Kampung Toleransi Segera Terbangun

berbagi di:
toleransi

 

Kampung toleransi Naibobat di Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, dipastikan segera terbangun. Hal itu disebabkan persoalan pembebasan lahan sudah selesai.

“Dengan demikian, pembangunan kampung toleransi sudah bisa dilakukan tahun ini,” kata Ketua Panitia Pembangunan Kampung Toleransi Naibobat Anselmus Giaprillianto Djogo di Kupang, RAbu (30/8).

Kampung toleransi diba­ngun di lahan seluas 4,65 hektare yang di dalamnya terdapat empat rumah ibadah, yakni Kristen Protestan, Katolik, Islam, dan Hindu.

Anselmus mengatakan membangun rumah ibadah berdampingan dalam satu area diharapkan menciptakan interaksi dan menghapus sikap saling curiga antarumat ber­agama.

Menurutnya, pembangunan rumah ibadah akan menggunakan sistem gotong royong. “Kami memastikan pembangunan rumah ibadah tidak akan menemui kendala. Gotong royong mengutamakan semangat kerja sama di antara suku-suku bangsa, semangat gotong royong mementingkan perpaduan dan nilai tradisi, sa­ling menolong dan kerja sama secara sukarela.”

Dia menyebutkan seluruh tokoh agama akan berkumpul untuk membahas pembangunan kampung toleransi. “Kami sudah komunikasikan bersama sejumlah pihak seperti Pemerintah Kabupaten Kupang dan TNI,” ujarnya.

Dia berharap pembangunan kampung toleransi tidak menemui kendala sehingga bisa rampung tahun depan. Ide pembangunan kampung toleransi berlatar belakang dari lunturnya pemahaman terhadap makna yang terkandung di dalam empat konsensus dasar kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.

Itu seperti munculnya persoalan terkait dengan masalah suku, ras, agama, dan antargolongan yang berpotensi merusak tatanan berbangsa dan bernegara.

Secara terpisah, Bupati Kabupaten Tanjungjabung Timur, Provinsi Jambi, Romi Hariyanto menggandeng pemuka agama dan masyarakat bersatu menjaga persatuan bangsa dan melawan ujaran kebencian berbau SARA.

“Kita tidak mau kecolong­an. Persatuan dan kesatuan antarumat beragama di pantai timur harus terjaga dari pengaruh negatif ujaran kebencian yang banyak beredar melalui media sosial.” (PO/SL/EM/N-1)