Lima Korban Keracunan Masih Dirawat

berbagi di:
Sejumlah pasien korban keracunan masih menjalani perawatan medis di Posko Penanggulangan Gereja Bet'el, Desa Nule, Kecamatan Amanuban Barat, Kabupaten TTS, Selasa (8/1). Foto: Mutiara Malahere/VN

Sejumlah pasien korban keracunan masih menjalani perawatan medis di Posko Penanggulangan Gereja Bet’el, Desa Nule, Kecamatan Amanuban Barat, Kabupaten TTS, Selasa (8/1). Foto: Mutiara Malahere/VN

 

 

Mutiara Malahere

Lima dari 60 lebih korban keracunan massal akibat makan makanan saat Natal Bersama masih dalam perawatan medis. Empat orang dirawat di Posko Penanggulangan di Gereja Bet’el Nule, dan satu pasien di RSUD Soe.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten TTS, dr. Eirene Ate kepada VN di ruang kerjanya, Rabu (9/1) mengatakan pasien sudah membaik setelah mendapatkan cairan infus dan obat zinc, obat diare, dan obat antimual. Namun, masih dehidrasi (kekurangan cairan) sehingga belum diizinkan pulang.

“Setelah mendapat penanganan medis dan konsumsi obat-obatan tersebut, rasa sakit perut dan mual berkurang serta kondisi para pasien berangsur pulih, sehingga sebagian besar pasien sudah diizinkan pulang ke rumah,” jelas dia.

Ia mengatakan dugaan sementara, penyebab keracunan karena ada virus yang menyebar melalui air hingga makanan.

Berdasarkan hasil investigasi di lapangan, Tim Sanitasi menemukan di pemukiman warga setempat, jarak antara kamar mandi/WC sangat dekat dengan sumur sebagai sumber air bersih dan kebutuhan konsumsi warga.

“Tim Sanitasi menemukan letak kamar mandi/WC berjarak sangat dekat dengan sumur dengan jarak hanya sekitar 2 meter, sehingga virus dan bakteri e-coli mudah masuk ke dalam air sumur yang kemudian dipakai warga untuk kebutuhan konsumsi,” ungkap dia.

Selain sumber air, lanjut Eirene, dugaan lainnya penyebaran virus melalui makanan yang dikonsumsi saat acara syukuran Natal pada Minggu (6/1) lalu di rumah warga bernama Agusto de Araujo.

“Kami menduga virus terjangkit pada makanan yang dikonsumsi antara lain mie bihun, sayuran dan daging ayam potong. Namun kami belum dapat memastikannya sebab masih dalam kajian. Sampel masih diperiksa di Laboratorium Kesehatan Provinsi NTT dan BPOM Kupang,” ujarnya.

Pihaknya mengimbau masyarakat Kabupaten TTS agar jika mengadakan pesta atau acara adat yang mana membutuhkan makanan dalam jumlah besar, agar berkoordinasi dengan puskesmas terdekat agar dilakukan inspeksi makanan.

“Masyarakat harus memperhatikan kondisi pangan sebelum mengadakan pesta dengan cara meminta bantuan tenaga medis pada puskesmas setempat agar melakukan inspeksi makanan sebelum mengolahnya untuk konsumsi,” pintanya.

Direktur RSUD Soe, dr Ria Tahun yang dikonfirmasi terpisah, mengatakan, masih ada satu pasien korban keracunan yang dirawat di rumah sakit ini, karena kondisinya masih lemah.

Sementara itu sebanyak 19 pasien lainnya terdiri dari 5 orang dewasa dan 14 anak-anak telah diizinkan pulang karena sudah sembuh.

“Satu pasien anak dan kondisinya masih lemah akibat kekurangan banyak cairan saat mengalami keracunan, sehingga kami masih terus memantau perkembangan kesehatannya,” pungkasnya. (tia/D-1)