Empat Bayi Meninggal di Ruang NICU RSUD

berbagi di:
Jimi Sianto dan rombongan dari Komisi V DPRD NTT mendengarkan penjelasan dr Laurens Paulus selaku Koordinator Ruang Pavilium RSUD WZ Johannes, Kupang, kemarin. Foto; Nahor Fatbanu/VN

Jimi Sianto dan rombongan dari Komisi V DPRD NTT mendengarkan penjelasan dr Laurens Paulus selaku Koordinator Ruang Pavilium RSUD WZ Johannes, Kupang, kemarin. Foto; Nahor Fatbanu/VN

 

Hanya dalam kurun waktu hanya lima hari (4-9 Januari 2019), empat orang bayi meninggal dunia dalam perawatan di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) RSUD Prof Dr WZ Johannes, Kupang. Meninggalnya bayi-bayi itu karena pelayanan medis yang kurang maksimal akibat ruangan perawatan dalam kondisi bocor dan rusak di sana-sini.

Yang lebih memrihatinkan lagi, kondisi tersebut sudah dilaporkan sejak 2017 namun tidak pernah direspons manajemen untuk memperbaiki empat ruangan khusus bagi bayi-bayi yang baru melahirkan tersebut.

Fakta ini terungkap dialog antara para wakil direktur, dokter, dan tenaga medis saat inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan Komisi V DPRD NTT ke rumah sakit milik Pemprov NTT itu, Rabu (9/1), kemarin.

Di hadapan Ketua Komisi V Jimi Sianto, Wakil Ketua Komisi M uhammad Ansor, dan anggota Toni Benggu, Wakil Direktur Pelayanan dr. Mina Sukri “tanpa beban” menjelaskan bahwa akibat kebocoran pada saluran bangunan, menyebabkan perawatan di ruangan bayi terganggu, yang berujung pada meninggalnya bayi.

“Setelah dua bayi meninggal, kami langsung putuskan untuk pindahkan bayi-bayi lainnya ke lantai dua, karena memang ruangan anak tidak aman untuk bayi ditempatkan di sana,” jelasnya sambil menambahkan ruang perawatan bayi akan tetap berada di lantai dua sampai adanya perbaikan terhadap jaringan irigasi dan plafon ruangan yang rusak.

Menurut Mina, dibutuhkan perbaikan di sejumlah bangunan rumah sakit yang sudah tergolong tua agar pelayanan kepada pasien bisa lebih maksimal dilakukan dan pasien merasa lebih nyaman.

Disaksikan VN, penjelasan Wadir Pelayanan tersebut terjadi di ruangan Neonatal Intensive Care Unit (NICU) disaksikan Wadir Umum dan Keuangan Daniel D dan Wadir Penunjang Pelayanan dr. Aletha Pian.

Sebelum Wadir menjelaskan, Komisi V sudah terlebih dahulu mendengarkan penjelasan dari dr Laurens Paulus dan mendapat penjelasan bahwa ruangan NICU sudah mengalami kebocoran sejak tahun 2017 dan sudah dilaporkan ke manajemen tapi tidak ada tanggapan.

Bahkan kebocoran terjadi sampai mengenai rumah lampu, tembok dan plafon bocor, berlumut, dan berjamur sehingga akhirnya dua ruang NICU ditutup. Belum lagi AC ruangan yang bocor.

“Sudah empat bayi yang meninggal di NICU sejak tanggal 4-8 Januari 2019. Dugaan terjadi infeksi berat (sepsis) dan kemarin ada bayi yang meninggal,” ujar dr Laurens.
Sempat Dikunci
Pantauan VN, rombongan Komisi V nyaris tak bisa masuk ke Ruangan NICU karena terkunci dari dalam. Untungnya salah seorang dokter berusaha membuka paksa pintu itu sehingga Komisi V bisa melihat langsung kondisi ruangan NICU yang memprihatinkan itu.

Ruangan perawatan anak yang berada di bagian timur lantai satu gedung PONEK sudah kosong. Sejumlah tempat tidur bayi dikumpulkan di satu sisi ruangan. Sedangkan pada bagian tengah ruangan ditempatkan satu buah gentong ukuran besar untuk menadah tetesan air dari kebocoran saluran irigasi bangunan.

Sementara itu, ruangan perawatan bayi lainnya yang sudah dikosongkan, tidak ditaruh ember untuk menampung air dari kebocoran tersebut. Namun di pintu masuk selasar terdapat satu ember bak ukuran besar untuk menampung air yang juga menetes dari saluran pipa irigasi yang terlihat jelas, karena plafonnya sudah terlepas dan menyisakan lubang yang cukup lebar.

Wakil Ketua Komisi V, Muhammad Ansor yang juga ikut dalam kunjungan ini menegaskan bahwa bayi adalah masa depan daerah dan bangsa, sehingga ruang bersalin ibu dan bayi harus segera diperbaiki. Ia berharap agar pihak manajemen RSUD segera bertindak dan bisa memperbaikinya dengan mengunakan usulan anggaran BLUD.

Sidak Komisi V dilakukan mendadak karena sesuai jadwal kemarin, Komisi V melakukan RDP dengan Direktur RSUD drg Dominikus Minggu Mere namun yang bersangkutan sedang memantau penanganan KLB demam berdarah dengue (DBD) di Manggarai Barat. (mg-02/mg-07/D-1)