Editorial: Pertobatan Ekologis

berbagi di:
Masyarakat mengumpulkan sampah di sekitar pantai Pede,, 4 Oktober 2018 lalu. Foto: Gerasimos Satria/VN

Masyarakat mengumpulkan sampah di sekitar pantai Pede,, 4 Oktober 2018 lalu. Foto: Gerasimos Satria/VN
Sampah plastik merupakan komponen yang paling sulit diurai proses alam sehingga berbahaya bagi ekosistem perairan dan kesehatan manusia. Saatnya melakukan pertobatan ekologis dengan tidak membuang sampah di sembarang tempat.

 

Sampah di laut tidak hanya menyebabkan terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup serta ekosistem perairan. Jauh lebih berbahaya lagi ialah membahayakan kesehatan manusia.

Disebut membahayakan kesehatan manusia karena akibat pencemaran sampah plastik di laut, telah ditemukan kandungan plastik berukuran mikro dan nano pada biota dan sumber daya laut di perairan Indonesia.

Harus ada upaya menyeluruh untuk mengatasi sampah laut, sebab 80 persen sampah itu berasal dari aktivitas di daratan. Karena itu, berbicara sampah sudah harus dalam paradigma hulu-hilir.

Kita mengapresiasi pemerintah yang sudah menyiapkan regulasi untuk menangani sampah laut secara menyeluruh. Presiden Jokowi pada 17 September 2018 sudah meneken Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut. Ada target yang jelas untuk menangani sampah plastik di laut sebesar 70 persen sampai 2025.

Para siswa memungut sampah di sepanjang Pantai Pede, Labuan Bajo. Foto: Gerasimos Satria/VN
Para siswa memungut sampah di sepanjang Pantai Pede, Labuan Bajo. Foto: Gerasimos Satria/VN

Meski ada target jelas, kita tentu saja prihatin atas peristiwa mati dan terdamparnya paus jenis sperma di perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Paus sepanjang 9,5 meter itu ditemukan membusuk pada Senin (19/11), dan di dalam perutnya terdapat sampah plastik dari botol, penutup galon, sandal, botol parfum, bungkus mi instan, gelas minuman, tali rafia, karung, terpal, dan kantong keresek.

Tegas dikatakan bahwa belum ada penelitian yang dapat mengonfirmasikan matinya paus sperma tersebut akibat memangsa sampah plastik. Akan tetapi, ditemukannya sampah seberat 5,9 kilogram di perut seekor paus tetaplah sebuah fakta yang mengguncang kesadaran kita.

Sampah plastik dalam perut paus itu juga belum dapat dipastikan berasal dari daratan Indonesia. Karena itu, mengatasi sampah plastik di laut harus menjadi komitmen seluruh umat manusia.

Seluruh pemangku kepentingan, dari individu, keluarga, kelompok, komunitas, masyarakat, hingga negara wajib bahu-membahu meningkatkan kesadaran terhadap bahaya sampah plastik.

Kebijakan insentif bagi industri yang ramah lingkungan dan disinsentif kepada mereka yang abai terhadap pengelolaan sampah plastik perlu terus didorong.

Sampah plastik merupakan komponen yang paling sulit diurai proses alam sehingga berbahaya bagi ekosistem perairan dan kesehatan manusia. Saatnya melakukan pertobatan ekologis dengan tidak membuang sampah di sembarang tempat.