Jasa Logistik Jawaban atas Fragmentasi Ekonomi NTT

berbagi di:
Frits Fanggidae

 

 
Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah satu dari sekian wilayah di Indonesia yang terfragmentasi atau terpilah-pilah dalam 1.192 pulau.
Fragmentasi inilah yang menyulut terjadinya high cost economy (ekonomi biaya tinggi) di berbagai sektor perekonomian NTT.

High cost terjadi karena aliran barang dan jasa dari produsen (pemasok) membutuhkan waktu yang lama hingga sampai kepada pengguna (konsumen) di berbagai pulau di kawasan Provinsi NTT.

“Artinya ongkos distribusi (transportasi) menjadi mahal sehingga harga jual akan tinggi dan daya beli dari pendapatan konsumen menjadi berkurang. Geliat ekonomi di daerah pun menurun,” ungkap Ekonom Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang Dr. Frits Fanggidae kepada VN, Selasa (9/10).

Menurut Dr Frits, rantai distribusi yang panjang dengan ongkos yang besar menyebabkan produsen hasil-hasil pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, serta olahan dan kerajinan UMKM di NTT tak leluasa bergerak masuk dari satu wilayah NTT ke wilayah yang lain. “Artinya jika distribusi macet, maka kegiatan produksi dan konsumsi juga akan macet. Imbasnya para produsen akan lebih melirik konsumen di luar NTT,” jelasnya.

Oleh karenanya, menurut Dr Frits, ekonomi NTT membutuhkan jasa distribusi yang mampu menjangkau seluruh wilayah NTT. “Dalam perspektif ekonomi, sangat dibutuhkan jasa yang berperan mendistribusikan atau mempercepat distribusi (aliran) barang dan jasa dari produsen (pemasok ke pengguna (konsumen) di daerah-daerah di NTT,” ungkap Dr. Frits yang juga staf ahli bidang ekonomi DPRD Provinsi NTT itu.

Baginya, jasa distribusi yang selama ini diperankan perusahaan-perusahaan jasa logistik di NTT seperti PT Pos Indonesia, CV Titipan Kilat (Tiki), PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE), PT Bhanda Ghara Reksa (pengiriman dan pergudangan), dll sebagainya menjadi sangat menentukan bagi NTT saat ini.

“Jasa logistik berkaitan dengan efisiensi biaya. Semakin lancar dan cepat distribusi ternak sapi, hasil pertanian, produk UMKM seperti bahan makanan, tenun ikat, oleh-oleh khas NTT kepada konsumen, maka biaya produksi semakin rendah (efisien),” bebernya.

Dampak ikutannya, lanjut Dr Frits, akan menjamin daya saing produk di pasar dan daya saing perusahaan dalam lingkungan bisnis. Karena itu, banyak perusahaan dan pelaku bisnis UMKM berupaya memanfaatkan jasa logistik yang tersedia untuk menciptakan efisiensi usaha yang diperlukan untuk mendongkrak produksi dan keuntungan ke seluruh wilayah NTT dan ke luar NTT.
Manfaatkan Koneksivitas
Pada bagian lain, Dr Frits mengatakan, untuk mendorong tumbuh dan berkembanya jasa logistik di NTT, maka intervensi pemerintah untuk menyiapkan infrastruktur dasar seperti pelabuhan, pergudagangan, bandar udara, konektivitas (jalan dan jembatan), kendaraan, sarana dan sistem komunikasi, menjadi sangat penting.

“Kita bersyukur karena salah satu program unggulan Pemerintah Pusat adalah mengembangkan Tol Laut. Dibangunnya pelabuhan dan sarana pergudangan yang lengkap pada wilayah seperti NTT memberi dampak positif ada percepatan aliran barang dan jasa dari luar ke NTT dan antar wilayah di dalam wilayah NTT itu sendiri,” pungkasnya.

Wakil Ketua DPRD NTT Alex Ofong menyatakan, keberadaan tiga armada kapal feri milik Pemprov NTT yang setiap hari melayari seluruh wilayah NTT, harus terintegrasi dan terkoneksi waktu tempuh atau angkut yang lebih cepat dan biaya yang lebih murah.

“Efisiensi akan mereduksi ekonomi biaya tinggi, menurunkan disparitas harga antar wilayah sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi antarwilayah di NTT,” katanya.

“Salah satu manfaat Tol Laut lewat Kapal Pengangkut Ternak KM Camara Nusantara 1, sudah dirasakan NTT. 350-500 ekor sapi dari NTT terangkut ke Jakarta setiap trip. Sebelum ada KM Camara Nusantara 1, biaya pengiriman satu ekor sapi berkisar antara Rp 1,5 juta hingga Rp 1,8 juta. Sekarang hanya Rp 330 ribu per ekor sapi,” tambahnya.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Provinsi NTT Kosmas D Lana menjelaskan pihaknya sejak pertengahan tahun lalu telah meluncurkan website www.umkmntthebat.com guna mendukung pelaku UMKM berekspansi di NTT.
Sistem aplikasi berbasis teknologi informasi tersebut khusus memasarkan produk-produk hasil UMKM di NTT ke luar NTT dan Dunia.

“Ini konsep pemberdayaan. Kami ingin seluruh hasil produk dari pelaku suaha UMKM asal NTT dapat dilihat oleh konsumen dari luar NTT dan selanjutnya terjadi transaksi pembelian,” ungkapnya.

Dalam situs tersebut, jenis-jenis makanan dan minuman, tenun khuas NTT, baju, tas, kerajinan, kerajinan tangan, aksesoris dan perhiasan khas NTT dengan mudah dipetemukan dan langsung bisa bertransaksi.

Ia juga memiliki obsesi UMKM di NTT harus mampu naik kelas yaitu dari skala mikro jadi skala kecil, lalu skala kecil jadi skala menengah.
Indikator naik kelas, yakni omzet, aset, jumlah tenaga kerja dan setiap event penjualan harus bisa tambah omzet.
Kurangi Ketergantungan
Jika merujuk dari Hasil kajian pencapaian pembangunan ekonomi Provinsi NTT yang dilakukan oleh United Nations Development Programme (UNDP) 2014 lalu, maka kontribusi sektor perdagangan dan jasa sebagai sektor utama perekonomian NTT masih akan terjadi hingga 2020 mendatang.

Struktur ekonomi Provinsi NTT sejak tahun 2012 didominasi oleh sektor perdagangan, angkutan, keuangan dan jasa dengan nilai kontribusi terhadap pendapatan domestik regional bruto (PDRB) Provinsi NTT mencapai 49 persen, disusul sektor pertanian sekitar 42 persen, dan sektor pertambangan dan penggalian, industri, listrik, gas, air, dan konstruksi sebesar sembilan persen.

Namun demikian, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Naek Tigor Sinaga meminta pelaku ekonomi untuk tidak bergantung pada aktivitas mendatangkan barang dan jasa dari luar NTT.

“Meski pertumbuhan ekonomi NTT tahun 2018 triwulan kedua 2018 maupun di sepanjang tahun 2018 masih akan bertumbuh lebih tinggi, namun di satu pihak NTT harus mengurangi ketergantungan barang dari luar,” ungkap Tigor.
Menurutnya,

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi NTT masih bisa tumbuh lebih tinggi. Akan tetapi setiap pertumbuhan yang tinggi, selalu membutuhkan barang dan jasa. Untuk itu perlu strategi mengurangi ketergantungan terhadap daerah lainnya.

“Masyarakat lebih sejahtera maka kemampuan untuk konsumsi makin tinggi maka ketergantungan terhadap daerah lainnya harus dikurangi,” katanya. (paa/E-1)