Editorial: Membangun Sadar Bencana

berbagi di:
Dua rumah yang pondasinya habis terkena abrasi. Foto: Son Bara/VN

Dua rumah di Kabupaten Ende yang pondasinya habis terkena abrasi. Foto: Son Bara/VN

 

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat tiga daerah sudah melapor soal KLB DBD yakni NTT, Sulawesi Utara (Sulut), dan Kalimantan Tengah (Kalteng).

 
SEBAIK apa pun sistem kesiagaan bencana tidak akan berarti tanpa kesadaran pemanfataannya. Akibatnya, informasi ilmiah yang dapat menyelamatkan warga sekadar menjadi berita.

Inilah cermin kegagapan kita saat ini dalam kesiagaan bencana. Kita cepat mengkritik kekurangan peralatan deteksi dini bencana, tetapi terhadap sistem informasi yang sudah ada justru kita abai bertindak. Buah petakanya bukan hanya terhambatnya aktivitas warga, melainkan juga nyawa melayang akibat wabah penyakit.

Di awal tahun ini, sederet petaka itu pula yang terjadi akibat kegagapan menghadapi cuaca ekstrem. Di sejumlah daerah, ribuan orang mengungsi akibat banjir. Jembatan Je’ne Lata di Kecamatan Manuju, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, putus akibat luapan air Sungai Je’ne Lata.Kenaikan air Bendungan Bili-Bili membuat ribuan warga mengungsi.

Banjir juga melanda Kabupaten Maros, Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Barru, Takalar, serta Jeneponto. Hal yang sama juga terjadi di Lampung Selatan, Lampung, dan di Sidoarjo, Jawa Timur.

Cuaca ekstrem terjadi karena tiga bibit badai tropis di dekat wilayah Indonesia. BMKG menyebut 14 wilayah berpotensi menderita akibat badai tropis tersebut, dengan bencana dapat berupa potensi banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin.

Peringatan BMKG ini semestinya menjadi alarm bagi pemerintah daerah dan instansi terkait untuk segera bersiaga. Yang juga masih terkait dengan dampak cuaca ekstrem ialah wabah penyakit.

Seperti sudah berulang kali terjadik di musim hujan, yakni wabah penyakit demam berdarah dengue (DBD). Banyak daerah kini berstatus KLB DBD.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat tiga daerah sudah melapor soal KLB DBD yakni NTT, Sulawesi Utara (Sulut), dan Kalimantan Tengah (Kalteng).

Di NTT, DBD di Kabupaten Manggarai Barat sudah menelan korban jiwa. Ratusan warga terjangkit. Kini, Kota Kupang sudah ditetapkan berstatus KLB DBD.

Sudah menjadi pengetahuan umum, penyakit DBD kerap muncul di kala cuaca ekstrem atau pergantian cuaca. Musim penghujan mendukung perkembangbiakan jentik nyamuk pembawa penyakit itu karena banyaknya genangan air.

Dalam kondisi seperti itu, langkah penanggulangan yang cepat harus segera dilaksanakan, termasuk pengerahan dana darurat dan dana kedaruratan yang ada di APBD ataupun APBN.

Namun, lebih dari itu, pemerintah juga harus terus mensosialisasikan gaya hidup bersih kepada masyarakat.