Penumpang Lion Air Keberatan

berbagi di:
094380800_1463374922-pesawat-lion-air-a330-300

 

Para pengguna jasa Lion Air dan Wings Air sudah menyatakan keberatan dengan kebijakan bagasi berbayar yang diberlakukan maskapai penerbangan tersebut.

Eka (22), mahasiswi yang akan berangkat ke Surabaya, Jawa Timur yang ditemui di Bandara El Tari Kupang, Rabu (9/1) lalu, mengaku bingung jika dua maskapai penerbangan itu merealisasikan kebijakan bagasi berbayar.

“Biasanya kan kami tidak perlu bayar bagasi lagi, kecuali membawa lebih dari 20 kilogram. Tetapi kalau rencana itu benar-benar terealisasi maka kami harus mengeluarkan uang lagi,” katanya.
Belum lagi, kata dia, untuk wilayah NTT banyak masyarakat mengandalkan maskapai Wings Air saat bepergian dari satu kabupaten ke kabupaten yang lain.

Apalagi, kata dia, tradisi masyarakat NTT yang sering bepergiaan saat libur dan kembali dengan membawa banyak bawaan tentu harus berpikir panjang.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Wens, warga asal Kabupaten Sikka yang hendak terbang ke Maumere dari Kupang.

Menurutnya, Lion Air harusnya terlebih dahulu memperbaiki sistem pelayanan yang selama ini selalu dikeluhkan konsumen.

“Masa yang dilakukan adalah menghapus pengangkutan bagasi cuma-cuma. Seharusnya yang dilakukan adalah memperbaiki sistem pelayanannya,” kata dia.

Ia mengatakan jika Lion Air Group ingin memberlakukan sistem tersebut, maka harga tiket juga harus diturunkan sehingga tak memberatkan konsumen. “Kami hanya bisa berharap agar kebijakan bagasi berbayar itu dapat ditinjau dan dikaji lagi oleh Lion Air Group,” ujarnya.

Sebelumnya Menteri Perhubungan Budi Karya memperbolehkan maskapai Lion Air Group khususnya pesawat Lion Air dan Wings Air untuk mengenakan biaya bagasi kepada penumpangnya.
Pengenaan biaya, kata Budi Karya, bisa berlaku setelah sosialisasi selama dua minggu sejak Selasa (8/1) kemarin dan mulai diberlakukan pada 22 Januari 2019. (mic/R-4)