Penutupan Komodo tak Berpengaruh bagi PAD

berbagi di:
foto-hal-01-cover-280119-agustinus-kadispar-mabar

Kepala Dinas Pariwista Kabupaten Mabar Agustinus Rinus.

 
Gerasimos Satria

Meskipun Pulau Komodo dalam kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) diwacanakan ditutup tahun 2020 mendatang, tidak berdampak pada pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Manggarai Barat (Mabar). Sebab, di kawasan TNK maupun di luar TNK, masih banyak objek wisata lain yang tetap bisa mendatangkan PAD dari sektor pariwisata.

“Karena itu, PAD Kabupaten Mabar tahun ini ditargetkan meningkat. Dengan data kunjungan wisatawan sepanjang 2018, Dinas Pariwisata Mabar mematok target PAD sebesar Rp 20 miliar tahun ini,” kata Kepala Dinas Pariwista Kabupaten Mabar Agustinus Rinus, Kamis (7/2) siang.

Dia mengatakan, kunjungan wisatawan ke Labuan Bajo dan TNK sepanjang 2018 meningkat mencapai 157.816 wisatawan dengan realisasi PAD mencapai Rp 8 miliar Lebih.

“Kalau penutupan hanya Pulau Komodo, saya pikir dampaknya untuk PAD tidak terlalu signifikan karena masih ada destinasi Pulau Rinca, Padar dan spot-spot diving di TNK dan destinasi di luar TNK seperti Cunca Wulang, Batu Cermin, dan Gua Rangko,” ujar Agustinus.

Wisatawan mancanegara yang berkunjung di Mabar sepanjang 2018 lalu berjumlah 88.764 orang, wisatawan nusantara 66.633 orang, dan wisatawan lokal 2.119 orang.
Bahkan untuk Tahun Anggaran (TA) 2019, pihaknya menargetkan peningkatan kunjungan wisatawan dengan target PAD dari sektor pariwisata sebesar Rp 20 miliar. Untuk mencapai target itu, dia meminta dukungan dari pihak-pihak terkait seperti HPI, Asita, dan DPRD Mabar.

Selain itu, lanjut dia, penataan obyek wisata di Labuan Bajo akan terus dilakukan. Pihaknya terus berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) setempat untuk perbaikan infrastruktur jalan raya ke objek-objek wisata yang ada di daerah itu.

“Rata-rata wisatawan yang ke TNK pasti akan berkunjung ke obyek wisata di Labuan Bajo dan daerah sekitarnya. Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan dipastikan akan meningkat pendapatan ekonomi masyarakat di sekitar objek-objek wisata yang ada,” jelasnya.

Sayangnya, penjelasan Agustinus Rinus terkait kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara ke Labuan Bajo masih berubah-ubah. Sebelum kepada wartawan di Labuan Bajo Rabu, 23 Januari 2019 seperti dilansir kupangtribunnews.com,

Agustinus menjelaskan untuk tahun 2016 lalu, jumlah kunjungan Wisatawan Manca Negara atau Wisman sebanyak 54. 335 orang. Wisatawan Nusantara atau Wisnus sebanyak 29.377 orang. Sedangkan wisatawan lokal tidak ada. Sehingga total kunjungannya sebanyak 83. 712 orang wisatawan.

Pada tahun 2017 jumlah kunjungan meningkat. Terdiri dari Wisman 66.601 orang atau naik 18,42% dari tahun 2016; Wisnus 43.556 orang atau naik 32,55%; wisatawan lokal 1.592 orang atau naik 100%. Dengan demikian total kunjungan sebanyak 111.749 orang wisatawan. Sedangkan di tahun 2018, Wisman 80.683 orang atau naik 17,45% dari tahun 2017; Wisnus 49.987 orang atau naik 12,87%; wisatawan lokal 2.196 orang. Sehingga total jumlah kunjungannya sebanyak 163.807 orang wisatawan. Diperkirakan pada tahun 2019 ini jumlah total kunjungan wisatawan akan naik signifikan.

 

Buka-bukaan
Sementara itu, Kementerian LHK akhirnya buka-bukaan terkait pendapatan dari pengelolaan Badan Taman Nasional Komodo (TNK). Dalam siaran pers yang diterima detikTravel, pihaknya melansir pendapatan TNK selama setahun. Hitungan ini pun dilakukan dengan tolak ukur harga tarif biasa untuk masuk ke TN Komodo.

“Dengan tiket masuk wisatawan mancanegara sebesar Rp 150.000 dan wisatawan Nusantara sebesar Rp 5.000, berdasarkan PP No 12 tahun 2014 tentang Penerimaaan Negara Bukan Pajak (PNBP), maka penerimaan pungutan yang disetor oleh

Balai TN Komodo kepada kas negara adalah: tahun 2014 (Rp 5,4 miliar), tahun 2015 (Rp 19,20 miliar), tahun 2016 (Rp 22,80 miliar), tahun 2017 (Rp 29,10 miliar), dan tahun 2018 (Rp 33,16 miliar),” demikian pernyataan KLHK.

“Selain Komodo sebagai salah satu daya tarik pengunjung yang sebagian besar merupakan wisatawan mancanegara, saat ini terdapat 42 diving and snorkeling spot yang juga menjadi daya tarik kunjungan. Tren jumlah pengunjung terus meningkat, pada tahun 2014 (80.626 orang), tahun 2015 (95.410 orang), tahun 2016 (107.711 orang), tahun 2017 (125.069 orang) dan tahun 2018 (159.217 orang),” begitu bunyi pernyataan resmi KLHK. (mg-17/dtc/R-2)