Enam ABK KLM Rajawali belum Ditemukan

berbagi di:
Ilustrasi kapal tenggelam

 

 

Hingga Jumat (20/10) petang, enam anak buah kapal (ABK) Kapal Layar Motor (KLM) Rajawali yang tenggelam di perairan selatan Pulau Komodo, Pulau Komodo di Kabupaten Manggarai Barat (NTT), pada Rabu (18/10), belum juga ditemukan.

Tim Gabungan SAR dari Basarnas Kelas B Kupang dan SAR Cabang Labuan Bajo masih berupaya melakukan pencarian.

“Kita sudah melakukan pencarian selama dua hari terakhir. Tapi masih nihil,” ungkap Koordinator Pos Basarnas Manggarai, Edi Suryono kepada wartawan, kemarin petang.

Edi menjelaskan, tim SAR terpaksa harus bermalam di Pulau Komodo untuk melakukan pencarian. Mereka sudah melakukan pencarian di sekitar titik tempat kapal diduga tenggelam dan belum juga menemukan keenam korban warga asal Bima, NTB tersebut.

Kapal tersebut diperkirakan tenggelam pada koordinat 08°46’17.34″S 119°25’26.04″E areal sekitar Perairan Komodo, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar).

Terpisah, Kapolres Manggarai Barat AKBP Supiyanto kepada wartawan menjelaskan kapal tersebut adalah kapal ikan bertonase GT 04. Kapal meninggalkan Labuan Bajo sejak Selasa (17/10) untuk menjala ikan di Perairan Komodo. “Dugaan sementara, kecelakaan terjadi karena cuaca buruk dan gelombang tinggi,” kata Supiyanto.

Catatan Polres Mabar, lanjut Kapolres, kapal tersebut ditumpangi Abu Lili sebagai kapten, dan enam anggota lain yakni Samsul, Ki, Bonto, Masnun, Sala, dan Ahmad.

Kepala Kantor Basarnas Kupang I Nyoman Sidakarya juga mengakui keenam ABK KM Rajawali masih belum ditemukan. “Dalam peristiwa ini bukan hanya satu orang yang hilang, tapi enam orang yang dinyatakan hilang dan belum ditemukan. Basarnas terus berupaya melakukan pencarian terhadap enam penumpang yang masih hilang itu,” katanya.

Nyoman menegaskan kapal tersebut tengelam ketika mencari ikan di sekitar Perairan Komodo setelah dihantam gelombang laut yang sangat keras dengan ketinggian 2 hingga 2,5 meter.

Pada saat peristiwa berlangsung, menurut dia, kapal yang tercatat pemiliknya bernama Haji Amir tersebut, diduga terhempas gelombang tinggi hingga tengelam.

Tim Basarnas membutuhkan waktu selama 12 jam perjalanan ke lokasi tempat para korban dilaporkan hilang untuk mencari para korban. “Pagi ini tim Basarnas akan turun melakukan pencarian dengan fokus pencarian di lepas pantai Pulau Komodo,” kata Nyoman.

Sebelum KLM Rajawali, sudah terjadi lima kali kecelakaan yang sama. KLM Versace Jaya yang mengangkut 19 penumpang tenggelam di Perairan Pulau Padar, Kecamatan Komodo, pada Minggu (30/7) lalu.

Seminggu sebelumnya, sebuah kapal pengangkut turis asing yang hendak menuju ke kawasan Taman Nasional Komodo (TNK), Minggu (23/7) lalu, dilaporkan tenggelam setelah menabrak terumbu karang di perairan Taka Makassar, lokasi manta point areal kawasan TNK.

Sedangkan pada 8 Juli lalu, sebuah kapal pengakut turis, yakni KM Warisan Komodo, juga tenggelam di lokasi yang sama. Kapal kayu yang dinahkodai Maman Bijes itu mengangkut empat orang wisman dari Malaysia, Inggris dan Amerika dengan rute perjalanan dari Pulau Seraya Kecil menuju Pulau Padar. (mi/R-4)