Gubernur VBL: Manusia Boleh Mati, Komodo Tidak!

berbagi di:
GUbernur VBL: Manusia Boleh Mati, Komodo Tidak!

 
Pernyataan dan sikap tegas kembali diperlihatkan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) terkait pengelolaan Taman Nasional Komodo (TNK) yang dinilainya murah dan bermasalah. Melalui pesan WhatsApp kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar, VBL memberi deadline agar dalam sebulan ini ada perubahan pengelolaan TNK. Jika tidak, maka Pemprov mengambil alih pengelolaan TNK.

Gubernur VBL menyatakan itu saat berbicara pada pertemuan Evaluasi Triwulan Ketiga Polda NTT di Aston Hotel Kupang, kemarin. Hadir Kapolda NTT Irjen Raja Erisman dan jajarannya serta seluruh pejabat dari Polres-Polres di NTT.

Ia menegaskan keberadaan dan keberlangsungan hidup Komodo di habitatnya di kawasan TNK, harus dijamin dengan sistem pasokan rantai makanan yang baik. Ketiadaan makanan menyebabkan Komodo memangsa anak-anak komodo.
Komodo yang ada di Pulau Komodo dan Pulau Rinca, kata dia, adalah satu-satunya di dunia. Hewan purba itu harus dijaga dengan baik agar tidak terancam kepunahannya.

Paradigma berpikir dalam pengelolaan TNK harus diubah. Bahwa di TNK itu yang harus dijaga adalah Komodo. Kadal purba itu tidak boleh mati di habitatnya.

VBL bahkan menegaskan di TNK, manusia boleh mati tetapi Komodo tidak boleh mati. Sebab, di TNK itu yang dijaga adalah Komodo, bukan manusia.

Pengelolaan TNK yang dinilainya murah dan bermasalah saat ini, justru mengancam kelangsungan hidup populasi Komodo di habitatnya. Tidak adanya sistem pemasokan rantai makanan yang baik menyebabkan Komodo kekurangan makanan dan memangsa anaknya sendiri.

“Dia tidak ada makanan, makanya makan anaknya sendiri. Kalau ada makanan tidak mungkin. Karena rantai pasoknya tidak ada,” tegasnya.

Karena itu, VBL mengaku sudah mengirimkan pesan melalui WhatsApp ke Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar agar dalam sebulan ini segera mengatasi persoalan tersebut.

“Kenapa hari ini murah dan bermasalah, makanya anak komodo makan anaknya sendiri. Tadi pagi saya WA (WhatsApp) Menteri Kehutanan sangat keras. Saya minta dalam waktu satu bulan ini kalau tidak ada gerakan, maka saya ambil alih,” tegas mantan Ketua Fraksi NasDem DPR RI ini.

Ia menuturkan, jika Komodo mati karena kelalaian petugas atau manusia, maka perlu ada langkah hukum. Sebab, hal itu berkaitan dengan kejahatan terhadap lingkungan, yakni membiarkan Komodo mati di habitatnya.

“Jadi saya bilang Pak Kapolda, apa namanya itu penyidikan terhadap kejahatan lingkungan, membiarkan komodo punah gara-gara tidak tersedianya rantai makanan,” tegasnya.

Ia mengatakan dalam kawasan TNK tidak ada perlindungan terhadap manusia, tapi yang ada adalah perlindungan terhadap satwa Komodo. “Jadi manusia boleh mati. Animal (hewan) tidak boleh mati. Kecuali di situ tempat perlindungan manusia, sehingga tidak boleh mati. Itu tempat perlindungan Komodo. Jadi Komodo tidak boleh mati. Manusia boleh mati,” tegasnya.

Dalam diskusinya dengan perwakilan UNICEF Indonesia, Viktor mengatakan bahwa pihak UNICEF mengatakan bahwa di TNK ada perlindungan terhadap Komodo dan juga manusia. Menurut VBL, manusia justru yang menghancurkan habitat Komodo di TNK.

“Karena manusia di sana menghancurkan tempat hidupnya, lebih baik manusia mati. Manusia tidak dilindungi. Yang dilindungi di situ adalah animal (hewan). Cara berpikir seperti ini harus kita terapkan (dalam menjaga Komodo),” tegas VBL.
Polisi Pariwisata
Menurut dia, untuk menjaga pertumbuhan pariwisata di Labuan Bajo perlu dipikirkan adanya polisi pariwisata. Pengelolaan pariwisata perlu juga pendekatannya yang berbeda.

“Kita harus siapkan itu (polisi pariwisata) karena pendekatannya pasti berbeda. Apalagi kalau Pak Kapolda berkenan 80 persennya Polwan dan 20 persen polisi laki-laki. Itu tidak saya minta. Tidak harus, tapi kalau saya melihat, saya ini punya kebiasaan kalau laki-laki itu menangani masalah biasanya ada yang segan, tapi kalau perempuan yang datang pasti ada tanda-tanda kebaikan,” jelasnya.

Menurutnya pembangunan pariwisata NTT harus didesain sedemikian rupa sehingga menarik wisatawan. Jika potensi pariwisata tidak mempunyai narasi dan desain yang bagus, maka berlahan-lahan akan mati. “Kita punya keindahan hebat, potensinya luar biasa, tapi kita tidak pernah mampu mendesainnya,” kata dia.

Setiap objek pariwisata harus dinarasikan dengan bagus. Beberapa objek pariwisata sudah mempunyai narasi, tapi belum kuat dan bagus.

“Tidak pernah ada narasi yang menceritakan tentang bagaimana hebatnya Komodo ini. Harusnya dinarasikan dengan baik bahwa pada dulu keyakinan orang NTT kenapa Komodo ini bertahan, karena ada narasi bahwa ini adalah tempat bertapa dan segala macam kami menyembah macam-macam. Ini cerita walaupun sekarang kepercayaan monotheis,” katanya.

Kapolda NTT, Irjen Pol Raja Erisman mengatakan, jajaran Polda NTT mendukung penuh setiap program strategis yang disampaikan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat dan Wakil Gubernur NTT Josef A Nae Soi. Ia berharap, jajaran Polres dapat menyimak setiap materi yang disampaikan Gubernur VBL.

“Kami mengharapkan Pak Gubernur dapat menjelaskan programnya kepada seluruh jajaran Polda sehingga jajaran Polda dapat dan wajib mendukungnya demi mensejahterakan dan memajukan masyarakat dan Polda NTT,” ujar Raja Erisman dalam dialog yang dipandu Wadir Krimsus Polda NTT, AKBP Dominicus Savio Yempormase itu.

Irjen Erizman menuturkan, Polda NTT sangat mendukung apapun program Pemprov NTT. Ia berharap, jajaran di bawahnya dapat menyimak dan menyampaikan itu kepada setiap satuan kerja masing-masing.

“Untuk itu saya harap semua personel yang ada di tempat ini dapat menjabarkan dan meneruskan ke jajaran di bawah,” pungkasnya. (pol/S-1)