Pelayaran dan Penerbangan Masih Aman

berbagi di:
Ota Welly Jenni Thalo, Kasi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Kupang.

Ota Welly Jenni Thalo, Kasi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Kupang.

 
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa potensi hujan ringan, sedang dan lebat masih akan terjadi di Provinsi NTT hingga 29 Desember nanti dengan potensi angin kencang dan tinggi gelombang mencapai 2,5 meter. Kondisi cuaca tersebut masih aman untuk aktivitas pelayaran maupun penerbangan.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Kupang, Ota Welly Jenni Thalo mengatakan itu kepada VN di ruang kerjanya, Kamis (27/12).

Ia mengatakan, pemicu hujan selama beberapa hari mendatang adalah pergerakan dan tekanan angin di wilayah NTT yang mencapai 75 knot dengan low atau titik rendah yang berada pada wilayah timur perairan NTT. Terjadinya kondensasi dalam tekanan tersebut akan dapat berdampak pada pembentukan awan cumulonimbus atau Cb yang terbawa angin kencang ke wilayah NTT dan menyebabkan hujan.

“Ada pola tekanan angin yang berpotensi menghasilkan hujan setelah pembentukan awan Cb ini. Konvergensi itu berpeluang hujan di daerah yang ada pada arah belokan angin, termasuk NTT, terutama di wilayah timur dan selatan nanti,” jelasnya.
Potensi Hujan Lebat
Ia juga menyebutkan potensi hujan lebat bisa terjadi seperti pada Jumat (22/12) lalu, dan hujan lebat ini dapat memberikan dampak signifikan di darat seperti pohon tumbang dan kerusakan lainnya.

“Ketika ada pertemuan angin atau konvergensi seperti ini nanti bisa seperti hujan tanggal 22 kemarin. Konvergensi ini bisa terjadi di wilayah Kupang, Alor, Rote, Sabu,” ujarnya.

BMKG, kata dia, juga mengimbau agar masyarakat lebih berhati-hati karena pola angin seperti ini dapat menyebabkan angin puting beliung baik sewaktu hujan maupun setelah hujan reda.

“Bisa terjadi puting beliung seperti yang sudah terjadi di Rote sekitar jam delapan pagi tadi (kemarin, 27/12). Pohon tumbang dan rumah-rumah rusak. Ada tekanan udara yang naik dari darat ke atas dimana awan sedang hujan ataupun mulai pecah, ini yang membuat pola angin menjadi puting beliung. Jadi lebih baik kita berhati-hati,” kata dia mengingatkan.

Selain angin dan hujan, BMKG memprediksi di wilayah perairan hingga tiga hari ke depan tinggi gelombang laut mencapai 2,5 meter di wilayah utara perairan Pulau Flores, wilayah barat Pulau Sumba, dan wilayah perairan Samudra Hindia. Sementara di perairan Laut Sawu akan mencapai tinggi 2 meter.

Dia menyarankan agar kapal-kapal kecil dan perahu motor nelayan lebih berhati-hati. Sedangkan kapal-kapal penumpang milik PT Pelni aman untuk berlayar dengan kondisi gelombang tersebut.

“Waspadai hujan beberapa hari ke depan karena kondensasi terbentuknya awan Cb maka ada potensi angin puting beliung terjadi. Ketika awan itu akan punah pun akan menyebabkan angin kencang di darat. Untuk gelombang beberapa hari ke depan nanti, harap agar perahu atau kapal kecil dan nelayan berhati-hati di wilayah Laut Sawu yang setinggi 2 meter. Untuk kapal Pelni gelombangnya tidak berpengaruh tetapi tetap berhati-hati,” katanya.

Ota menambahkan, selain angin dan hujan, kemungkinan langit pun akan terus mendung dikarenakan kelembaban udara yang terjadi selama proses kondensasi awan beberapa hari ke depan.

Kepala PT Pelni Cabang Kupang, Ishak Gerald yang dikonfirmasi, kemarin, menyebutkan, semua kapal Pelni yang melayani penumpang saat liburan Natal tidak mengalami kendala dan tetap beroperasi seperti biasa. Namun ia mengaku ada satu pembatalan yang terjadi, bukan pada kapal penumpang melainkan pada kapal ternak Camara 3.

“Ada peringatan gelombang tinggi dari BMKG dan KSOP Tenau. Kapal ternak kami, yakni KM Camara 3 yang seharusnya jalan tanggal 23 Desember tertunda hingga tanggal 25 kemarin baru berangkat. Untuk kapal lainnya berangkat sesuai jadwal, karena tipe kapal lain freeboard-nya tinggi,” jelas Ishak.

Terpisah, GM ASDP Cabang Kupang, Burhan mengatakan, seluruh armada feri yang dioperasikan ASDP masih beroperasi normal hingga kemarin.

“Hari ini (kemarin) pelayanan kepada pengguna jasa angkutan penyeberangan berjalan normal, dari Bolok ke Rote, Kalabahi, Aimere, Waingapu dan Larantuka,” pungkas Burhan.

Humas PT Angkasa Pura Bandara El Tari Kupang , Kadir Usman mengatakan, cuaca beberapa hari terakhir berdampak pada jarak pandang saat dilakukan pendaratan pesawat. Jarak pandang menjadi lebih pendek dari idealnya.

“Jarak pandangnya itu tidak sesuai dengan ketentuan yang ada, jadi sempat terjadi delay atau penundaan penerbangan,” ucapnya.

Jarak pandang pilot saat runaway terhadap landasan sesuai dengan ketentuan ialah 8 kilometer. Jika jarak pandang di bawah ketentuan tersebut akan membahayakan pesawat yang akan melakukan pendaratan.

“Keadaan seperti saat ini cukup dilematis karena pihak bandara harus mengikuti ketentuan yang ada berkaitan dengan operasional penerbangan. Hal ini berkaitan erat dengan keselamatan penerbangan. Kalau kita paksakan tetap terbang nanti akan terganggu dengan operasional penerbangan,” ungkapnya. (mg-06/mg-05/D-1)