Penyidik Akan Periksa Tiga Oknum Pemerasan Kades

berbagi di:
foto-hal-01-iptu-jamari-polres-tts-280119

 

Kasat Reskrim Polres TTS Iptu Jamari

 

 

Mutiara Malahere

Setelah laporan dugaan pemerasan yang dilakukan tiga oknum mengaku wartawan online Info NTT, penyidik Satreskrim Polres TTS melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi pelapor diantaranya Kepala Desa Taebone Andreas Tiup Bessi, Kepala Desa Kiki Nikodemus Bety dan Bendahara Taebone plonia Nabuasa.

“Penyidik telah memeriksa dua kepala desa yang menjadi korban dugaan pemerasan serta saksi bendahara Taebone, dan pemeriksaan itu telah dilakukan pasca para korban membuat laporan resmi pada Minggu (3/2) petang,” ungkap Kasat Reskrim Polres TTS Iptu Jamari kepada VN, Kamis (7/2).

Penyidik sudah mengambil BAP dari para korban dan saksi dari pihak pelapor. Selanjutnya, penyidik akan jadwalkan pemanggilan pemeriksaan terhadap ketiga oknum pelaku pemerasan

Terpisah, Kepala Desa Taebone Andreas Tiup Besi mengaku ia menjadi korban pemerasan oleh oknum bernama Sandy Lete, yang mengaku wartawan dari Info NTT. Sandy datang ke kantor desa 22 Januari 2019 lalu bersama salah satu temannya untuk menanyakan realisasi pembangunan fisik yang mengalami keterlambatan dan meminta uang sebesar Rp 20 juta.

“Mereka datang ke kantor desa untuk tanya pembangunan fisik desa yang mengalami keterlambatan fisik dan menuding saya telah melanggar aturan serta mengancam akan memenjarakan saya, oknum Sandi Lete juga meminta uang Rp 100 juta, namun saya tidak memiliki uang sebanyak itu sehingga permintaannya pun diturunkan menjadi Rp 50 juta, dan saya tetap menolaknya karena tidak punya uang sehingga dirinya minta uang Rp 20 juta,” ungkap Andreas.

Kedua oknum juga sempat pergi ke rumah Kades Taebone untuk membicarakan permasalahan ini, dan setelah bersepakat, tiga oknum bersama Kades kembali ke kantor desa dan melakukan transaksi uang sebanyak Rp 20 juta dari kas BUMDes.

“Transaksi uang sebanyak Rp 20 juta bersumber dari BUMDes tanpa kwitansi, namun ada saksi antara istri saya Yance Sone, keponakan saya Gerson Atiup Besi, saudara saya Habel Atiup Besi, serta Bendahara Desa Taebone Aplonia Nabuasa dan suaminya Oktafianus Tlaan,” jelas Andreas.

Setelah mendapatkan uang Rp 20 juta, lanjut Andreas, oknum Sandi Lete dan oknum lainnya meminta agar tidak menyampaikan hal tersebut kepada siapapun karena uang itu akan diberikan kepada Kepala BPKP.

“Mereka datang kepada saya mengaku sebagai wartawan karena memakai baju yang bertuliskan pers, serta mengatakan bahwa uang tersebut akan mereka berikan kepada Kepala BPKP,” ujar Andreas.

Informasi lain menyebutkan aksi pemerasan terhadap Kades Kiki Nikodemus Beti terjadi pada 25 Januari 2019 pada pukul 11.00 Wita, tiga oknum pelaku pemerasan bernama Sandy Lete, Cs datang ke Kantor Desa Kiki dengan modus serupa.

Oknum Sandy Lete menanyakan kepada Kades Kiki terkait pekerjaan fisik tahun 2017 namun masih dalam tahap pekerjaan dan belum selesai serta LPj yang telah tuntas, sehingga Sandy Lete kemudian mengancam akan memenjarakan sang kades.

Merasa korban sudah takluk, kemudian Sandy Lete bersama kedua temannya meminta uang sebesar Rp 50 juta agar tidak mempublikasikan kasus tersebut.

Kades Kiki yang merasa ketakutan dan terancam pun memberi tawaran uang sebesar Rp 10 juta, namun Sandy Lete menolak mentah sehingga kades pun menaikkan tawaran menjadi Rp 15 juta akan tetapi Sandy Lete tetap saja menolaknya.

Akhirnya sang kades pun menaikkan tawaran menjadi Rp 20 juta sehingga Sandy Lete, Cs. pun langsung menyetujuinya sehingga langsung melakukan transaksi di kantor desa tersebut. Lebih memalukan lagi, sebelum bertolak dari kantor Desa Kiki, Sandi Lete, Cs. juga meminta uang sebesar Rp 500 ribu untuk biaya transportasi. (tia/R-4)