Pemadaman di Kalbar dan NTT Buahkan Hasil

berbagi di:
MI/ FERDIAN ANANDA

 

Selain berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga berkonsentrasi menanggulangi hal serupa di Kalimantan Barat dan Nusa Tenggara Timur. Hasilnya, di Kalbar, jumlah titik api turun dari 126 ke 114.

“Di NTT, penurunan sudah mencapai 50%. Kementerian LHK terus berupaya mengendalikan kebakaran hutan dan lahan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana, BPBD, Polri, TNI, dan pemerintah daerah,” ujar Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar di Salatiga, Jawa Tengah, Minggu (30/7). Ia menambahkan pema-daman dan pemantauan dilakukan melalui darat, udara, dan satelit. Masyarakat juga dilibatkan.

Jika pemadaman dari darat sulit, dilakukan pengeboman air dari udara. Khusus di Kalimantan Barat, dua helikopter, yang semula disiagakan di Kalimantan Selatan sudah dikerahkan dan melakukan pemadaman lewat udara. Soal penyebab kebakaran, sampai saat ini, lanjut dia, masih diakibatkan ulah warga atau petani. Mereka membakar lahan untuk membuka lahan pertanian karena tidak memerlukan modal besar. “Secara aturan memang boleh, tapi harus diatur dan harus ada sekat-sekat untuk mengendalikan api,” tegas Menteri.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho sepakat kebakaran lahan terjadi akibat pembukaan areal pertanian di lahan gambut. “Meskipun sudah dilarang dan dilaksanakan patroli hingga ke pelosok, kenyataannya masih banyak terjadi pembakaran hutan dan lahan.”

Sampai kemarin, lanjut dia, titik api di Kalbar tersebar di Sintang, Kapuas Hulu, Sanggau, Landak, Melawi, Bengkayang, Sekadau, dan Ketapang. Koordinator Manggala Agni Kalimantan Barat Sahat Irawan Manik mengatakan strategi ­utama dalam penanggulangan kebakaran hutan dan lahan ialah patroli untuk pencegahan dini, juga sosialisasi kepada masyarakat.

Asap berkurang
Di Aceh Barat, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf langsung mendatangi lokasi kebakaran di Gampong Suak Raya, Kecamatan Johan Pahlawan. Sebelumnya, dengan pesawat miliknya, ia melakukan pantauan bekas areal kebakaran seluas 79 hektare itu. “Saya lihat masih ada sejumlah titik yang mengeluarkan asap. Jumlahnya memang sudah jauh berkurang,” jelas Irwandi.

Ia menegaskan Pemprov Aceh melarang pemanfaatan lahan gambut jadi kawasan perkebunan. Apalagi proses pembersihan lahan dilakukan dengan cara membakar. Ia yakin api di lokasi itu tidak terpantik sendiri. “Jelas ada pembakarnya. Karena itu, saya mendesak kepolisian menangkap pelaku dan aktor di balik kejadian ini.”

Dari Bangka Belitung, Gubernur Erzaldi Rosman Djohan meminta warganya berkebun, tapi tidak membuka lahan dengan cara membakar. “Saat ini, titik panas mulai muncul di Bangka. Karena itu, petani diimbau jangan membakar lahan dan warga jangan sembarangan membuang puntung rokok,” tandasnya. (AR/FD/RF/LN/WJ/BB/YK/N-2)

 

Sumber: Media Indonesia