Medan, Neraka bagi TKW NTT (2)

berbagi di:
Tim Gugus Tugas Pencegahan dan Penganganan Human Trafficking Kabupaten Kupang dan Provinsi Sumatra Utara foto bersama di Kantor Nakertrans Sumatra Utara, Kamis (18/5).

Melacak Jejak Trafficking (2) Medan, Neraka bagi TKW NTT  

Tim melanjutkan penelusurannya ke Paroki Martubung Kota Medan. Dalam penelusuran tersebut tim bertemu dengan putra NTT yang merupakan Pastor Paroki Martubung Rm Marthin Nulle. Romo Marthin merupakan pastor yang sering menyelamatkan TKW asal NTT yang terlantar di Medan. Dalam penelusuran tersebut tim mendapati dua orang TKW yang diselamatkan Romo Marthen. Yaitu Veronika Kollo yang telah mengalami gangguan mental dan Efrasia Aso yang kemudian direkrut menjadi pekerja di Paroki Martubung. Tim kemudian memutuskan untuk membawa pulang Veronika Kolo bersama GT TPPO Kabupaten Kupang pada Minggu (19/5).

Pada kesempatan tersebut Romo Marthen Nulle mengisahkan, selama tahun 2017, ia telah menyelamatkan 11 TKW yang terlantar di Medan. 10 TKW telah dipulangkan ke NTT. Mereka berasal dari berbagai daerah di NTT mulai dari Ende, Sumba, TTS, dan TTU. Ia meminta kepada Pemprov NTT dan pemerintah kabupaten/kota di NTT untuk memperkatat pengiriman tenaga kerja keluar daerah. Pemerintah diminta bersikap tegas dalam mencegah pengiriman tenaga kerja. Bila perluh melakukan moratorium pengiriman tenaga kerja. Kepada aparat penegak hukum juga diminta untuk memperketat proses pengawasan di pelabuhan, bandara, dan semua pintu keluar dari NTT untuk memperketat pengiriman tenaga kerja ilegal.

“Rata-rata mereka yang terlantar itu tidak memiliki dokumen, mereka tidak tahu perusahaan yang merekrut,” jelasnya.

Pemerintah di NTT, kata Romo Marthen, hanya boleh mengizinkan perusahaan yang telah melatih dan mendidik calon TKW nya untuk mengirim tenaga kerja. Tetapi harus dibuktikan dengan memberikan pelatihan dan pendidikan langsung di NTT. Boleh kirim tenaga kerja, tetapi tolong harus sudah dipersiapkan dengan baik, baik dari sisi dokumen maupun kemampuan untuk bekerja. Di sini memang kebutuhan untuk tenaga kerja rumah tangga cukup tinggi, tetapi menjadi masalah ketika yang datang ini anak-anak yang tidak tahu apa-apa, menggunakan setrika saja mereka tidak tahu,” ungkapnya.  

 

 

Diancam

 

Efrasia Aso salah satu TKW asal Kabupaten Nagekeo yang ditampung di Paroki Martubung dalam testimoninya di hadapan tim GT TPPO mengatakan, dirinya direkrut salah seorang saudaranya di Kampung pada akhir tahun 2016 lalu, yang merupakan ketua RT di kampungnya. Ia kemudian diantar ke Bandara Frans Seda Maumere untuk diterbangkan ke Jakarta bersama tiga orang temannya dan di jemput ibu Juli. Dirinya sampai sekarang tidak mengetahui perusahaan yang merekrutnya.

“Dua teman saya di Jakarta sedangkan saya diterbangkan ke Medan sini, saya langsung dijemput di Bandara dan dihantar ke majikan saya,” jelasnya.

Ia bekerja selama 11 bulan bersama majikannya dari suku Cina. Selama bekerja ia tak perna menerima gaji. Ia memilih kabur dari rumah majikan karena diancam majikannya.

“Dia ancam dia bilang mau kasi susah saya, makanya saya kabur,” jelasnya.    

 

Dirikan Kantor Cabang

Pada hari berikutnya, GT TPPO mengadakan pertemuan dengan beberapa paguyuban asal NTT di Medan. Salah satu Paguyupan yang mengadakan rapat bersama tim adalah Paguyupan Flobamora dan Paguyupan Tirosa.

Banyak kisah pilu yang mereka sampaikan dalam pertemuan tersebut. Selama tahun 2016, mereka telah menyelamatkan puluhan TKW asal NTT. TKW yang malang tersebut mereka temukan di jalanan ibu kota dan di sekitar Bandara Kualanamu. TKW yang terlantar tersebut ada yang mereka pulangkan dengan merogo gocek pribadi dari orang-orang NTT yang ada di Medan dan ada pula yang dipekerjakan pada kenalan mereka yang berada di Medan.

“Kami kuat berapa, kami ini anak rantau semua, jadi kami hanya bisa pulangkan beberapa orang saja sesuai dengan kondisi keuangan kami dan ada pula yang kami bantu carikan pekerjaan,” jelas Feliks salah satu pengurus Paguyupan Flobamora Medan.

Paguyuban NTT di Medan mengaku kesulitan untuk berkoordinasi dengan Pemprov NTT. Sebab, tim dari Pemprov yang bertugas di Medan memilih untuk tinggal di Hotel serta tak pernah berkoordinasi dengan paguyuban NTT di Medan. Padahal, kata Feliks, merekalah yang tahu persis kondisi TKW NTT di Medan.

“Banyak sekali TKW kita yang bermasalah dan terlantar, sayangnya tim dari NTT yang selama ini datang itu memilih untuk tidur di hotel. Kami apresiasi dengan tim dari Kabupaten Kupang yang sangat proaktif ini,” tandasnya.

Dirinya mengusulkan agar Pemprov dan Pemda yang ada di NTT mendirikan kantor cabangnya di Medan. Kantor cabang tersebut berfungsi untuk memantau dan mengurus tenaga kerja adal NTT yang ada di sana. Selain itu, kantor cabang juga memudahkan koordinasi ketika ada tenaga kerja NTT yang berangkat ke Medan.

“Sampai saat ini kita tidak tahu berapa orang NTT yang jadi pembantu di sini. Kita tidak tahu berapa yang bermasalah dan berapa yang hilang. Kalau ada kantor cabang maka koordinasinya mudah dan kami anak-anak NTT di sini bisa bergerak kalau terjadi apa-apa,” tandasnya.

Tim GT TPPO Kabupaten Kupang mengairi kegiatannya setelah mengadakan pertemuan dengan paguyuban orang NTT di Medan. Tim memberikan pesan dan harapan agar Paguyuban asal NTT di Medan terus memantau TKW asal Kabupaten Kupang. Tim juga menjamin untuk terus berkoordinasi dengan paguyuban-paguyuban yang ada.

“Kami akan terus berkoordinasi. Kalau ada anak-anak kami dari Kabupaten Kupang yang bermasalah, tolong sampaikan ke kami supaya kami segera memfasilitasi pemulangan dan mengambil langkah sesuai aturan yang berlaku,” ungkap Sekretaris Dinas Nakertrans Kabupaten Kupang Ren Dano saat pertemuan malam terakhir, Sabtu (18/5) malam di Malole Cafe Medan.

Tim GT TPPO menunjukkan Komitmenya dengan membawa pulang TKW asal TTU yang mengalami gangguan mental Veronika Kolo. Kini Veronika Kolo telah diserahkan kepada Pemkab TTU secara resmi dari tim GT TPPO Kabupaten Kupang. Semoga ke depan tak ada lagi Veronika-Veronika lainnya yang mengalami masalah di Medan. (yance jengamal/C-1)