Mengendus “Kematian-Kematian Akrab yang Terasa Asing” di Festival Tpoi Ton

berbagi di:
Sebuah instalasi dibuat oleh Felix Nesi berbentuk peti kecil menyerupai peti mayat berisi batu-batu bertabur bunga-bunga. Judul instalasi itu Pulang Kosong. Sebagai tanda banyaknya para TKI NTT yang pulang ke kampung halaman tanpa nyawa.

 

Mendatangi Festival Tpoi Ton, pengunjung akan langsung disapa dengan jejeran lukisan dan foto hasil karya para seniman yang terlibat dalam Pameran Karya Rupa 2017 ini. Selain lukisan dan foto ada juga karya instalasi yang turut dipamerkan di pelataran dalam Aula Utama Museum Provinsi NTT itu. Hasil karya para seniman ini disatukan di dalam tema besar yakni Kematian-Kematian Akrab Yang Terasa Asing.

Mando Soriano, koordinator pameran karya rupa mengatakan tema ini sengaja dipilih untuk menyentil kepekaan pengunjung tentang hal-hal yang terjadi di sekitar kita tanpa kita sadari. Misalnya kematian para pekerja migran, pembangunan yang merampas tempat bermain anak-anak, sampai soal kemiskinan dan kehilangan identitas budaya yang menggerus masyarakat kita.

pammmmm

Mando sendiri memamerkan beberapa kartun yang menggambarkan kegelisahannya mengenai situasi sosial yang belum banyak disadari banyak orang.

Dalam salah satu kartunnya berjudul “Kalau Pulang Bawa Uang” ia menggambar sosok wanita yang berlangkah di atas rangka manusia sambil menjinjing tas di tangan dan pundaknya.

pamerannnn

Pada ujung kanan pintu masuk pelataran aula, terpajang foto-foto karya Wandri, salah satu fotografer Kota Kupang. Foto-foto itu mengungkapkan kenyataan-kenyatan lain yang sering tidak disadari di balik pembangunan sebuah kota. Salah satunya adalah foto anak-anak yang sedang memanjat dan memetik daun merungga di dalam kompleks sebuah pusat perbelanjaan.

Sebuah instalasi dibuat oleh Felix Nesi berbentuk peti kecil menyerupai peti mayat berisi batu-batu bertabur bunga-bunga. Judul instalasi itu Pulang Kosong. Sebagai tanda banyaknya para TKI NTT yang pulang ke kampung halaman tanpa nyawa.

Di sudut lain ruang pameran, sebuah instalasi dibuat oleh Felix Nesi. Ada sebuah peti kecil menyerupai peti mayat berisi batu-batu bertabur bunga-bunga. Judul instalasi itu Pulang Kosong.

“Ini seperti cerita TKI-TKI yang pulang su meninggal, tapi dong pung organ dalam orang su ambel” komentar salah seorang pengunjung yang tidak ingin namanya ditulis.

Selain para seniman Kota Kupang, pameran karya rupa ini juga menghadirkan seniman dari daerah lain seperti Gus Noy (Balikpapan) dan Tayuko (Jepang). Unsur-unsur kejutan juga ditunjukkan para seniman dalam karya mereka.

Seperti lukisan berjudul “Smile with Fire” karya Efraim Pranamentara (Kupang) yang dilukis dengan arang di atas kertas.

pamerannnn

“Ini baru kaka, beta lihat keterngan baru beta tahu kalo ini lukis pake arang. Beta tahunya lukisan tu pake cat atau alat khusus, ini satu pake arang ni,” kata Agus, salah seorang pengunjung.

Masyarakat Kota Kupang dan sekitarnya yang ingin melihat lebih banyak hasil kreativitas para seniman ini, bisa langsung berkunjung ke Aula Museum Provinsi NTT. Fesival Tpoi Ton masih akan berlangsung hingga Sabtu (9/12) malam.

pam

Menurut pihak penyelenggara, masih ada pentas monolog dan teater yang akan dipentaskan pada Sabtu malam nanti, selain pemutaran film pendek dan bincang proses kreatif bersama para seniman.

Festival Tpoi Ton merupakan sebuah pesta kecil menikmati hujan yang Komunitas Pustaka Jalanan Leko Kupang di aula utama Museum NTT 8-9 Desember 2017.

Koordinator Komunitas Leko, Herman Efriyanto Tanouf mengatakan Tpoi Ton merupakan ritual adat dalam tradisi masyarakat Dawan Timor Tengah Utara (TTU) untuk menyambut hujan musim tanam (ul ton).

24796744_170653450336567_30197461512414703_n

Selain pameran seni rupa, Tanouf mengatakan Sabtu, (9/12) mala ini akan ada pementasan teater dan monolog yang melibatkan beberapa seniman panggung dan Teater Satu Timor Kupang.

Panggung teater pada malam kedua itu akan menampilkan tiga pementasan yakni, “Pencuri Periuk Tanah” (monolog) dengan pelakon Dejan Djenlau, penulis naskah dan sutradaranya adalah Abner Raya Midara: “Teror” (monolog) dengan pelakon Anggi Prischa dari naskah karya Putu Wijaya, disutradarai oleh Abdy Keraf, dan “Sandiwara Bunuh Diri” akan dipentaskan Teater Satu Timor, penulis naskah Abner Raya Midara dan disutradarai oleh Decky Seo. (bev/ol)

 

Sumber: Gusty Fahik. Foto: Ade Setiawan/Gusty Fahik