Karnaval Budaya Semarakkan Hari Aksara Indonesia ke-53

berbagi di:
Karnaval budaya pada pembukaan peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-53 tahun 2018 di Waikabubak, Ibukota Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur kemarin.

Karnaval budaya pada pembukaan peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-53 tahun 2018 di Waikabubak, Ibukota Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur kemarin.

 
Frengky Keban

Hari Aksara Internasional (HAI) ke-53 Tingkat Provinsi NTT di Waikabubak, Ibukota Kabupaten Sumba Barat, Rabu (10/10) petang dirayakan dengan karnaval budaya kontingen dari 17 kabupaten/kota se-NTT.

Warga sekitar pun antusias memadati Stadion Manda Elu. Asisten III Setda NTT Stefanus Ratoe Oedjoe ditemani Bupati Sumba Barat, Agustinus Niga Dapawole bersama sejumlah pejabat juga larut dalam karnaval tersebut.

Bupati Sumba Barat Niga Dapawole menegaskan momen HAI ini harus dijadikan sebagai ajang silaturahmi, dan sinergitas kinerja bersama antara pemerintah, pemangku kepentingan dan masyarakat dalam upaya meminimalisir angka buta huruf di NTT.

“Kami pemerintah sangat berterima kasih kepada pemerintah provinsi atas kepercayaan menjadi tuan rumah peringatan HAI tahun ini. Butuh kerjasama dari semua pihak terutama Dinas Pendidikan dalam upaya menyukseskan kegiatan ini beberapa hari ke depannya. Kami sangat senang jika nantinya kami terpilih lagi jadi tuan rumah karena di satu sisi kami juga mau perkenalkan pariwisata di daerah kami kepada para pengunjung,” katanya.

Sementara itu, Second Secretary Australian Embassy in Jakarta, Farah Tayba mengatakan upaya meningkatkan ketrampilan literasi sangat penting bagi anak-anak. Pemerintah Australia bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan akan membantu gerakan literasi di Indonesia, khususnya di Pulau Sumba.

Karnaval budaya pada pembukaan peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-53 tahun 2018 di Waikabubak, Ibukota Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur kemarin.
Karnaval budaya pada pembukaan peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-53 tahun 2018 di Waikabubak, Ibukota Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur kemarin.

“Program rintisan inovasi di Sumba sudah berjalan beberapa tahun. Dan dari berbagai program itu dilihat ada perubahan positif di sekolah dampingan inovasi. Acara hari ini juga adalah bentuk lain dari komitmen Pemerintah Provinsi NTT dan daerah dalam mendukung program ini. Oleh karenanya kami sangat mengapresiasi kegiatan ini dan berharap memberi dampak positif bagi dunia pendidikan di NTT,” tegasnya.

Asisten III Provinsi NTT, Stefanus Ratoe Oedjoe saat membacakan sambutan Gubernur NTT menyebut momen ini harus dijadikan ajang saling memberi informasi tentang pengetahuan dan ketrampilan baik kepada sesama tutor, warga pendidikan dan penyelenggara pendidikan formal maupun non formal dalam membangun mutu dan kualitas pendidikan keaksaraan yang lebih baik di daerah ini.

“Momentum pelaksanaan HAI ini harus pula dijadikan wahana untuk terus memperkuat hubungan antarpemerintah provinsi maupun daerah, satuan pendidikan formal dan nonformal, warga pendidikan yang ada yang menjadi bagian dari ekosistem pendidikan. Dengan demikian, maka perubahan mutu dan kualitas hidup karena tahu membaca saja tetapi juga diukur warga mengembangkan kemampuan literasinya sebagai sumber pendapatannya,” katanya.

Mneurutnya, dari data yang ada jumlah buta aksara di Indonesia semakin hari semakin menurun dengan total hingga 2017 menyisakan 3 juta lebih warga yang masih buta aksara dari total penduduk di Indonesia. Sedangkan di NTT, katanya, angka buta aksara di tahun 2017 mencapai 15,5 persen.

“NTT kini berada di posisi tiga terendah secara nasional,” ungkapnya. (mg-09/D-1)