Kolaborasi Bisnis NTT-Darwin-Dili segera Terwujud

berbagi di:
foto-hal-01-prof-kameo-edisi-071218

Staf Khusus Pemprov NTT Bidang Ekonomi Prof Daniel Kameo ketika memberikan pokok-pokok pikiran Pemprov NTT terkait rencana kerja sama trilateral kepada delegasi dari Australia dan Timor Leste, kemarin di Hotel Timor Plaza, Dili.

 
Kolaborasi bisnis tiga negara, yakni Indonesia (NTT) dengan Australia (Darwin) dan Timor Leste segera terwujud. Konsep-konsep kerja sama trilateral itu kini terus dimatangkan dan terus mengerucut pada keputusan bersama.

Demikian intisari penjelasan Prof Daniel Kameo, pemimpin delegasi NTT dalam pertemuan dengan delegasi Australia dan Timor Leste, Kamis (6/12) kemarin. Pertemuan trilateral itu berlangsung di Dili, Ibukota Negara Demokratik Timor Leste.

Dalam pertemuan tersebut, delegasi NTT dipimpin oleh Prof Kameo beranggotakan Alexander Sena (Asisten II Setda NTT) dan Toni Pitoby (Wakil Ketua Bidang Kerjasama Luar Negeri Kadin NTT).

Prof Kameo menjelaskan pertemuan kemarin bertajuk “Trilateral Business Forum” dengan tema “Fostering Economic Growth with the Private Sector”.

Pertemuan dibuka Joao Mendes Gonsalves selaku Head of Mision Unit and Representative. Hadir Dubes RI untuk Timor Leste, Sahat Sitorus.

Prof Kameo mewakili Gubernur NTT Viktor Laiskodat menjadi pembicara pada forum tersebut. Pembicara lainnya antara lain Pater Semone dari AUSAID Tourism for All, Peter Styles (Konsultan Bisnis Australia), Paulo Vieira (AUSAID Timor Leste), Tony Pitobi (Kadin NTT) dan Roberto Lay dan Alan Jale, keduanya pebisnis di Timor Leste.

Prof Kameo kepada VN, tadi malam, mengatakan, pertemuan tersebut merupakan lanjutan dari pertemuan sebelumnya yang dilakukan di Labuan Bajo (pertemuan pertama), dan di kantor Gubernur NTT (pertemuan kedua). Direncanakan pertemuan berikutnya akan dilaksanakan Februari 2019 di Darwin, Australia.

Menurutnya, Indonesia, khususnya NTT pada forum trilateral itu mengusulkan beberapa hal konkret terkait kolaborasi bisnis ketiga negara. Pertama, agar Timor Leste segera memberlakukan kebijakan bebas visa kunjungan. Kebijakan bebas visa itu harus dilakukan Timor Leste sesegera mungkin karena Indonesia sudah membebaskan visa masuk bagi Timor Leste sehingga pembebasan visa bagi warga Indonesia khususnya (NTT) harus juga dilakukan oleh Timor Leste.

Bebas visa kunjungan ini, kata dia, agar tidak menghambat mobilisasi penduduk atau wisatawan dari NTT ke Timor Leste dan sebaliknya.
Hal kedua yang diusulkan Prof Kameo adalah agar pemerintah Australia membuka kantor konsulat di Kupang untuk memudahkan pengurusan administrasi visa bagi warga NTT yang ingin berkunjung ke Australia.

“Kami juga mengusulkan kepada Timor Leste agar menyediakan berbagai infastruktur pendukung kegiatan bisnis ekspor dari NTT ke Timor Leste. Misalnya pergudangan, fasilitas pendingin untuk produk seperti ikan dan produk kelautan lainnya dan daging supaya disiapkan negara tersebut,” tutur Prof Kameo.

Hal lainnya yang diusulkan kepada Timor Leste agar Bank Central negara tersebut membantu memperlancar sistem pembayaran dengan menggunakan Letel of Credit (LC) agar mempermudah aktivitas perdagangan internasional antara Indonesia (NTT) dengan Timor Leste. Kaitan dengan itu, Indonesia juga mengusulkan kepada Timor Leste untuk mempertimbangkan dan mengurangi/menghilangkan pajak impor yang dikenakan pada barang-barang yang diekspor dari NTT ke Timor Leste.

“Sebab Timor Leste mengenakan pajak impor sebesar lima persen. Kita usulkan agar pajak impor itu bisa dikurangi atau kalau bisa dihapus hingga nol persen,” katanya.

Diusulkan pula agar antara dua negara ini membangun kantor atase perdagangan baik di Indonesia maupun di Timor Leste, sehingga sama-sama berupaya mengatasi masalah perdagangan ilegal lintas batas kedua negara.

Pada kesempatan tersebut NTT menawarkan komoditi-komoditi perdagangan seperti vanili, kakao, cengkeh, rumput laut, jambu mente dan beberapa komoditi yang bisa dibuat bubuk dan disiapkan NTT. Usulan-usulan tersebut ditanggapi secara posistif oleh peserta forum trilateral.

“Kita Indonesia juga menyampaikan bahwa kita mendukung agar secepat mungkin dibangun infrastruktur agar konektivitas antara Kupang, Dili dan Darwin segera terwujud. Baik infastruktur di udara, laut dan darat sehingga aktivitas antara ketiga negara ini bisa lebih lancar dan memudahkan pergerakan barang dan jasa. Kita sudah berkomitmen dan siap untuk meningkatkan aktivitas ekonomi antartiga negara ini yang menguntungkan bagi masyarakat bagi tiga negara,” pungkas Prof Kameo.

Sebelumnya Gbernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat menegaskan bahwa arah kebijakan perdagangan NTT lima tahun ke depan akan diarahkan ke kawasan selatan meliputi sejumlah negara seperti Timor Leste, Australia, Selandia Baru, dan negara-negara Pasifik.

Ia mengatakan, untuk hasil produksi garam, perikanan, tanaman holtikultura, daging dan hasil bumi akan difokuskan ke tiga negara sekitar NTT yaitu Timor Leste dan Darwin.

Menurut VBL, jika sebelumnya semua arus perdagangan dari Flores, Sumba, Alor, dan Timor ke Pulau Jawa atau Sulawesi, maka di masa depan akan diarahkan ke negara pasifik. “Kami akan serius membahasnya bersama Pemerintah Australia, Timor, Leste, dan Selandia Baru,” ungkapnya. (mg-01/D-1)