Lulusan UPG Ditantang tak memilih Jadi ASN

berbagi di:
Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) saat menyampaikan sambutan pada acara wisuda Perdana UPD 1945 NTT, kemarin di Aula El Tari, Kantor Gubernur NTT. Foto: Nahor Fatbanu/VN

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) saat menyampaikan sambutan pada acara wisuda Perdana UPD 1945 NTT, kemarin di Aula El Tari, Kantor Gubernur NTT. Foto: Nahor Fatbanu/VN

 

Stef Kosat

Universitas Persatuan Guru (UPG) 1945 NTT melepas 599 lulusan perdana dalam acara wisuda pada Jumat (28/9) di Aula El Tari-Kupang. Para lulusan ditantang untuk tidak menjadi sarjana penganggur yang hanya bisa memilih melamar menjadi ASN (aparatur sipil negara).

Demikian intisari penegasan Rektor UPG 1945 NTT, David R E Selan dan Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) pada acara wisuda UPD 1945 NTT, kemarin.

David menyebut para wisudawan sebagai emas murni yang telah dilebur dan ditempa oleh badai masalah yang menimpa universitas tersebut.

Ia menegaskan saat ini kita telah menuju era revolusi industri 4.0. “Karena itu, tantangan dan pertanyaan bagi kita adalah apakah kita akan maju dan menguasai teknologi informasi untuk berkompetisi dan menjadi pemenang atau sebaliknya kita akan tertinggal karena kalah dalam kompetisi,” tegasnya.

Dikatakannya bahwa pertanyaan bagi para wisudawan dan orangtua adalah setelah sarjana, akan jadi apa, dan dapat melakukan apa. Menjawab pertanyaan tersebut, dunia pendidikan tinggi tidak bisa hanya berpangku tangan dengan pola lama seperti yang telah dilakukan oleh perguruan tinggi pada umumnya. Tetapi berbagai strategi harus ditempuh, dengan mengadopsi teknologi dan mempraktikan bersama mahasiswa, dan melakukan inovasi.

Dia menyarankan kepada para lulusan UPG NTT agar tidak hanya berharap menjadi PNS tetapi harus mampu menciptakan lapangan kerja. “Cermatlah dalam membaca peluang karena pemerintah telah mengucurkan dana kredit usaha rakyat (KUR) untuk memberdayakan masyarakat,” pungkasnya.

 
Pentingnya Militansi
Sementara Gubernur VBL dalam sambutannya mengatakan para wisudawan akan masuk ke dalam pencaharian ilmu pengtahuan yang sebenarnya.

“Kalau seorang menyebut dirinya sarjana lalu ia menganggur, dapat dipastikan yang bersangkutan adalah orang yang menyelesaikan pendidikannya hanya di level administrasi belaka. Tetapi dalam konteks untuk memperoleh ilmu pengetahuan, yang bersangkutan bukan siapa-siapa,” ucapnya.

Diingatkannya bahwa manusia meski memiliki kecerdasan luar biasa, namun jika tidak memiliki militansi yang luar biasa, maka dia bukan siapa-siapa.

“Kecerdasan emosional bukan salah satu untuk menjamin manusia super, tapi apakah ada manusia yang mempunyai daya tahan akan tekanan di dalam mengemban dan menerapkan ilmu yang dimiliki di tengah masyarakat. Jadi, ciri khas manusia-manusia intelektual adalah tidak lari dari masalah, karena tidak ada manusia yang hebat tanpa penderitaan,” tegasnya.

Menurutnya, hanya manusia yang cerdas dan tangguh saja yang mampu melahirkan pikiran-pikiran hebat, dan mampu menampung bebannya dan masyarakat.

Kepada para lulusan UPG 1945, ia mengatakan bangga karena lahir 599 sarjana baru. Namun, sebagai Gubernur, VBL mengungkapkan tidak suka melihat para lulusan perguruan tinggi hanya mengandalkan jadi ASN.

Dia menantang para lulusan UPG 1945 NTT untuk memulai pengabdian mereka di tengah masyarakat. NTT memiliki lahan kering yang luar biasa, dengan matahari yang luar biasa pula, yang adalah rahmat yang harus disyukuri seluruh masyarakat NTT.

Sebab, kata dia, bicara tentang pertanian bukan bicara tentang air dan tanah, tetapi bicara tentang pertanian adalah bicara mengenai matahari.

“Sebab, di manapun di dunia ini, pasti ada tanah dan air. Sebab itu sudah ‘given’ (terberikan). Pada mereka yang cerdas, mereka tahu kapan mengumpulkan air. Tetapi tidak semua negara di dunia ini punya matahari. Banyak negara hanya punya matahari selama tiga bulan, tetapi NTT memiliki matahari selama 12 bulan penuh,” tegas Viktor.

Karena itu, dia mengingatkan para lulusan untuk memanfaatkan keunggulan NTT itu untuk mengubah hidupnya. Gubernur VBL juga menyatakan bahwa pihaknya tidak suka melihat orang NTT yang mengaku lapar karena tanah di daerahnya tidak produktif.

“Bukan tanah yang tidak produktif, melainkan manusianya yang tidak produktif. Bukan pula persoalan ketiadaan air tetapi otak dari pengelola tanah itu yang tidak benar sehingga ini menjadi catatan masyarakat dan Pemda NTT,” pungkas Gubernur VBL. (mg-19/R-4)