasar loakan: padat, sumpek, jorok dan tidak tertata hanya karena murah.

Barang ajaib harus dijaga dengan aturan main yang ketat. “Show time” diatur secara baik, rapi dan teratur. Singkatnya, Komodo ada di etalase mahal. Mahal karena tayangannya adalah miraculous and classical master piece of nature.

Harga karya klasik tidaklah murah. Bantahan dari sudut bisnis: orang enggan datang karena mahal? Itu keliru. Barang ajaib, antik dan klasik tak ada yang murah. Pecinta barang mahal akan terus dan terus memburunya. Mereka banyak.

Bantahan dari sudut keadilan; lalu bagaimana masyarakat lokal tak berduit? Pemda dan DPRD memahami soal itu. Sudah dan akan terus digodok. Di situ berlaku prinsip “diferensiasi”; membedakan tuan rumah dari tamu.

Namun, prinsip pengaturan “show time” yang tepat bagi kadal raksasa itu untuk kepentingan kelestarian adalah sebuah keharusan. Jangan biarkan makhluk klasik dan ajaib ini punah. Kita tunggu regulasi dan kebijakan terbaik bagi kita semua, bagi Komodo dan bagi habitatnya!