Penenun Berharap Festival Tenun Ikat Sumba Terus Berlanjut

berbagi di:
Rambu Ana (kanan), pemilik Rambu Ciko Art Shop, bersama dua rekannya foto bersama di antara hasil karyanya yang dipamerkan di arena Festival Tenun Ikat Sumba di Lapangan Pahlawan, Jumat (13/7). Foto: Frangky Johannis/VN

Rambu Ana (kanan), pemilik Rambu Ciko Art Shop, bersama dua rekannya foto bersama di antara hasil karyanya yang dipamerkan di arena Festival Tenun Ikat Sumba di Lapangan Pahlawan, Jumat (13/7). Foto: Frangky Johannis/VN
Frangky Johannis

Sejumlah pengrajin, pemilik art galery, dan penjual asosoris Sumba mengharapkan event Parade 1001 Kuda Sandelwood dan Festival Tenun Ikat Sumba terus dilaksanakan setiap tahun karena dengan pelaksanaan evet seperti ini banyak keuntungan yang mereka peroleh.

Adriana Mbelu Ana Jawa yang disapa Rambu Ana, pemilik Rambu Ciko Art Shop kepada VN membuka rahasia dapurnya bahwa di hari pertama pelaksanaan Festival Tenun Ikat Sumba di Lapangan Pahlawan, Kamis (12/7), dirinya meraih omzet penjualan sebesar Rp 70 juta lebih.

Menurutnya, walau jumlah tersebut jika dibanding dengan menjual di art shop miliknya di Kalu, Kelurahan Prailiu, Kecamatan Kambera, pada saat kedatangan tamu dari luar daerah, namun untuk memacu semangat para perajin tenun ikat Sumba Timur untuk terus menekuni bidang usaha tenunan, maka pemerintah perlu menggelar kegiatan ini setiap tahun.

“Selain memproduksi tenun ikat sendiri, saya juga menampung hasil karya perajin yang berskala rumah tangga, sehingga ajang seperti ini perlu dipertahankan keberlanjutannya, agar seluruh perajin bisa merasakan nilai tambah dari festival semacam ini,” katanya.

Menurutnya, omzet penjualan kemarin tersebut diperoleh dari penjualan tenun ikat yang dibanderol Rp 1 juta hingga Rp 10 juta, beserta asesoris lainnya.
Pembeli terbanyak adalah tamu dari luar Sumba, seperti dari Jakarta, Bali, Kupang, dan beberapa wilayah lainnya.

Penjual kain tenun dan asesioris Sumba lainnya, Elisabeth Kahi Oy mengaku meraup keuntungan hingga lebih dari 2 juta rupiah dari menjual tenunan dan asesoris Sumba di hari pertama pameran .

Menurutnya, asesoris Sumba yang dijualnya berupa asesioris muti-muti, ana hida, mamuli, tongal, dan gelang kulit penyu (kea).

“Kemarin memang banyak pengunjung sehingga saya bisa meraih keuntunganRp 2 juta lebih. Kalu hari ini agak sepi dan saya belum hitung hasilnya,” kata Elisabeth.

Latip Haji Weru, salah seorang pedagang asesioris Sumba lainnya mengaku meraup keuntungan dari menjual muti-muti, ana hida, parang, mamuli, gelang kea, dan hiasan dinding rumah mencapai Rp 400 ribu.

Ia bersyukur dengan adanya kegiatan festival tenun ikat ini.

Agustina L Ata Ambu (62), perajin tenun ikat asal Kelurahan Watumbaka, Kecamatan Pandawai yang ditemui di arena pameran mengatakan, dirinya berharap Pemerintah Pusat, Provinsi NTT, dan Pemkab Sumba Timur tetap berkomitmen melaksanakan festival ini setiap tahun.

Menurutnya, untuk menghasilkan selembar kain tenun ikat yang berukuran sedang, dirinya harus menghabiskan waktu paling sedikit enam bulan dan yang berukuran besar bisa sampai satu tahun.

Selain itu, kata dia, pewarnaannya menggunakan bahan non kimia antara lain akar nila untuk warna biru, akar mengkudu untuk warna merah, dan akar kemiri untuk penyerap warna. Sehingga, jika setiap tahun digelar, maka dirinya bisa menjual dua atau tiga lembar kain tenun dengan harga Rp 1 juta sampai Rp 3 juta sebagai penghasilannya.

“Kalau tidak ada pameran sperti ini, harga kain berkisar hanya Rp 450 ribu hingga Rp 750 ribu saja. Jadi saya berharap festival ini ada setiap tahun, sehingga hasil kerja kami bisa dibeli tamu dengan harga yang lebih mahal,” katanya. (bev/ol)