Hari Ini NTT Terima lagi Dua Peti Jenazah

berbagi di:
ilustrasi jenazah


Provinsi NTT baru saja menerima dua jenazah TKI yang meninggal dunia di Malaysia, Minggu (11/3). Hari ini, Selasa (13/3), dijadwalkan tiba lagi dua jenazah TKW, yakni masing-masing asal TTS dan Ende, di Bandara El Tari, Kupang.

Selain dua TKW yang direncanakan tiba hari ini di Kupang, satu lagi TKI asal NTT yang bernama Imanuel Adu Mooy, meninggal dunia di Malaysia dan jenazahnya sudah dikuburkan di Malaysia.

Dengan demikian, sejak Januari hingga 12 Maret 2018 NTT sudah menerima 14 jenazah TKI/TKW yang dikirim dari Malaysia, dari total 15 TKI/TKW asal NTT yang menemui ajal di negeri jiran itu.

Informasi mengenai rencana kedatangan dua jenazah TKW tersebut disampaikan oleh Bupati Timor Tengah Utara (TTU) Raymundus Sau Fernandes kepada VN di Bandara El Tari, Kupang, Selasa (12/3) kemarin.

Bupati Ray mengaku menerima informasi dari jaringan relawan anti human trafficking dan dari BNP2TKI Pusat. “Ada dua jenazah lagi yang tiba di NTT besok (hari ini), yakni TKW asal TTS dan satunya dari Ende,” kata Bupaty Ray yang mengaku belum mendapat informasi detail mengenai identitas kedua TKW tersebut.

Sayangnya, pihak BP3TKI Provinsi NTT yang dikonfirmasi kemarin petang hingga malam hari, enggan memberikan penjelasan. Berkali-kali dikontak maupun dikirim pesan via WhattsApp, namun tidak merespons.

Untuk diketahui, pada Minggu (11/3) sekitar pukul 02.15 Wita, dua peti jenazah yang berisi jasad seorang perempuan bernama Milka Boimau asal Desa Kotabes, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang dan satu jasad laki-laki bernama Mateus Seman asal Kampung Mbeling, Desa Gunung Liwut, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur.

Data kematian Mateus Seman yang ditulis oleh Konsulat RI Tawau, Malaysia, menyebutkan, Mateus meninggal karena Coronary Artery Thrombosis. Pria berusia 43 tahun ini meninggal pada tanggal 5 Maret 2018 di Brought In Dead To Hospital Lahad Datu Sabah.

Sedangkan Milka Boimau meninggal di Penang, Malaysia 7 Maret 2018. Informasi kematiannya baru diketahui KJRI Penang pada tanggal 8 Maret 2018. Pihak KJRI kemudian memanggil majikan Milka atas nama Khoor Choon Huat yang
beralamat di Nomor 2 Lorong Cegar 12, Taman Cegar, 14100 Simpang Ampat, Pulau Pinang, Malaysia untuk dimintai keterangan soal penyebab kematian Milka.

Milka disebut meninggal karena sesak napas. Namun saat keluarga membuka peti jenasah pada Minggu (11/3) sore, keluarga mendapati tubuh Milka mulai dari leher hingga perut penuh dengan bekas jahitan.
Dikuburkan di Malaysia
Sementara itu, satu TKI asal NTT, Imanuel Adu Mooy yang meninggal Jumat (9/3), terpaksa dikuburkan di Malaysia. jenazah almarhum Imanuel Adu Mooy dimakamkan di Malaysia, Sabtu (10/3).

Imanuel diketahui sudah berada di Malaysia selama 17 tahun dan tak pernah sekalipun pulang kampung.

Imanuel yang adalah anak dari Yulius Adu dan Damaris Adu itu bekerja di perkebunan kelapa sawit Tamaco Plantation Kimbell Light Industrial Centre di Jalan Dam 91114 Lahad Datu Sabah, Malaysia.

Informasi yang dihimpun VN, menyebutkan, Imanuel Adu Mooy mengalami kecelakaan kerja, yakni terjatuh dari pohon kelapa sawit pada Jumat (9/3). Selain terjatuh, dia juga tertimpa tandan buah sawit yang dipetiknya.

Imanuel tak sempat dilarikan ke rumah sakit karena lokasi kerjanya jauh dari pusat pelayanan medis. Perusahaan tempat dia bekerja pun tak ambil peduli dengan alasan korban tak memiliki visa kerja resmi alias TKI non prosedural. Dengan alasan serupa, pihak perusahaan tak mau mengurus proses pemulangan jenazah TKI tersebut ke NTT.
TKW Dianiaya
Sementara itu, pada bagian lain, Bupati Ray Fernandes menjelaskan dua TKW asal TTU yang saat ini sedang mengalami depresi berat dan sedang dirawat di rumah sakit di Jakarta.

“Saya akan temui jejaring relawan human trafficking di Jakarta dan juga pengacara saya yang ada di sana,” katanya.

Ray mengatakan di Jakarta ia akan mengunjungi dan menjenguk untuk melihat kondisi kedua TKW tersebut. Dia juga akan mendiskusikan kondisi para TKW yang depresi itu dengan dokter dan psikolog dan bersama pengacara Pemkab TTU membahas penanganan lanjutan dari aspek hukum.

Pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Tenaga Kerja RI dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Banten, berkaitan dengan hal-hak tenaga kerja asal TTU yang menjadi korban eksploitasi di Banten. Mereka sekitar enam tahun bekerja namun tidak diberikan upah.

“Menyangkut tanggung jawab Pemerintah Kabupaten (TTU) seperti apa, nanti kita akan kondisikan dalam pembahasan APBD perubahan,” jelasnya.

Bupati Ray juga menduga ada kekerasan seksual yang menimpa tenaga kerja asal TTU di Banten. Sebab, mereka ditempatkan di antara pekerja laki-laki.(mg-14/snc/C-1)