Mgr. San Silvester Minta VBL Kembalikan Pantai Pede jadi Ruang Publik

img-20190110-wa0022

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat bersama Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng Mgr. San Silvester dalam acara Sidang Pastoral Keusukupan Ruteng tentang “Pembangunan NTT”. Foto: Gerasimos Satria/VN

 

Gerasimos Satria

Administrator Apostolik keuskupan Ruteng Mgr. San Silvester meminta Gubenur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat mengembalikan Pantai Pede menjadi area publik. Ruang publik sangat dibutuhkan masyarakat di Manggarai Barat.

Permintaan itu disampaikan Mgr San Silvester di hadapan Viktor Bungtilu Laiskodat dalam acara Sidang Pastoral Keusukupan Ruteng tentang “Pembangunan NTT”, Kamis (10/1) di Aula Efata St Alosius Ruteng.

Dia mengatakan Keuskupan Ruteng mencakup Kabupten Mangarai, Manggarai Timur dan Manggarai Barat mendukung program gubernur dalam membangun NTT dari ketertinggalan dan kemiskinan. Keuskupan Ruteng melihat gubernur memiliki komitmen terhadap isu sosial.

Menurutnya, salah satu hal yang penting dalam membangun NTT adalah ruang publik. Keuskupan Ruteng tetap pada komitmennya agar Pantai Pede di Labuan Bajo Kabupaten Manggarai Barat untuk dijadikan area milik umum.

Ia berharap Gubernur NTT Viktor Bingtilu Laiskodat mengkaji kembali kontrak yang diberikan mantan Gubernur NTT pada PT.SIM.

“Pengelolahan Pantai Pede harus melibatkan masyarakat lokal dan tetap menjadi ruang publik,” ujarnya.

Ia juga meminta Viktor memprioritaskan program untuk mensejahterakan masyarakat misalnya program sektor pertanian dan pariwisata.

Menurutnya, masyarakat tidak boleh menjadi obyek dari pembangunan sektor pariwisata. Perlu ada aturan mengenai hak-hak masyarakat lokal.

Pada kesempatan itu, Mgr Silvester San juga meminta Pemerintah Provinsi NTT serius moraturium tambang di NTT dengan mencabut izin tambang.

Gubernur NTT,Viktor Bungtilu Laiskodat dihadapan sidang pastoral Keuskupan Ruteng menyampaikan terima kasih kepada keuskupan Ruteng yang mendukung program Pemerintah Provinsi Membangun NTT. Dirinya bersama Josef Nae Soi dalam membangun NTT membagi tugas. Pembagian tugas itu bertujuan agar NTT lebih cepat keluar dari kemiskinan dan daerah terisolasi.

Dia mengaku dalam membangun Sektor pariwisata, ia mendorong masyarakat lokal aktif membaca peluang. Masyarakat lokal yang berada di area lokasi obyek wisata harus membangun homestay. Sehingga dirinya tidak mengizinkan pembangunan hotel kelas Melati di NTT dengan tujuan agat usaha homestay milik masyarakat lokal berkembang. (bev/ol)