Golkar Sumba Timur Tolak SK Pemberhentian Gideon Mbilijora dan Robert

berbagi di:
Suasana rapat lengkap DPD II Golkar Sumba Timur merespons SK Pemberhentian Sementara Gidion Mbilijora dan Robert Riwu sebagai Ketua dan Sekretaris DPD II Partai Golkar Sumba Timur, Rabu (9/1), di Sekretariat Golkar Sumba Timur.

Suasana rapat lengkap DPD II Golkar Sumba Timur merespons SK Pemberhentian Sementara Gidion Mbilijora dan Robert Riwu sebagai Ketua dan Sekretaris DPD II Partai Golkar Sumba Timur, Rabu (9/1), di Sekretariat Golkar Sumba Timur. Foto: Frangky Johannis/VN

 

Frangky Johannis

Seluruh Pengurus DPD II dan Pengurus Kecamatan Partai Golkar se-Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur menolak Surat Keputusan (SK) Pemberhentian Sementara Ketua dan Sekretaris DPD II Gidion Mbilijora dan Robert Riwu yang dilakukan Ketua DPD I Partai Golkar NTT Melki Lakalena. Keputusan itu dinilai tidak prosedural dan bertentangan dengan AD/ART.

Dalam rapatĀ  di Sekretariat DPD II Golkar Sumba Timur, Rabu (9/1), 22 pengurus kecamatan dan pengurus DPD II menilai pemberhentian tersebut merupakan tindakan yang tidak mempertimbangkan kepentingan Golkar menghadapi pileg dan pilpres April mendatang.

Wakil Ketua DPD II Golkar Sumba Timur Umbu Kaliudang menilai pemberhentian sementara tersebut merupakan bukti bahwa Melki Lakalena selaku Ketua DPD I tidak paham AD/ART Partai Golkar yang mensyaratkan pemberhentian ketua dan sekretaris harus berdasarkan usulan dari setengah tambah satu pengurus DPD II dan pengurus kecamatan.

Sebagai pengurus DPD II, ia dengan tegas menolak SK Pemberhentian Ketua dan Sekretaris tersebut. Ia juga menolak instruksi Plt Ketua dan Sekretaris DPD II yang ditunjuk oleh DPD I dan meminta forum rapat untuk mengajukan mosi tidak percaya kepada Ketua DPD I Golkar NTT Melki Lakalena.

Mantan Wakil Sekretaris Aber Teli mengatakan, pemecatan yang dilakukan Ketua DPD I tersebut menunjukkan bahwa dia tidak memahami benar konstelasi Golkar NTT umumnya dan Sumba Timur khususnya.

Menurutnya, tuduhan Ketua DPD I kepada Gidion dan Pak Robert sangat tidak berdasar karena konsolidasi terus dilakukan oleh DPD II dan jajaran pengurus kecamatan dan desa.

“Golkar di Sumba Timur paling tinggi perolehan kursi di NTT itu kenyataan yang tidak bisa dipubgkiri. Kualitas Pak GBY jauh di atas Melki Lakalena, bahkan kalau tidak meminta-minta ke Pak Gidion untuk mundur dalam pemilihan ketua dalam Musdalub lalu, Pak Melki itu tidak jadi ketua seperti sekarang,” kata Aber. (bev/ol)