Editorial: Memuliakan Hak Pilih

berbagi di:
logistik pemilu

Perbaikan DPT bertujuan memuliakan hak pilih setiap warga negara yang dijamin konstitusi. Hak pilih tidak bisa dikurangi, apalagi dilenyapkan hanya karena persoalan administrasi.
Memilih dalam pemilihan umum (pemilu) ialah hak dasar setiap warga negara yang dijamin konstitusi. Hak dasar itu mestinya tidak boleh dikurangi, apalagi dihilangkan karena persoalan administrasi.

Persyaratan warga negara menjadi pemilih sesungguhnya sangat sederhana, yaitu telah berusia 17 tahun atau lebih atau sudah atau pernah menikah pada hari pemungutan suara. Akan tetapi, persyaratan yang begitu mudah tiba-tiba menjelma menjadi persoalan yang sangat kompleks karena menyangkut masalah administrasi yang mesti dipenuhi.

Ada dua masalah administrasi yang mesti dipenuhi setiap warga negara, yaitu administrasi kependudukan yang menjadi kewenangan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan administrasi kepemiluan yang menjadi domain KPU.

Bukti diri sebagai warga negara ialah e-KTP sesuai Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan. Untuk bisa menjadi pemilih, menurut administrasi kepemiluan, nama pemegang e-KTP harus tercantum dalam daftar pemilih tetap (DPT) sesuai UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu.

Penetapan DPT Pemilu 2019 menempuh jalan panjang dan berliku. Ada beberapa kali perbaikan DPT sebenarnya mencerminkan keinginan yang kuat dari Kemendagri dan KPU bahwa kebijakan administrasi kependudukan dan administrasi kepemiluan tidak boleh membatasi hak asasi, tetapi seharusnya mendukung sepenuhnya pelaksanaan hak pilih. Dalam perspektif tersebut, KPU sudah menjaga asas guna memastikan proses pemilu berjalan berkualitas dan bermartabat.

Harus tegas dikatakan bahwa dengan adanya perubahan jumlah DPT, bisa saja masih ada warga negara yang punya hak pilih, tapi belum memiliki KTP-E. Karena itulah, KPU sesuai dengan rekomendasi Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) hendaknya berkoordinasi dengan Kemendagri untuk melakukan percepatan pere kaman KTP-E di seluruh provinsi. Percepatan terutama dilakukan di provinsi yang capaian perekaman KTP-E kurang dari 80%, yaitu Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, dan Sulawesi Barat.

Tidak kalah pentingnya ialah melakukan pemenuhan hak pilih, terutama bagi warga negara yang telah memenuhi syarat memilih tetapi
belum memiliki identitas kependudukan sama sekali. Warga negara yang berpotensi tidak memiliki identitas kependudukan ialah mereka
yang mendiami wilayah perbatasan, kawasan hutan, wilayah terluar, dan masyarakat adat serta pedalaman.

KPU juga diminta untuk memberi perhatian khusus kepada warga negara di daerah terpapar bencana seperti Lombok, Palu, dan Donggala.
Jangan sampai, hanya karena identitas lenyap ditelan bencana, hak pilih mereka juga ikut-ikutan lenyap.

Perbaikan dan pembenahan DPT yang terus dilakukan bertujuan memuliakan hak pilih setiap warga negara yang dijamin konstitusi. Hak pilih tidak bisa dikurangi, apalagi dilenyapkan hanya karena persoalan administrasi.