Medan, Neraka bagi TKW NTT

berbagi di:
Tim Gugur Tugas Human Trafficking dari Kaupaten Kupang Foto Bersama dengan TKW asal Kabupaten TTU Veronika Kollo (keempat dari kiri sedang duduk) sesaat setelah tiba di Bandara Le Tari Kupang, Minggu (21/5) malam sebelum dihantar ke LSM Rumah Perempuan Kupang.

Melacak Jejak Traffickinf (1)

 

Yance Jengamal

 

 

 

 

Kota Medan, Ibu Kota Provinsi Sumatera Utara (Sumut) merupakan salah satu dari lima kota besar di Indonesia. Kota yang terletak di ujung utara Pulau Sumatra itu sangat dekat dengan Negeri Jiran Malaysia. Hanya lima-enam jam dengan kapal laut, atau 45 menit dengan pesawat udara, sudah bisa menjangkau Kuala Lumpur, Ibu Kota Malaysia yang merupakan negara tujuan para TKI/TKW asal Indonesia, khususnya NTT.

Tak ayal, letak Medan yang sangat dekat dengan Malaysia membuat kota durian sepanjang musim itu menjadi kota transit para TKI/TKW yang mau mengadu nasib di Malaysia.

Selain sebagai kota transit para TKI/TKW, Medan yang juga merupakan gudang perusahaan Perekrut Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS/PJTKI). Juga sebagai kota tujuan para wanita (TKW) NTT yang ingin bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT).

Medan memang banyak menyajikan tawaran menggiurkan. Mulai dari gemerlapnya kehidupan malam hingga tingginya permintaan kebutuhan akan PRT dengan tawaran gaji sesuai UMP/UMR Pemprov Sumut yang mencapai Rp 2,5 juta/bulan. Namun, di balik tawaran yang menggiurkan itu, tersimpan sejuta kisa miris dan memilukan bagi para PRT yang merupakan TKW asal NTT.

Kisah-kisah miris bagi para TKW NTT terkuak saat awak VN bersama tim Gugus Tugas Penanganan dan Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang (GT-TPPO) Kabupaten Kupang, sejak Rabu (17/5) hingga Minggu (21/5) lalu mengunjungi kota itu. Tim GT-TPPO bertolak ke Medan untuk melakukan uji petik terkait masalah TKW yang menimpa banyak warga Kabupaten Kupang. Agenda khusus Tim GT-TPPO ini adalah ingin mendalami dan melacak tiga orang TKW asal Kabupaten Kupang yang bekerja di Medan yang kini hilang tanpa jejak, yaitu Anita Kase, Ursina Ola, dan Ria Natalia Jonas. Dikhawatirkan mereka telah menjadi korban human trafficking (perdagangan orang).

Tim GT-TPPO terdiri dari Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Kupang Ahkmad Syahrir Harahap, Ketua DPRD Kabupaten Kupang Yosef Lede, Sekretaris Disnakertrans Kabupaten Kupang Ren Dano, Penyidik TPPO Polres Kupang, Kabag Umum Setda Kabupaten Kupang, Asisten I Setda Kabupaten Kupang Messe Rasi Ataupah, Sekretaris Apjati NTT Yeskiel Natonis, Perwakilan dari Imigrasi Indra, Perwakilan dari Biro Humas Setda Kabupaten Kupang Beni Selan, Direktris Rumah Perempuan Libby Sinlaeloe, serta perwakilan dari media harian umum Victory News dan media online obor nusantara.

Tim menginap di Hotel Putra Mulia Jalan Gatot Subroto, Medan. Tim memulai penelusurannya dengan mengadakan pertemuan dengan Tim Gugus Tugas Human Trafficking Medan. Pertemuan berlangsung di aula kantor Dinas Nakertrans Provinsi Sumut, Kamis (18/5). Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar empat jam itu, banyak informasi yang diperoleh, di antaranya jumlah PPTKIS/PJTKI di Medan yang mencapai 58 perusahaan, serta tingginya jumlah TKI/TKW asal Sumatra Utara yang bekerja di Malaysia. Bahkan, data yang dirilis Disnakertrans setempat menunjukkan, rata-rata jumlah TKI asal Sumut yang berangkat ke Malaysia mencapai 1.000 orang per bulan. Tapi tak ada yang bermasalah.

“Mereka telah dibekali dengan pendidikan dan pelatihan-pelatihan,” jelas Kabid Binapenta Dinas Nakertrans Sumut Sevline Rosdiana Butet.

Menariknya lagi, Pemprov Sumut menerbitkan aturan yang melarang PJTKI/PPTKIS di Sumut merekrut TKI/TKW untuk dipekerjakan sebagai PRT di luar negeri. PJTKI hanya diperbolehkan mengirim TKW/TKI untuk bekerja di pabrik dan kebun kelapa sawit.

“Kalau ada yang rekrut untuk PRT, izinnya dicabut,” lanjut Rosdiana.
Maka tak mengherankan jika PJTKI/PPTKIS di Medan membuka cabangnya di NTT agar mereka bisa merekrut PRT di NTT.

 

 

Telantar

Banyak kisah dan informasi yang disampaikan dalam pertemuan hari pertama itu. Salah satu kisah miris dan memilukan yakni terkait nasib TKW asal NTT yang bekerja di Medan. Emmy Lubis dari Dinas Pemberdayaan Perempuan Pemprov Sumut mengatakan, banyak TKW asal NTT yang terlantar di Medan.

Mereka terlantar lantaran lari dari rumah majikan. TKW yang bekerja sebagai PRT tersebut ada yang diselamatkan oleh warga kota yang memiliki nurani dan adapula yang diselamatkan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Kota Medan. Rata-rata TKW tersebut buta aksara. Pihak Dinas P3A terpaksa menyerahkan TKW asal NTT yang terlantar kepara suster dan pastor yang ada di biara-biara yang di Medan.

“Karena mereka Kristen maka kami serahkan ke biarawan Katolik di Medan. Mereka kemudian dilatih dan dibina agar bisa memahami tugas-tugas mereka,” jelasnya.

Banyak di antara TKW tersebut berstatus ilegal, sehingga gaji dan hak-hak mereka tidak terpenuhi. Mereka bahkan tidak mengetahui perusahaan yang merekrutnya.

Berdasarkan informasi tersebut, tim GT TPPO memulai penelusuran langsung di lapangan. Tim memulai penelusurannya di tempat penampungan PT Maya Lestari yang merupakan salah satu perusahaan yang merekrut TKW asal NTT untuk dipekerjakan sebagai PRT, baik sebagai baby sitter, perawat jompo, dan house maid. Ternyata tak ada TKW asal NTT yang ditampung di sana.

“Tahun ini kami sudah berhenti rekrut, sambil kami menunggu dikeluarkannya surat izin perpanjangan dari Dinas Tenaga Kerja,” ungkap Fitri, staf PT Maya Lestari yang memiliki cabang di Kupang Timur, Kabupaten Kupang.

Awak VN, yang menjadi bagian dari tim GT TPPO Kabupaten Kupang tanpa sengaja terlibat perbincangan dengan seorang pedagang yang mangkal di depan ruko lantai empat lantai milik PT Maya Lestari. Pedagang itu menceritakan bahwa sehari sebelumnya, belasan orang di tampung di PT Maya Lestari.

“Kami lihat Bang, mereka baru masuk sekitar empat hari lalu. Ada belasan lah bang. Tapi tadi pagi sudah tak ada lagi bang,” ungkap pria paruh baya yang enggan namanya dikorankan itu.

Tim melanjutkan penelusurannya ke PT Sere Multi Mulia. Pimpinan perusahaan tersebut, Elviva mengakui merekrut PRT dari NTT melalui cabang perusahaannya di NTT. Sebelum dibawa ke Medan, kata dia, TKW asal NTT dilatih di Jakarta.

Sayang, pernyataan Elviva tak bisa dibuktikan karena saat itu tak ada seorang pun TKW/TKI yang ditampung di “gudangnya”. Yang jelas, Medan, bagi kebanyakan TKW, bukan lagi menjadi kota yang memenuhi harapan mereka memperbaiki ekonomi keluarga. Medan bahkan menjadi neraka. Keringat, air mata perempuan-perempuan NTT yang tercurah di Kota Melayu Deli itu tanpa hasil apa-apa. Gaji rendah, bahkan tak dibayar gaji, lalu ditelantarkan setelah diperbudak sebagai pembantu rumah tangga. (C-1/D-1)