Homestay Lokal Dukung Pariwisata NTT

berbagi di:
Kegiatan Training of Trainers (ToT) pemilik dan pengelola homestay seluruh Flores di Hotel Jayakarta Labuan Bajo. Foto: Gerasimos Satria/VN

Kegiatan Training of Trainers (ToT) pemilik dan pengelola homestay seluruh Flores di Hotel Jayakarta Labuan Bajo. Foto: Gerasimos Satria/VN

 

 

Gerasimos Satria

Puluhan pemilik homestay di wilayah Flores mengikuti pelatihan pengelolahan Homestay sejak 19-22 November di Hotel Jayakarta, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan Training of Trainers (ToT) yang dilaksanakan Kementerian Pariwisata tersebut menghadirkan pemateri profesional di bidang pengelolaan homestay.

Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Mabar, Theresia P Asmon, Rabu (21/11) menjelaskan ToT dilaksanakan untuk mendukung kegiatan pengembangan desa wisata. Pelatihan bertujuan agar

Dia mengatakan Flores merupakan daerah potensial pariwisata. Mulai dari Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat hingga Larantuka, Kabupaten Flores Timur memiliki obyek wisata yang ramai dikunjungi wisatawan mancanegara dan domestik sehingga masyarakat lokal atau masyarakat yang berada pada spot wisata harus menangkap peluang untuk membuka bisnis sektor pariwisata melalui homestay.

“Wisatawan yang datang ke Labuan Bajo begitu banyak. Jumlah kamar hotel yang ada di Labuan Bajo tidak cukup untuk menampung wisatawan. Sehingga kehadiran homestay untuk memenuhi kebutuhan pasar akan penginapan,” ujar Theresia.

Theresia mengatakan sejumlah desa di Manggarai Barat telah memiliki homestay misalnya Desa Liang Ndara, Kecamatan Mbeliling yang memiliki puluhan homestay milik warga lokal. Homestay itu banyak digunakan wisatawan yang ingin menonton atraksi budaya caci.

“Desa lain kita mulai dorong untuk jadi desa wisata seperti Desa Cunca Wulang di Kecamatan Mbeliling. Desa Cunca Wulang juga cukup ramai dikunjungi wisatawan karena memiliki obyek wisata air terjun yang sudah terkenal,” kata Theresia.

Kementerian Pariwisata, Fransiskus Handoko menjelaskan negara Spanyol sukses mengangkat pariwisata karena masyarakat Spanyol aktif membangun pariwisata. Harapannya masyarakat NTT juga mulai aktif membangun sektor pariwisata sebagai leading sektor.

Melalui Nawacita, Presiden Jokowi ingin membangun pariwisata dari pinggiran dan penataan pariwisata dari desa. Peningkatan sumber daya bagi masyarakat sangat diperlukan untuk menyambut wisatawan.

“Sambut tamu dengan baik. Jangan sampai tamu datang, pelayanan homestay tidak bagus, maka wisatawan akan kapok dan tidak akan datang lagi memilih homestay untuk menginap. Diharapkan wisatawan merasa aman, nyaman dan tenang serta berharap lama tinggal di daerah destinasi,” harap Handoko.

Terpisah, Kepala Desa Liang Ndara, Karolus Ikun mengatakan Homestay milik masyarakat Desa Liang Ndara mulai melayani tamu sejak awal tahun 2018 lalu. Rata-rata biaya penginapan setiap malam berkisar Rp 250.000. Wisatawan dapat menikmati bentangan alam Labuan Bajo dan sekitarnya dari atas puncak bukit yang ada di Indonesia. Hutan yang indah dan atraksi budaya Manggarai oleh kelompok sangar budaya menjadi suguhan rutin bagi wisatawan.

“Harapannya melalui pelatihan pengelolahan homestay secara terus menerus, masyarakak mampu beri pelayanan prima dan nyaman bagi wisatawan,” harap Karolus. (bev/ol)