Himpunan Pemuda TTS Tolak Gerakan Radikalisme

berbagi di:
foto-hal-02-polhum-deklarasi-damai-tts-130319

Perhimpunan Pemuda TTS dari berbagai elemen dan unsur mendeklarasikan pelaksanaan Pemilihan Presiden dan anggota legislatif yang aman dan dami serta menolak dengan tegas gerakan-gerakan intoleransi, anti pluralisme, radikalisme, serta berbagai pemberitaan hoax di Soe, Sabtu (9/3). Foto: Mutiara Malahere/VN

 

 

Mutiara Malahere
Himpunan Kerukunan Pemuda Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur dengan tegas menolak gerakan intoleransi, anti pluralisme, radikalisme, serta berbagai pemberitaan hoaks.
Pemuda TTS sangat mendukung pemerintah dan siap menyukseskan pelaksanaan pesta demokrasi Pemilu 2019 demi Indonesia yang lebih damai, maju, adil dan sejahtera.

Pernyataan sikap Himpunan Kerukunan Pemuda Kabupaten TTS ini dibacakan Ketua Pemuda Gereja Efata Soe, Rens Benu dalam kegiatan Deklarasi Damai Sukseskan Pileg dan Pilpres 2019 di Kota So’e, akhir pekan, kemarin.
Rens mengatakan, pihaknya menyatakan sikap tegas dalam menjaga kerukunan antar umat beragama dengan saling menghormati dan menghargai antar umat beragama serta menghindari berbagai isu agama yang sangat rentan terjadi dan mengancam kerukunan.

“Kami menyadari bahwa jelang pemilu ini, berbagai isu agama sangat rentan bahkan gesekan antar agama pun sangat rawan menimbulkan perpecahan, sehingga kami semua berkomitmen untuk tetap menjaga situasi aman dan kondusif dalam pelaksanaan pemilu 2019,” kata Rens.

Pihaknya berharap agar semua elemen masyarakat dan pemangku kepentingan saling bergandengan tangan untuk bersama mewujudkan pemilu yang aman, sejuk, damai serta kondusif. Semangat kebersamaan di kalangan pemuda dan masyarakat TTS harus tetap dijaga demi Indonesia dan TTS yang damai, aman dan sejahtera.

Perwakilan Komunitas Big Bos Vicky Lay mewakili anggota komunitas sepeda motor di Kota So’e, mengatakan, walau berada dalam pilihan politik yang berbeda tapi pemuda TTS selalu memiliki sikap yang sama dalam menjaga keamanan, ketertiban maupun kenyamanan kehidupan bersama di Kota So’e.

Untuk itu, bagi kalangan pemuda Kota So’e, jelas Vicky Lay, perbedaan pilihan politik merupakan bagian dari pelaksanaan pesta demokrasi yang elegan dan bermartabat. Karena itu, upaya memecah belah kalangan muda dengan berita-berita hoaks harus dilawan dan diberangus.

Begitu pun paham-paham politik yang lebih mengedepankan anti toleransi maupun gerakan radikalisme, kata Vicky Lay tidak patut dipelihara apalagi diikuti oleh kalangan pemuda di Kota So’e. Sejatinya, para pendiri bangsa telah sepakat bahwa Indonesia berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.

“Jangan mencederai hubungan kekeluargaan dan persaudaraan kita dengan paham-paham yang diadopsi dari luar tanpa mempertimbangkan kebijakan-kebijakan lokal yang selama ini hidup dan ada bersama rakyat Indonesia maupun para pemuda di Kota So’e,” kata Vicky Lay.

Deklarasi menolak gerakan intoleransi, anti pluralisme, radikalisme, serta berbagai pemberitaan hoaks di Kota So’e, Kabupaten TTS tersebut diikuti para pemuda dari GMIT Effata, Orang Muda Katolik (OMK), Komunitas Big Boss maupun berbagai elemen pemuda di So’e.

Kegiatan yang dipusatkan di Lapangan Tenis Puspenmas diawali dengan beriringan ke titik pertemuan di Tugu Perempatan. Berjalan beriringan ini dimaknai sebagai upaya bersama walau dalam kepelbagian untuk satu menggelorakan kebersamaan dalam satu wadah pemuda TTS yang bernaung dalam lingkup Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kemudian berbagai elemen pemuda TTS tersebut sambil menyanyikan lagu Indonesia Pusaka, berjalan kaki menuju Lapangan Tenis Puspenmas. Tiba di lokasi dilakukan deklarasi menolak radikalisme dan berita hoaks serta mendukung pelaksanaan pemilihan Presiden maupun legislatif yang aman dan damai. (tia/yes/R-4)