Editorial: Kota dan Kehidupan Jalanan

berbagi di:
anak-jalanan-_140810182730-541

Foto: Republika

 

Masalah anak jalanan dan para pengemis kota adalah masalah perlindungan negara terhadap warga. Olehnya, menjadi tugas negara untuk mencarikan jalan keluar.

 
Antara kota dan hutan belantara mempunyai kesamaan. Hidup di dua zona itu sama-sama keras. Pola pertahanan hidup semua penghuninya sama. Diam (baca: tidak bekerja) berarti mati. Bergerak berarti hidup, entah sekarat atau sejahtera.

Namun, hidup di sana semacam arena tarung bebas. Siapa kuat, ia hidup. Siapa lemah, siap tersingkir dan disepak keluar arena. Jadi, antara singa, harimau, jaguar, rusa, babi hutan di hutan rimba dan manusia-manusia di kota sama-sama dituntut berdaya tahan ekstra.

Kota dengan segudang problem persaingan sengit. Tak hanya yang bersifat mutualistik. Tetapi juga predatoris. Memakan dan dimakan. Menipu dan ditipu. Menekan dan ditekan. Singkat cerita, kota disesaki oleh berbagai problem pelik kehidupan.

Kota kecil seperti Kupang menjadi satu di antaranya. Masalah anak jalanan dan kehidupan para pemulung yang memprihatinkan kian memekatkan suasana himpitan persoalan kota.

Ada makna khusus dari perayaan Natal bersama anak jalanan dan pemulung yang diselenggarakan oleh Yayasan Nusa Bunga Abadi. Makna itu soal kehidupan kota. Adakah takdir kota menjadi rumah penampungan berbagai persoalan pelik seperti kehidupan para pengemis, anak jalanan dan kehidupan getir para pemulung? Tidak! Sesungguhnya itu bukan takdir. Sebab, keadaan itu bisa dikendalikan dan diubah lewat kerja keras semua pihak. Dari pemerintah hingga seluruh masyarakat.

Masalah anak jalanan dan para pengemis kota adalah masalah perlindungan negara terhadap warga. Olehnya, menjadi tugas negara untuk mencarikan jalan keluar.

Solusi temporal bisa berupa penyediaan rumah singgah dan lembaga pendidikan khusus. Dinas Sosial di semua level berperan penting untuk hal tersebut. Namun, solusi jangka panjang berupa penanganan komprehensif masalah perkotaan. Mulai dari masalah tata kota, tata warga dan persoalan kemanusiaan seperti pengangguran, street children, pemulung hingga obat-obat terlarang.

Kiranya, beberapa tahun mendatang perayaan semacam akan segera hilang dari kota-kota di seluruh NTT. Anak-anak ini harus segera dibebaskan. Dibebaskan dari kebodohan lewat pendidikan memadai. Dibebaskan dari kehidupan jalanan lewat pembenahan kehidupan warga hingga ke level keluarga.

Sebab, masalah sosial semacam itu sesungguhnya adalah buntut dari kegagalan kita mengurus ekonomi kerakyatan. Semoga kota-kota di NTT segera mengantisipasi semua masalah perkotaan.