Korban Human Trafficking Disidangkan di PN Batam

berbagi di:
tki

Para pembantu rumah tangga yang bermasalah soal gaji saat dimediasi dengan para majikan di Mapolsek Medan Helvetia, Kota Medan, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu.

 

Polce Siga

Mardiana Sonlai (16), korban kasus perdagangan anak di bawah umur sedang menjalani proses persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Batam. Jaksa Penuntut Umum (JPU) setempat meminta ibu korban, Adriana Banoet menjadi saksi di persidangan yang digelar, Kamis (13/9).

Korban dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di Kota Batam dan diduga dieksplotasi secara ekonomi selama dua tahun sejak korban berusia 14 tahun. Saat ini sidang pada tahap pembuktian dengan terdakwa Paulus Baun dan J Rusna.

Direktris PIAR NTT Sarah Lery Mboeik kepada VN kemarin, mengatakan, pihaknya telah mengetahui informasi persidangan di PN Batam. Menurutnya, sesuai hasil yang diperolehnya pemerintah provinsi telah memfasilitasi ibu korban ke Batam.

“Kami beri apresiasi kepada gubernur NTT yang sudah merespon luar biasa terhadap perbudakan modern, di mana human trafficking perlu serius untuk menyiagakannya. Nah, sehingga kasus-kasus segera diselesaikan dan bukan sekedar penegakan hukum, tetapi juga gubernur sudah melihat dengan menyiapkan lapangan kerja dengan memberdayakan bumdes-bumdes yang ada di seluruh desa. Hari ini pak gubernur sudah merespon dengan mengirimkan ibu korban ke Batam untuk menjadi saksi dalam persidangan hari ini,” ujar Sarah.

Ia mengatakan, dalam proses persidangan JPU juga membutuhkan keterangan Agustinus Barialak, Kepala Desa Tofen, kecamatan Molu Utara, Kabupaten TTS, namun tidak bisa hadir karena sakit. Ia berharap, semua pihak terkait harus mendukung dalam upaya pemberantasan human trafficking.

“Sebenarnya proses pengadilan di sana membutuhkan keterangan dari saksi kepala desa, tapi karena kepala desa jatuh motor, jadi tidak bisa hadir. Kami harap semua pihak yang kepentingan dan punya kewenangan untuk menekan kasus human trafficking,” katanya.

 

Bayar Gaji
Sementara itu dari Kota Medan, Sumatera Utara ,dua orang pembantu rumah tangga (PRT), Jemi Lina Bana (32) asal Desa Sahraen, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang dan Linda Enggelina Tuka (37) asal Nunkurus, Desa Naibonat, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang menjadi korban TPPO bersama ratusan orang lainnya.

Wakil Ketua Paguyuban NTT di Medan Yandri Laning kepada VN, kemarin mengatakan, para korban didatangkan dari berbagai daerah di NTT dan dipekerjakan sebagai PRT tanpa diberi gaji satu rupiah pun.

“Selama bekerja korban tidak diperkenankan pegang HP dan keluar dari rumah termasuk menjalani ibadah. Penyalur di Kupang namanya Yorim Boimau, rumahnya dekat bandara Penfui, istri penyalur kerja di RSUD Naibonat,” ungkapnya.

Yeris mengatakan, sesuai pengakuan korban saat berada di Kupang penyalur diduga bekerja sama dengan oknum aparat keamanan. Menurutnya, korban direkrut melalui PT Maya Lestari di Medan Helvetia.

“Posisi korban sekarang di Mapolsek Medan Helvetia dan sedang dimediasi sama pihak Polsek Medan Helvetia untuk pembayaran gaji kedua korban,” ujarnya.

Dari hasil mediasi antara polisi dan majikan bersama paguyuban asal NTT, lanjutnya, para majikan telah bersedia membayar gaji kedua PRT. Selain gaji mereka juga menyiapkan tiket dari Medan ke Kupang. (pol/***/C-1)