Gemar Membaca Masih Jadi PR di NTT

berbagi di:
buku digital

 
Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) menegaskan, secara nasional permasalahan gemar membaca dan gerakan literasi termasuk di NTT, hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah bagi seluruh lembaga perpustakaan dan pengelola perpustakaan.

Penegasan ini disampaikan Gubernur dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo saat membuka Rakor dan evaluasi bidang perpustakaan NTT tahun 2018 di aula Go Hotel Maumere, Rabu (21/11/2018).

Hadir Kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan dan Pengkajian Gemar Membaca Perpusnas RI, Deni Kurniadi.

Menurut Gubernur, ini merupakan tantangan terbesar yang harus dihadapi bersama dengan pendekatan yang komprehensif, tidak parsial. “Mindset (pola pikir) dan culture set (budaya pikir) pemerintah dan masyarakat di daerah ini harus segera diubah; agar aktivitas membaca harus terus didorong dengan peningkatan peran dan kinerja para pengelola perpustakaan dan tenaga pustakawan,” ujarnya.
Tema Rakor “NTT Bangkit dengan Gemar Membaca” dan sub tema “Dengan Semangat Rakor dan Evaluasi Kita Dorong Transformasi Perpustakaan menuju NTT Gemar Membaca 2023″.

Menurut Gubernur VBL, tema dan sub tema ini sangatlah tepat. “Sebab budaya gemar membaca sangat ditentukan oleh kualitas layanan perpustakaan. Kualitas layanan perpustakaan yang prima akan menentukan percepatan transformasi perpustakaan di Provinsi NTT. Transformasi perpustakaan dapat dimulai dari transformasi fungsi perpustakaan, transformasi sumber daya manusia pustakawan, fasilitas perpustakaan, dan berbagai kegiatan lainnya yang dapat meningkatkan minat baca masyarakat kita,” kata Gubernur.

Mengutip data yang dipaparkan Badan Pusat Statistik (BPS) Gubernur VBL menyebutkan bahwa, masyarakat Indonesia masih belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber untuk mendapatkan informasi. “Masyarakat kita lebih memilih menonton televisi (85,9%) dan mendengarkan radio (40,3%), dan membaca (23,5%). Artinya, masyarakat Indonesia mendapatkan informasi baru dengan membaca hanya sekitar 23,5% dari total penduduk Indonesia. Karena itu, salah satu faktor rendahnya minat baca masyarakat Indonesia juga dipengaruhi oleh kurangnya peran perpustakaan dalam menyediakan informasi yang akurat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia,” kataGubernur dan menambahkan, “UU Nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan menyatakan bahwa keberadaan perpustakaan tidak dapat dipisahkan dari peradaban dan budaya umat manusia. Tinggi rendahnya peradaban dan budaya suatu bangsa dapat dilihat dari kondisi perpustakaan yang kita miliki.”

Rakor diikuti para kepala dinas perpustakaan kabupaten/kota se NTT, sekretaris, dan Kasubag PDE.

Ketua Panitia Pelaksana, Octa Grandi F Angi melaporkan, tujuan Rakor adalah untuk mengevaluasi keberhasilan program dan kegiatan di bidang perpustakaan tahun 2017 dan 2018 dalam rangka mendukung dan menyukseskan NTT Gemar Membaca tahun 2023. Selain itu, untuk menyusun rumusan program pengembangan perpustakaan dan pembudayaan kegemaran membaca di Provinsi NTT serta merumuskan peran perpustakaan dalam mendukung program gemar membaca dan gerakan literasi di Provinsi NTT.

Sedangkan sasaran Rakor, pertama, tersusunnya rumusan evaluasi keberhasilan program tahun 2018 di bidang perpustakaan dalam rangka mendukung dan menyukseskan NTT Gemar Membaca tahun 2023; kedua, tersusunnya rumusan program pengembangan perpustakaan dan pembudayaan kegemaran membaca di setiap level perpustakaan tahun 2019; dan ketiga, tersusunnya rumusan program perpustakaan dalam mendukung program gemar membaca dan gerakan literasi di NTT. (Valeri Guru, Pranata Humas pada Dinas Perpustakaan NTT).