Pengungsi Gempa Lembata Mencapai 2.172 Jiwa

berbagi di:
ParaPara pengungsi yang ditempatkan di lokasi penampungan Rujab Bupati Lembata sedang menjalani pemeriksaan kesehatan dari tim medis RSUD Lewoleba. Foto: Hiero Bokilia pengungsi menempati tenda pengungsian dan ebang yang ada di halamab Rujab Bupati Lembata menyusul gempa yang kembali terjadi, Rabu (11/10) pagi tadi. Foto: Hiero Bokilia

Para pengungsi yang ditempatkan di lokasi penampungan Rujab Bupati Lembata. Foto: Hiero Bokilia

 

Hiero Bokilia

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lembata Rolly Betekeneng kepada VN, Kamis (12/10) mengatakan jumlah pengungsi akibat gempa selama dua hari terkahir di Lembata mencapai 2.172 jiwa. Laki-laki sebanyak 970 orang dan perempuan 1.202 orang. Pengungsi yang tinggal sementara di penampungan Rujab Bupati Lembata sebanyak 429 sedangkan 1.743 pengungsi lainnya telah dijemput oleh keluarga dan bergabung bersama keluarga masing-masing di Lewoleba.

Delapan desa tersebut yang sebagian besar warganya telah mengungsi yakni Desa Napasabok, Lamagute, Waimatan, Jontona, Lamawolo, Lamatokan, Bungamuda, Lamawara, dan Aulesa.

Betekeneng menjelaskan dari delapan desa, hanya tiga desa yang seluruh warganya  mengungsi yakni Desa Napasabok, Lamagute, dan Waimatan. Sedangkan masih ada penduduk di lima desa lain yang memilih bertahan.

Ia mengatakan meski meski tidak semua pengungsi menempati tempat yang disediakan pemerintah namun pendistribusian bantuan  selalu dibagi merata ke semua pengungsi. Warga yang tinggal di luar tenda pengungsian, bantuan disalurkan melalui kepala desa masing-masing.

“Kita sudah koordinasi dengan kepala desa dan bantuan didrop ke satu titik baru kepala desa yang bagikan ke warganya,” jelas Betekeneng.

Bantuan juga diberikan kepada warga pengungsi yang mengungsi di tiga titik di Ile Ape yakni Desa Riang Bao di Dusun Waisesa dan Dusun Kalabahi di Desa Waowala, serta penampungan Parek Walang di Tanjung.

Ia menambahkan untuk sementara upaya evakuasi dihentikan. Selain karena tingkat kegempaan yang mulai menurun, juga karena belum ada permintaan evakuasi dari warga di Ile Ape.

Kepala Dinas Sosial PMD Aloysius Buto menjelaskan, saat ini bantuan dari pihak luar baik perorangan maupun kelompok masyarakat, PNS, para pengusaha, maupun perbankan mulai berdatangan. Bantuan-bantuan tersebut sangat membantu pemerintah memenuhi kebutuhan para pengungsi mengingat kemampuan pemerintah yang terbatas. Apalagi evakuasi dilakukan secara mandiri.

“Tapi karena sudah mengungsi maka kita harus penuhi kebutuhan para pengungsi,” kata Buto.

Bantuan yang telah diterima berupa bahan makanan seperti beras, ikan, mie instan, dan air mineral. Bank NTT pun telah  menyalurkan bantuan dan membantu membuka rekening peduli bencana. Pihaknya juga mengharapkan bantuan selimut dan keperluan mandi bagi para pengungsi.

Ia mengakui, walau bantuan yang masuk belum terlalu banyak, namun kebutuhan para pengungsi masih bisa terpenuhi.