Pasien DBD di Kota Kupang Meningkat

berbagi di:
demam berdarah

 

 

Selama musim hujan, sejak November 2018 hingga Januari 2019, jumlah pasien demam berdarah dengue (DBD) yang dirawat di rumah sakit di Kota Kupang mengalami peningkatan mencapai 37 orang. 31 diantaranya dirawat di RSUD SK Lerik, enam orang di RS Kartini.

Direktur RS Kartini Kupang, dr Yudith M Kota, kepada VN, Senin (7/1), menjelaskan, apabila pasien mengalami panas dan saat pemeriksaan pertama tidak terdeteksi DBD, hasil tersebut tidak menjamin pasien tersebut tidak terkena DBD. Biasanya, pada hari ketiga pasien kembali mengalami panas dan saat itulah baru terdeteksi melalui hasil pemeriksaan darah. Bila hari kelima suhu panas mengalami penurunan secara drastis, tegasnya, pasien secepat mungkin dibawa ke tempat pelayanan kesehatan terdekat. Sebab, gejala seperti itu sangat berbahaya dimana pasien mengalami syok.

“Gejala DBD saat ini sedikit berbeda dengan biasanya. Kalau selama ini biasanya muncul bintik-bintik merah pada tubuh. Tapi saat ini tidak lagi muncul tanda-tanda seperti itu,” jelasnya.

Terpisah, Direktur RSUD SK Lerik, Mersiana Halek melalui Kepala Bidang Pelayanan, Elisabet Oja, menjelaskan, pasien DBD yang dirawat di rumah sakit itu mengalami peningkatan. Pada November 2018, jumlah pasien DBD sebanyak sembilan orang dan meningkat pada Desember menjadi 22 orang (lihat tabel).

Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang Ari Wijana melalui Kepala Bidang (Kabid) Penanggulangan dan Pengamatan Penyakit, Sri Wahyuningsih mengungkapkan, sebagai langkah pencegahan DBD, Dinkes Kota Kupang telah menyediakan abate yang dibagikan secara gratis melalui puskesmas-puskesmas. Selain itu, dilakukan pemantauan jentik-jentik nyamuk di rumah warga oleh petugas puskesmas.

Ditegaskannya bahwa kebersihan lingkungan merupakan kunci utama mencegah serangan DBD. Tumpukan sampah, kata dia, menjadi tempat bersarang jentik-jentik nyamuk.

“Seperti pada kaleng, botol, ban bekas dan lainnya. Apa bila sampah seperti itu terisi air hujan maka nyamuk akan bertelur di situ kemudian jadilah jentik-jentik nyamuk,” kata Sri Wahyuningsih kepada VN di ruang kerjanya.

Kesadaran masyarakat akan kebersihan menjadi hal yang paling utama untuk memberantas DBD. Sampah-sampah yang bisa menampung air harus dikubur untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk. Apalagi perkembangbiakan nyamuk hanya membutuhkann waktu dua minggu.

Sementara di Soe di awal 2019 ini tercatat sebanyak satu kasus DBD di Puskesmas Kie. Sedangkan pada 2018 terdata 12 kasus DBD yang ditangani Puskesmas Siso di Kecamatan Mollo Selatan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada Dinas Kesehatan Kabupaten TTS, dr Mathilda Kase, kemarin, mengatakan, TTS bukan daerah endemik penyakit DBD. 12 kasus DBD pada 2018, semuanya teratasi dengan baik dan penderitanya sembuh. Tidak ada korban jiwa. Sedangkan satu kasus DBD pada 2019, lanjut Mathilda, pihak Puskesmas Kie telah merujuk pasien DBD ke RSUD Kota Soe pada Rabu (2/1) lalu.

Dinkes TTS melalui puskesmas-puskesmas melakukan sistem kewaspadaan dini berupa pemantauan dan respon cepat saat terjadi kasus DBD.

“Petugas melakukan pemantauan berkala, baik harian maupun mingguan, pada semua fasilitas kesehatan pemerintah maupun fasilitas kesehatan swasta,” jelas dia.

Selain itu, lanjut Mathilda, pihaknya melibatkan peran aktif masyarakat melalui penyuluhuan, serta upaya menjaga kebersihan lingkungan sehingga bebas dari tempat perkembangbiakan vektor nyamuk DBD.

“Kami melakukan upaya pendekatan keluarga dengan mengutamakan upaya promotif dan preventif berupa pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui 3M plus dengan gerakan satu rumah, satu jumatik dengan memulai dari rumah tangga hingga ke tempat umum baik itu kantor, pasar, terminal, dan lainnya,” tambah Mathilda.

Upaya pencegahan lainnya dengan menaburkan bubuk abate di semua tempat penampungan air agar mencegah perkembangbiakan larvasida nyamuk DBD.

“Kami juga telah menyiagakan Tim Gerak Cepat yang siap merespon ketika terjadi peningkatan kasus penyakit dan melakukan penyelidikan epidemiologi, serta menyiagakan logistik dan perbekalan kesehatan terkait dengan pengendalian DBD,” tandasnya.

Terpisah, Direktur RSUD Kota So’e, dr Ria Tahun mengatakan, RSUD Soe telah menerima pasien DBD rujukan dari Puskesmas Kie dan pasien tersebut telah mendapatkan perawatan intensif.

“Di awal 2019 ini ada satu kasus DBD rujukan dari Puskesmas Kie. Kami sudah memberikan tindakan medis sesuai prosedur penanganan DBD,” jelas dokter Ria. ((mg-08/mg-15/tia/R-2)