Nelayan Datangi Balai TNK

berbagi di:
Nelayan saat mendatangi Kantor Balai TNK. Foto: Gerasimos Satria/VN

Nelayan saat mendatangi Kantor Balai TNK. Foto: Gerasimos Satria/VN

 

Gerasimos Satria

Puluhan nelayan pesisir Labuan Bajo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur mendatangi Balai Taman Nasional Komodo (TNK), Rabu (5/12) siang.

Para nelayan yang tergabung dalam Kelompok Nelayan Mitra Bajo itu ingin memperjuangan nasib rekan mereka yang akan diproses hukum lantaran menangkap ikan dalam kawasan TNK.

Pantauan VN, hanya perwakilan nelayan yang diizinkan menemui pimpinan Balai TNK.

Perwakilan Nelayan, Mustafa Depa Tapa mengaku para nelayan datang untuk memperjuangkan nelayan yang akan diproses oleh Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KHLK). Para nelayan ditangkap Balai TNK Oktober dan November 2018 lalu karena dituduh menangkap ikan dalam kawasan TNK.

Dia mengatakan Balai TNK tidak pernah melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang area zonasi penangkapan ikan.

“Jika ada sosialisasi, pasti masyarakat tidak akan menangkap ikan pada zonasi yang dilarang oleh Balai TNK,” ujarnya.

Mustafa mencurigai adanya tindakan kriminal dalam proses penanganan masalah yang terjadi di Pos pelayanan Balai TNK. Dimana masyarakat atau nelayan kadang disuruh berjalan jongkok serta hasil ikan tanggapan disumbangkan untuk makanan komodo dan masyarakat sendiri yang mengantar.

“Anehnya kemungkinan ada dugaan tindakan pemukulan nelayan oleh pegawai TNK saat melakukan operasi dalam kawasan TNK,” tutur Mustafa.

Ia menjelaskan, nelayan yang diproses hukum yakni Haji Ismail dengan tujuh Anak Buah Kapal (ABK), Harianto berserta enam ABK dan Hamdan bersama tujuh ABK.

Pihak Balai TNK yang dikonfirmasi belum memberikan keterangan resmi. Pasalnya kepala Balai TNK, Budhy Kurniawan sedang menjalankan tugas luar daerah.

Penyidik Gakkum KLHK, Ambros mengatakan pihaknya telah menangkap belasan nelayan pada 30 Oktober 2018 dan 20 November 2018. Para nelayan ditangkap karena melakukan penangkapan ikan pada zonasi dengan menggunakan pukat cicin.

Sesuai aturan, masyarakat tidak boleh menangkap ikan dengan pukat cicin pada zonasi yang dilarang dalam kawasan TNK.

Dalam proses penanangan masalah itu pihaknya telah menyita alat tanggkap, sedangkan motor laut yang digunakan untuk menangkap ikan dititip sementara kepada pemilik kapal.

Usai mendatangi Balai TNK, nelayan kemudian mendatangi Polres Mabar untuk mengadukan perbuatan pihak Balai TNK yang melakukan dugaan tindakan kekerasan terhadap nelayan.