Koalisi Pilgub Semakin Jelas

berbagi di:
Ilustrasi pilkada NTT

 
Pembentukan koalisi dalam kontestasi Pilkada Gubernur (Pilgub) NTT 2018 sudah semakin jelas pasca sejumlah fakta yang dimunculkan partai-partai politik (parpol) pemilik kursi di DPRD Provinsi NTT.

Koalisi yang bakal dibangun diyakini adalah koalisi yang merujuk dari peta koalisi parpol secara nasional dan lobi-lobi para kandidat bakal calon gubernur dan wakil gubernur yang telah menemukan kata sepakat dan berujung penjadwalan deklarasi paket.

Simpul analisa tersebut dikemukakan tiga pengamat politik NTT masing-masing Rudi Rohi dari Undana, Dr Ahmad Atang dari Universitas Muhammadiyah Kupang, dan Michael Bataona dari Unika Widya Mandira Kupang yang dihubungi VN secara terpisah, Jumat (29/9).

Menurut Rudi Rohi, duet Esthon Foenay-Chris Rotok sejak jauh hari sudah dipastikan akan menggunakan perahu koalisi Gerindra dan PAN, walaupun masih ada kemungkinan mengambil satu partai kecil lagi untuk menguatkan koalisi mereka.

Sementara koalisi Partai NasDem dan Golkar akan lebih fokus pada kerja basis ketimbang membangun struktur dan poros koalisi dengan ukuran besar. “Dengan begitu maka potensi koalisi ramping dalam pilgub nanti cukup terbuka lebar,” bebernya.

Sedangkan, jika Demokrat memilih calon wakil dari birokrat, maka bisa diduga koalisinya poros Demokrat nantinya tidak akan gemuk. Meskipun tetap saja terbuka peluang untuk menambah size koalisi.

“Tinggal menunggu PDIP, apakah akan membentuk koalisi gemuk atau ramping. Kendati kemungkinan besar koalisi ini akan cenderung menjadi polarisasi residual dari sisa-sisa partai yangg tidak “diajak” masuk dalam tiga poros koalisi lain yang disebutkan di awal tadi,” jelasnya.

Dengan analisa tersebut, Rudi Rohi menyimpulkan kemungkinan akan ada empat pasangan calon dari empat koalisi yang akan bertarung dalam Pilgub NTT nanti. “Itu cukup masuk akal,” tegasnya.

 

Poros Nasional
Dr Ahmad Atang mengatakan, tren koalisi parpol menuju pilgub NTT telah terpolarisasi. Hal tersebut digambarkan dengan pertarungan antara partai pendukung Pemerintah (Pusat) dan oposisi.

“Partai pendukung pemerintah, yakni Golkar-NasDem akan berkoalisi untuk maju dengan paslon Jacki Uly-Melki Lakalena. Sedangkan PDIP kemungkinkan akan berkoalisi dengan Hanura, PKPI, dan PKB. “(Jika itu yang terjadi) Maka akan ada dua paket dari koalisi partai pendukung pemerintah,” ujarnya.

Meski demikian, kata Atang, lobi-lobi politik sedang kuat dilakukan mencari kompromi antara Golkar dan NasDem tentang siapa yang bakal menjadi cagub dan siapa yang dapat jatah cawagub. “Begitu juga antara PDIP dan partai koalisinya,” jelas Atang.

Untuk oposisi, Atang menganalisa bakal ada koalisi antara Gerindra, PAN, dan PKS untuk mengusung duet Esthon-Chris Rotok. Sedangkan Demokrat sebagai partai tengah, harus lebih keras membangun koalisi karena jika tidak, maka bisa jadi Demokrat hanya akan menjadi penonton atau tidak memiliki paket.

Karena itu, ada tiga kemungkinan. Pertama; paket yang bertarung nanti bisa hanya dua paket apabila kekuatan parpol pendukung pemerintah bersatu (PDIP, Golkar, NasDem, Hanura, PKPI, DAN PKB) untuk mendorong satu paket untuk berhadapan dengan koalisi oposisi (Gerindra, PAN, PKS, dan Demokrat). “Pemetaan seperti ini memang agak sulit terjadi, namun politik selalu saja ada kejutan,” tuturnya.

Atang menambahkan, kemungkinan kedua adalah; koalisi parpol pendukung pemerintah memunculkan dua paket yakni Golkar-NasDem serta koalisi PDIP bersama Hanura, PKB, dan PKPI. Sedangkan koalisi parpol oposisi yaitu Gerindra,
PAN dan PKS akan tetap mengusung paket (Esthon-Chris) sedangkan Demokrat kemungkinan tidak mendapatkan teman koalisi.

Kemungkinan ketiga, lanjut Atang, akan ada empat paket koalisi jika Demokrat akhirnya mendapat teman koalisi. “Tapi menurut hemat saya, konfigurasi koalisi yang paling mendekati kebenaran yakni kemungkinan kedua dan ketiga,” pungkasnya.
Demokrat Lolos
Sementara itu bagi Mikael Bataona, dengan adanya sinyal Demokrat terkait deklarasi yang akan dilakukan bulan Oktober dan calon wakil yang akan mendampingi BKH adalah politisi dan mantan birokrat, maka bisa dipastikan Demokrat akan lolos.

“Artinya, ini bisa dibaca bahwa koalisi Demokrat sudah memasuki tahap finalisasi dengan kemungkinan 90 persen menggaet figur Timor. Di mana jika dibuat tracking secara popularitas, figuritas, dan elektabilitas maka akan ditemukan sosok yang paling ideal secara politik dalam diri Wakil Gubernur NTT saat ini,” jelasnya.

Lalu koalisi berikutnya, kata Michael, adalah koalisi antara PDIP dengan Hanura atau PDIP dengan PKB. “Menurut saya, akan sulit bagi PDIP ketika memutuskan antara Kristo (Blasin) atau (Daniel) Tagu Dedo, atau Ray Fernandes.

Sebab, masing-masing mereka memiliki pendukung di internal PDIP. Dalam hal ini di internal DPD I dan juga di level DPP,” tambahnya.

Melihat situasi seperti itu, ia memperediksi PDIP kemungkinan besar akan melakukan langkah rasional dengan membuat survei pada bulan November dalam rangka melegitimasi keputusan DPP.

Kondisi tersebut juga memaksa para calon harus bekerja ekstra keras di sisa waktu beberapa minggu ke depan untuk menaikan elektabilitas.

“Jika boleh memprediksi maka jika PDIP melaunching Kristo Blasin maka potensial jika diduetkan dengan figur dari PKB atau Hanura. Sebaliknya jika Tagu Dedo yang didorong, maka bisa saja PKB yang dirangkul dengan wakil dari PKB,” bebernya.

Untuk Koalisi Golkar, jauh lebih jelas Golkar mendorong Melki Lakalena maju sebagai calon gubernur. Karena secara elektabilitas, tren kenaikan suara Melki cukup menjanjikan.

Namun ia tidak menampik bahwa dalam politik, kompromi kekuatan “mesin perang” dan akomodasi juga menjadi sangat krusial, dalam hal ini, faktor lain bisa menjadi variabel penting yang mengubah komposisi koalisi ini.

Dari utak-atik koalisi yang terbaca, Michael memprediksikan akan ada tiga koalisi lagi yang terbentuk di luar pasangan Esthon-Chris (Gerindra-PAN) sehingga bisa dipastikan akan ada empat pasangan calon di Pilgub NTT tahun depan. (mg-14/E-1)